Blog Tribunners
Gara-gara Ini TKI Selalu Alami Masalah di Luar Negeri
Pernahkah kita berfikir untuk menyuarakan kepada pemerintah agar pendidikan terhadap calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan bekerja di luar nege
Penulis:
Imam Syafii
Dok. SPILN
Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri saat menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung BNP2TKI menuntut perlindungan TKI secara maksimal
TRIBUNNERS - Data penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri pada periode 1 Januari hingga 31 Desember 2015, berdasarkan tingkat pendidikan yang di kelola oleh Puslitfo BNP2TKI tercatat sebanyak 2 5,736.
Urutan pertama 39 persen atau 1 8,724 dari total tersebut berlatarbelakang pendidikan lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), kemudian urutan kedua 9 ,393 atau 33 persen dari lulusan Sekolah Dasar (SD).
Urutan ketiga 7 ,309 atau 25 persen dari lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), keempat lulusan Sarjana 4 685, kelima Diploma 1 594, dan keenam Pasca Sarjana 3.
Pernahkah kita berfikir untuk menyuarakan kepada pemerintah agar pendidikan terhadap calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan bekerja di luar negeri perlu diberikan sejak dini?
Pernahkah kita berfikir untuk menyuarakan kepada pemerintah agar pendidikan terhadap calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan bekerja di luar negeri perlu diberikan sejak dini?
Berdasarkan penjelasan data penempatan tersebut di atas, bahwa TKI berpendidikan SLTP dan SD yang mendominasi.
Banyaknya permasalahan yang menimpa TKI selama ini cukup beragam, dari mulai gaji yang tidak dibayar, overstay, ingin dipulangkan, gagal berangkat, putus hubungan komunikasi, tindak kekerasan dari majikan, pekerjaan tidak sesuai dengan perjanjian kerja, dan tidak dipulangkan meski kontrak kerja sudah selesai.
Ragam permasalahan TKI disebabkan banyak faktor, salah satunya tentang pendidikan.
Banyaknya permasalahan yang menimpa TKI selama ini cukup beragam, dari mulai gaji yang tidak dibayar, overstay, ingin dipulangkan, gagal berangkat, putus hubungan komunikasi, tindak kekerasan dari majikan, pekerjaan tidak sesuai dengan perjanjian kerja, dan tidak dipulangkan meski kontrak kerja sudah selesai.
Ragam permasalahan TKI disebabkan banyak faktor, salah satunya tentang pendidikan.
Jadi, sudah sepatutnya pemerintah memberikan pendidikan kepada calon TKI sejak dini.
Pelatihan terhadap calon TKI yang akan bekerja di luar negeri belum cukup jika hanya dilakukan secara singkat melalui BLK-BLK yang kebanyakan hanya bersifat formalitas.
Pembekalan pendidikan sejak dini yang perlu diberikan kepada calon TKI, misalnya memasukan pendidikan tentang tata cara menjadi TKI di luar negeri ke dalam kurikulum mata pelajaran di tingkat sekolah.
Kalau di sekolah-sekolah ada pelajaran yang menjelaskan tentang tata cara bekerja di luar negeri, maka yang nantinya sudah lulus sekolah dan memilih mencari pekerjaan guna membantu ekonomi keluarga sudah paham dan tidak akan mudah tertipu oleh calo atau sponsor yang berkeliaran merekrut calon TKI ke pelosok-pelosok daerah.
Hal tersebut bukan semata-mata untuk menjadikan bahwa kita akan terus menjadikan profesi TKI sebagai pilihan.
Hal tersebut bukan semata-mata untuk menjadikan bahwa kita akan terus menjadikan profesi TKI sebagai pilihan.
Mengingat, lapangan kerja dalam negeri yang kurang mencukupi menjadikan profesi menjadi TKI salah satu solusi alternatif dalam menggerakkan roda perekonomian di daerah-daerah.
Dengan TKI diberikan pendidikan sejak dini, maka mereka dapat mengerti dan memahami secara maksimal bagaimana tata cara menjadi TKI yang baik dan benar sesuai dengan prosedur undang-undang yang berlaku.
Selain itu, pendidikan bagi calon TKI/TKI sangat penting terhadap penguasaan bahasa, akses informasi teknologi dan budaya tempat mereka bekerja, utamanya sebagai TKI yang bekerja di lembaga atau institusi, seperti rumah sakit, restoran, toko, juga lembaga lain yang membuat bahasa sebagai alat komunikasi menjadi masalah yang sangat penting.
Selain itu, pendidikan bagi calon TKI/TKI sangat penting terhadap penguasaan bahasa, akses informasi teknologi dan budaya tempat mereka bekerja, utamanya sebagai TKI yang bekerja di lembaga atau institusi, seperti rumah sakit, restoran, toko, juga lembaga lain yang membuat bahasa sebagai alat komunikasi menjadi masalah yang sangat penting.
Itu berarti kualitas pendidikan seharusnya menjadi pertimbangan sangat penting dalam pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.