Tribunners / Citizen Journalism

Masyarakat Pro Logika Tumbuh Dampak 'Hoax' Lumpuh

Kebutuhan untuk mendorong tumbuhnya masyarakat pro logika atau masprolog adalah keniscayaan dan sesuatu yang tidak dapat ditawar.

Masyarakat Pro Logika Tumbuh Dampak 'Hoax' Lumpuh
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Warga membubuhkan tanda tangan dan cap tangan saat Deklarasi Komunitas Masyarakat Anti Hoax saat Car Free Day di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (8/1/2017). Deklarasi tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap informasi bohong alias hoax yang kini makin merajalela beredar di media sosial. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Oleh: Dody Susanto
Direktur KLINIK Pancasila

JAKARTA - Kebutuhan untuk mendorong tumbuhnya masyarakat pro logika atau masprolog adalah keniscayaan dan sesuatu yang tidak dapat ditawar mengingat dampak fenomena hoax turut menurunkan ketahanan nasional secara signifikan.Kehadiran ujaran kebencian, komentar sarkasme serta pertingkahan kita lawan mereka ( us versus them) akibat penggunaan media sosial yang bercorak hoax telah mencapai titik didih yang membahayakan persatuan bangsa.

Upaya kolaborasi berbagai komponen bangsa untuk meredam dampak hoax baik institusi pemerintahan dengan potensi anak bangsa di berbagai lapisan telah menumbuhkan solidaritas nasional yang dapat dijadikan sosial kapital yang berharga. Globalisasi dengan hukum besi siapa kuat dia menang telah melahirkan power media sebagai penentu arah peradaban.

Refleks sedetik jari tangan diatas piranti gadget dapat merubah opini dunia seketika baik bercorak kontroversi maupun permulaan kontestasi berbagai lintas kepentingan. Bangsa Indonesia ada dipersinggungan yang strategis mengingat secara faktual adalah pengguna gadget 5 besar sedunia sekaligus pasar empuk bagi produsen it melempar produknya tanpa henti . Fenomena hoax adalah anak peradaban hasil dari serangan pintar f6 yaitu food fun fantasi fashion film dan filosofi ( Gencar Pancasila Perisai Serangan Pintar F6 m.tribunnews.com 6 maret 2016) yang tumbuh seperti cendawan dimusim hujan.

Ketergagapan menyaring informasi akibat information cascade dan budaya What You See Is What You Get(dibaca wizziwig) WYSIWYG telah memberi petunjuk bahwa mayoritas pengguna gadget tidak didukung nalar kritis dan pasokan informasi yang benar ( masyarakat pro logika vaksin anti hoax, 28 januari 2017 m.tribunnews.com) sehingga budaya agresifitas melalui cuitan maupun ujaran bercorak kebencian di layar sosial media adalah konfirmasi sahih dari masyarakat minim analisis dan kehati hatian.

Upaya berbenah dalam mengendalikan dampak hoax adalah memperkuat disiplin berfikir benar secara masif disemua jenjang pendidikan formal informal dengan penerapan budaya malu sejak dari keluarga masyarakat dan bangsa secara keseluruhan karena ketidak sungguhan mengolah informasi dengan konfirmasi.

Pembiaran tanpa koreksi inilah yang menyebabkan tumpulnya rasa bersalah pengguna gadget bertipikal hoax serta minimnya tanggungjawab moral produsen gadget mencerahkan sisi positif dan negatif produk it baik dari sisi teknologi hukum dan sosial budaya( pengetahuan produk) .Minimnya edukator dari unsur aparatur negara yang mensosialisasikan uu ite ke masyarakat luas juga berkontribusi pada situasi maraknya fenomena hoax.

Mencermati kondisi terkini dibutuhkan suatu ekstradaya berupa pencerahan untuk membangun masyarakat pro logika di berbagai lapisan melalui program mencegah kesesatan berfikir dalam rangka menumbuhkan disiplin berfikir benar secara meluas dan menyeluruh.

Mendirikan Institut Kebugaran Mental Intelektual Publik minimal di setiap provinsi dapat dijadikan ikhtiar untuk menyempurnakan kemampuan sumber daya manusia indonesia yang prima dalam mengendalikan ekses globalisasi. Mengenal seluk beluk logicalfallacies juga sangat berarti bagi fundamen tatanan masyarakat pro logika.

Apakah Logical Fallacies itu?

Logical Fallacy atau kesalahan logika adalah suatu pemikiran yang tidak sesuai dengan logika dan termasuk dalam kategori salah berpikir. Orang yang menyampaikan pernyataan yang mengandung logical fallacy dapat disebut sebagai orang yang pemikirannya tersesat atau ia sedang menyesatkan orang lain untuk tujuan tertentu. Suatu pernyataan yang mengandung logical fallacy akan menyebabkan kesalahan berpikir untuk tahap-tahap selanjutnya. Logical fallacies bukanlah kesalahan tulis atau yang sering dikenal dengan sebutan typo. Kesesatan logical fallacy terletak pada kesalahan dalam berpikirnya itu sendiri yang bertentangan dengan logika.

Logical fallacy juga bukan suatu ambiguitas kalimat dimana hal itu kadang merupakan keterbatasan dari sebuah bahasa atau karena semata perbedaan pikiran dalam merangkai kalimat yang dilakukan oleh seseorang. Logical fallacy memang merupakan suatu kesalahan berpikir yang harus diluruskan karena memang merupakan bentuk kesesatan dalam berpikir. Adanya logical fallacies tidak bermakna bahwa tidak ada kebenaran yang di luar logika atau yang tidak dapat diproses dengan logika. Memaknai berpikir logis sebagai bentuk penolakan terhadap adanya hal-hal yang tidak dapat diproses dengan logika juga merupakan bentuk logical fallacy, sebagaimana yang sering kita jumpai di masyarakat.

Berpikir logis dan membebaskan diri dari logical fallacies termasuk salah satu bentuk dari menempuh jalan hidup yang lurus. Keterbebasan dari logical fallacy merupakan syarat mutlak dalam membangun ilmu pengetahuan. Dalam kacamata agama, khususnya agama Islam, logical fallacy merupakan hal yang diharamkan. Logical fallacy lah yang menyebabkan terjadinya tahayul (keyakinan yang mengada-ada) dan khurafat (informasi yang tidak sesuai dengan kebenaran alias hoax). Dalam dunia science (ilmu eksak), logical fallacy merupakan salah satu parameter yang membedakan antara science dan non-science.

Dalam beberapa keadaan tertentu, logical fallacy juga berguna untuk menarik informasi-informasi yang sekiranya dibutuhkan dengan cara yang tidak langsung. Logical fallacy juga dapat digunakan untuk membelokkan pemikiran seseorang agar mengarah pada apa yang sesuai dengan yang kita inginkan. Dalam kepentingan tertentu, suatu fallacy dapat mengandung manfaat seperti untuk terapi, motivasi, atau penenangan diri. Suatu fallacy juga dapat menjadi sarana yang efektif untuk berkomunikasi dengan orang lain. Namun karena sifatnya yang merupakan sebuah kekeliruan berpikir, maka untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan penegakan hukum, logical fallacy dilarang keras untuk digunakan.

Jenis-Jenis Logical Fallacies (bagian 1)

Logical Fallacies ada puluhan jenis. Irving et al (2014) membagi beberapa macam logical fallacies ke dalam kategori tertentu agar dapat mempermudah para pengguna logika dalam mengidentifikasi dan menghindari kesalahan konstruksi pemikiran. Berikut ini adalah jenis-jenis logical fallacies dan penjelasannya masing-masing.

Fallacies of Relevance (disimbolkan dalam R) Fallacies of relevance adalah tipe logical fallacy yang paling sering ditemui. Fallacy tipe ini adalah fallacy yang memiliki pernyataan atau argumentasi yang tidak sesuai dengan konklusinya. Tipe fallacy ini seringkali digunakan oleh para peneliti yang senang “memaksakan” sesuatu pernyataan agar terlihat logis. Ada tujuh fallacy tipe relevance ini, yaitu: (R1) The appeal to the populace, (R2) The appeal to the emotion, (R3) The red herring,(R4) The straw man, (R5) The attack on the person, (R6) The appeal to force, (R7) Missing the point (irrelevant conclusion).

R1. The appeal to the populace (Argumentum ad Populum); adalah fallacy yang muncul karena konklusinya mengacu pada anggapan yang bersifat popular. Contoh: Semua perokok selalu diidentikan dengan pria yang jantan. Apabila ada seorang pria tidak merokok, menurut anggapan popular (umum), pria tersebut tidaklah jantan. Ini merupakan logical fallacy.

R2. The appeal to the emotion (appeal to pity); adalah fallacy yang timbul dari argumentasi pemikiran yang bersifat mengasihani, bermurah hati, ketidaktegaan atau terkait
dengan hati nurani. Cirinya adalah menggunakan manipulasi perasaan (emosi) seseorang dalam berargumen daripada membuat argumen yang logis. Contoh:
A : “Pejabat partai X menjadi tersangka korupsi!”
B : “Tidak mungkin, dia orang baik. Lihat saja dia sering menyumbang ke orang-orang miskin.”
Dalam hal ini B melakukan logical fallacy dengan mengikutsertakan emosi dalam memberikan tanggapan atau argumentasinya.

R3. The red herring; adalah fallacy yang mengalihkan perbincangan dari permasalahan utama.Tujuannya adalah untuk membingungkan orang atau untuk mengalihkan fokus orang lain. Contoh:
A: Berdasarkan penelitian, coklat itu lebih sehat daripada alkohol.
B: Alkohol itu kesukaan saya, dan selama ini saya sehat-sehat saja. Jadi alkohol itu lebih sehat daripada coklat.
Dalam hal ini B telah melakukan logical fallacy.

R4. The straw man; adalah fallacy yang argumentasinya selalu menempatkan posisi “lawan” sebagai posisi yang ekstrim, mengancam, atau tidak masuk akal daripada kenyataan atau fakta yang sebenarnya terjadi. Cirinya adalah membuat interpretasi yang salah dari argumen orang lain agar lebih mudah diserang.
Contoh:
Ibu: “Dek, sudah dulu main komputernya. Akhir-akhir ini ade terlalu sering main komputer.”
Ade: “Jadi ibu ingin saya berhenti main komputer selamanya? Ingin saya terus-terusan belajar sampai stress gitu? Ibu jahat!”
Ucapan Ade merupakan logical fallacy dengan membuat interpretasi yang berbeda dengan makna pernyataan yang disampaikan oleh Ibu.

R5. Argument against the person (Argumentum ad Hominem); adalah fallacy yang argumentasiya menyerang pihak (orang) tertentu yang sedang memegang peranan. Tujuannya adalah untuk menjatuhkan citra pihak tertentu dengan argumentasi yang tidak didasari fakta yang jelas. Contoh:

Sarah berkata bahwa Zaki harus jadi presiden BEM universitas X. Bob menjawab, “Apakah kita harus percaya dengan perkataan wanita yang sering gonta-ganti pacar, memiliki gaya rambut aneh, dan sering bangun kesiangan?”
Pertanyaan Bob di atas merupakan logical fallacy dengan berargumen yang mengaitkan pendapat Sarah dengan kepribadiannya.

R6. The Appeal to Force (Argumentum ad Baculum); adalah fallacy yang argumentasinya dibekali oleh kepentingan tertentu. Kepentingan tersebut bisa berasal dari pihak-pihak yang memiliki kekuatan untuk “memaksa”. Contoh pada pernyataan berikut. Masyarakat memilih tokoh X karena tokoh X adalah sosok yang sempurna untuk dipilih dan beliau lah satu-satunya yang mampu membawa perubahan pada kota ini. Argumen bahwa tokoh X merupakan sosok yang sempurna untuk dipilih dan merupakan satu-satunya yang mampu membawa perubahan pada kota ini, merupakan suatu pendapat yang dipaksakan untuk diterima atau untuk menggiring opini publik, bukan merupakan suatu
alasan yang menjadi sebab yang sebenarnya. Karena itu argumen tersebut merupakan logical fallacy.

R7. Missing the Point (Ignoratio Elenchi); adalah fallacy yang argumentasinya tidak terkonstruksi kuat, sehingga ketika ada bantahan dari argumentasi lain maka argumentasi awal menjadi lemah dan malah mendukung konklusi yang berbeda daripada mendukung argumentasi itu sendiri. Atau dengan kata lain premis-premis awal terbantahkan sehingga menghasilkan konklusi yang mengikuti alur argumentasi si pembantah. Contoh: Sering terjadi ketika sidang skripsi atau tesis mahasiswa. Di mana banyak argumentasi-argumentasi dari mahasiswa yang berhasil dibelokkan oleh penguji dan akhirnya semua konklusi menjadi tidak ada esensinya.

Jika fenomena seperti ini terjadi, baik sang dosen mendebatnya secara benar ataupun secara fallacy juga, maka argumentasi dari mahasiswa tersebut mengandung kelemahan yang tidak dapat ia pertahankan sehingga akhirnya mahasiswa tersebut melakukan dalam logical fallacy dengan menerima kelemahan argumennya.

Jenis-Jenis Logical Fallacies (bagian 2)

Fallacies of defective induction (disimbolkan dalam D) Pada fallacy jenis ini, meskipun konstruksi premis dalam tiap argument terlihat memiliki relevansi atau keterkaitan dengan konklusinya, namun kerangka pemikirannya terlalu lemah dan tidak efektif. Kerangka pemikiran yang lemah akan menghasilkan konklusi yang tidak akurat pula. Hal tersebut dapat menjadi serangan balik. Ada empat kategori fallacy pada tipe ini, diantaranya: (D1) The argument from ignorance, (D2) The appeal to inappropriate authority, (D3) False cause, dan (D4) Hasty generalization.

D1. The argument from ignorance; adalah fallacy yang argumentasinya terlihat benar oleh karena belum ada pembuktian mengenai kesalahan dari argumentasi tersebut. Atau
argumentasi terlihat salah oleh karena belum ada pembuktian mengenai kebenaran dari argumentasi tersebut. Contoh: Seorang bos mengatakan bahwa pendapatnya adalah benar karena tidak ada satupun dari peserta yang hadir pada rapat tersebut yang menentangnya. Ini adalah logical fallacy karena tidak ada pembuktian bahwa pendapatnya tersebut memang benar. Tidak adanya peserta rapat yang menentang bukan merupakan alasan yang benar untuk membenarkan pendapat si bos. Bisa jadi peserta rapat tidak ada yang menentang karena takut kepada si bos, bukan karena pendapat bos benar.

D2. The appeal to inappropriate authority; adalah fallacy yang argumentasinya terlihat atau dirasa benar oleh karena seorang ahli mengatakan bahwa argumentasi tersebut adalah benar. Contoh: Andi mengatakan bahwa pendapatnya benar karena dosennya berkata demikian. Apa yang dikatakan oleh Andi merupakan sebuah logical fallacy karena ia tidak menyampaikan sebab dari kebenaran pendapatnya, melainkan berlindung di balik otoritas seorang dosen sebagai yang lebih pakar darinya, dimana belum tentu sebuah pendapat dosen itu selalu benar.

D3. False cause; adalah fallacy yang argumentasinya menempatkan suatu penyebab yang bukan penyebab sebenarnya seolah-olah menjadi suatu akibat terjadinya permasalahan tertentu. Cirinya adalah menyambungkan hal yang terjadi bersamaan sebagai hubungan sebab-akibat. Contoh: Angka korupsi di negara ini meningkat dari tahun 2011-2016. Di saat bersamaan, kualitas pendidikan bangsa ini semakin meningkat dari tahun 2011-2016. Lalu, ada seseorang yang berkesimpulan bahwa tingginya kualitas pendidikan itu justru menyebabkan tingginya angka korupsi di negara ini. Pendapat orang tersebut merupakan logical fallacy karena ia mengaitkan antara dua hal yang bukan sebab akibat seakan-akan menjadi suatu sebab akibat.

D4. Hasty generalization; adalah fallacy yang argumentasinya berdasar pada sejumlah kecil kejadian atau fakta tetapi berani digeneralisasikan sebagai akar masalah atau penyebab dari suatu fenomena. Atau dengan kata lain fakta yang belum valid sudah dijadikan dasar generalisasi. Contoh: Tokoh A merupakan tokoh yang paling berhasil dalam membangun kota X. Lihat saja sejak kepemimpinannya, kota X ini menjadi bersih, tidak terlihat sampah yang berserakan, pemandangan kota jadi terlihat indah. Jelas tokoh A lebih berkualitas daripada tokoh B yang selama kepemimpinannya tidak mampu menjadikan kota X ini menjadi bersih dan indah. Pernyataan di atas merupakan logical fallacy karena terlalu cepat dalam menarik kesimpulan tentang kualitas tokoh yang hanya didasarkan pada satu parameter kebersihan kota saja, sementara terdapat banyak parameter penilaian yang sudah secara baku berlaku untuk menilai kinerja seseorang secara lengkap.

Jenis-Jenis Logical Fallacies (bagian 3)

Di samping 11 jenis logical fallacy yang diuraikan di atas, ada juga beberapa pola logical fallacy yang lain. Pola-pola di bawah ini ada yang berupa pola fallacy yang lain atau ada juga yang merupakan sintesis dari pola fallacy yang berasal dari fallacy dasar di atas. Beberapa pola logical fallacy tersebut antara lain:

A. The fallacy fallacy; yaitu fallacy yang argumentasinya menggunakan pola karena seseorang melakukan logical fallacy dalam memperkuat argumennya, maka argumen itu pasti salah. Contoh: Jim mengatakan bahwa merokok itu berbahaya karena dapat menyebabkan diare. Hal ini tentu saja salah dan Andy membantahnya. Andy berkesimpulan bahwa merokok itu menyehatkan. Dalam hal ini Andy melakukan logical fallacy karena meskipun merokok itu tidak menyebabkan diare, belum tentu merokok itu menyehatkan.

B. Black or White (false dichotomy); yaitu fallacy yang argumentasinya bersifat memberikan dua alternatif pilihan saja padahal sebenarnya ada pilihan lain. Contoh: Kalo kamu tidak mendukung tokoh X, kamu pasti pendukungnya tokoh Y. Padahal tidak mendukung tokoh X bisa jadi bukan karena mendukung tokoh Y, tapi karena alasan yang lain.
Contoh lainnya: Kamu banyak berteori, kamu pasti nggak bisa praktek. Padahal banyak berteori bukan berarti nggak bisa praktek. Banyak orang yang pandai berteori dan pandai praktek, dan ada pekerjaan-pekerjaan tertentu yang membutuhkan keakuratan teori dan penguasaan praktek yang tinggi. Artinya teori dan praktek bukanlah hal yang
berlawanan. Logical fallacy lah yang menjadikannya seakan-akan berlawanan.

C. Bulverisme; yaitu fallacy yang argumennya berpola mempertanyakan niat lawan bicara. Contoh: Kamu bilang begitu cuma karena kamu ingin dikenal, kan? Ini merupakan pertanyaan dari seorang yang melakukan logical fallacy. Dalam menghadapi perbedaan pendapat, bisakah kita tahu secara pasti apa motif lawan pendapat kita? Tidak ada  yang bisa menjamin. Sering kali mungkin kita sendiri yang berprasangka buruk. Siapa tahu itu hanyalah hasil egoisme kita yang tidak mau pendapat sendiri disalahkan. Intinya, kita selayaknya menaruh prasangka baik pada lawan bicara kita. Biarkan bukti-bukti dan bukan prasangka kita yang menilai kebenaran pendapatnya. Soal niat apa yang tersembunyi dalam hati, biarkan itu jadi urusan pribadi masing-masing.

D. Slippery Slope; yaitu fallacy yang berpola kita tidak setuju dengan kejadian A karena kekhawatiran jika dibiarkan akan muncul kejadian B, C, D, E, dan seterusnya sampai  Z dengan pola pikir yang tidak berpola benar. Contoh: Jika presiden melakukan kerjasama dengan negara X, maka negara ini akan menjadi bangkrut, teracuni oleh  paham sesat, dan akan dipecah belah untuk terjadinya perang saudara. Pernyataan ini merupakan pernyataan yang dikembangkan tanpa pola yang jelas sehingga termasuk logical fallacy.

Permasalahan yang sebenarnya bukan pada kerjasamanya tetapi pada bagaimana kerjasama yang dijalinnya. Pemunculan kekhawatiran akan fenomena-fenomena lain yang disebutkan, tidak dikembangkan dari fakta yang ada. Namun demikian, pemikiran yang mirip dengan pola slippery slope bisa juga tidak bermakna fallacy, dan justru merupakan sebuah ketajaman pemikiran. Contoh: Jika tidak menurunkan kecepatan sekarang, mobil ini akan akan mengalami selip dan menabrak tebing di belokan yang ada di depan.

Pernyataan ini merupakan bentuk kekhawatiran yang logis, atau bahkan merupakan suatu pengetahuan akan pola yang akan terjadi akibat sebuah pengalaman seseorang yang
memahami tentang sifat mobil dan hukum-hukum fisika sehingga yang dikatakannya tidak bersifat mengada-ada, dan termasuk dalam suatu prediksi.

E. Argumentum ad Temperantiam (middle ground) ; yaitu fallacy yang menyatakan bahwa pandangan pertengahan adalah sesuatu yang benar tanpa peduli nilai-nilai lainnya. Serta juga menganggap jalan tengah sebagai pertanda kekuatan suatu posisi. Meskipun dapat menjadi nasihat yang bagus, namun kesesatannya disebabkan karena ia tak punya dasar yang kuat dalam argumen karena selalu berpatokan bahwa jalan tengah adalah yang benar. Penggunaannya kadang dengan membuat-buat posisi lain sebagai posisi yang ekstrim.

Contoh: Budi mengatakan kepada Ratih, “Daripada kamu bersama Rudi yang terlalu ganteng dan playboy, atau bersama Bejo yang jelek dan cupu, mendingan kamu sama aku saja yang tengah-tengah, nggak playboy, jelek-jelek amat, dan nggak cupu.” Argumen nilai tengah nggak playboy, nggak jelek-jelak amat, dan nggak cupu bukanlah alasan yang tepat untuk menyatakan bahwa Budi lebih baik daripada dua teman lainnya yang dibandingkan, dan juga bukan merupakan alasan yang benar untuk dijadikan sebagai landasan bagi Ratih untuk memilih Budi. Pernyataan Budi tak lebih dari sebuah rayuan pengalihan fokus bagi Ratih agar mau menjadi kekasihnya, bukan merupakan nasehat yang didasari oleh pola pikir yang benar.

F. Argumentum ad numeram (bandwagon); yaitu fallacy yang menggunakan ketenaran sebagai dasar argumentasinya, yaitu dengan percaya bahwa sesuatu itu benar karena
mayoritas orang mengikutinya atau itu sesuatu yang populer. Cukup sulit dideteksi karena kita memiliki kecenderungan terhadap safety by number (mengikuti yang ramai) dengan menganggap sesuatu yang umum pasti benar. Contoh: Perkembangan Islam saat ini luar biasa. Bahkan, banyak penduduk negara-negara barat yang sebelumnya anti Islam kini mengucapkan syahadat. Ini menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang benar. Pesatnya perkembangan Islam tidak menjadi bukti bahwa Islam adalah agama yang benar.

Contoh lain: Kristen dianut oleh 2,2 miliar orang atau 31,50% dari total penduduk dunia. Sementara itu, Islam di posisi kedua dengan jumlah pemeluk 1,6 miliar atau 22,32%. Jelas, Kristen adalah agama yang benar. Banyaknya penganut Kristen bukanlah bukti bahwa Kristen adalah agama yang benar.

G. The Texas Sharpshooter; yaitu fallacy yang memilih data tertentu agar sesuai dengan argumen yang ingin dihasilkan. Contoh: Calon gubernur A didukung oleh mayoritas warga Kota X karena kebijakannya yang telah mampu memberantas lokalisasi. Berdasarkan data yang dihimpun dari masyarakat sekitar lokalisasi, 88% responden
memilih calon Gubernur A. Pernyataan di atas mengandung fallacy karena data yang disajikan tidak memenuhi syarat untuk dijadikan landasan dalam pengambilan kesimpulan bahwa calon gubernur A didukung oleh mayoritas warga kota X. Ini disebabkan karena data yang disajikan hanya data dari responden yang berasal dari masyarakat di sekitar lokalisasi saja. Semestinya disajikan dari data yang berasal dari data penduduk Kota X secara sampling yang benar.

H. Two Wrongs Make a Right; yaitu fallacy yang terjadi ketika diasumsi bahwa jika dilakukan suatu hal yang salah, tindakan salah yang lain akan menyeimbanginya. Sesat-pikir ini biasa digunakan untuk menggagalkan tuduhan dengan menyerang tuduhan lain yang juga dianggap salah.

Contoh: Situ nyuruh-nyuruh saya sholat, emangnya situ udah? Seseorang yang menyuruh sholat namun ia juga belum sholat tidak menjadikan bahwa sholat itu salah atau boleh ditinggalkan. Ini merupakan fallacy yang umum terjadi di masyarakat.

Jenis-Jenis Logical Fallacies (bagian 4)

1. Argumentum ad Novitam; yaitu fallacy yang argumennya berasumsi bahwa sesuatu hal yang baru dapat dikatakan benar dan lebih baik, dengan mengasumsikan penggunaan hal yang baru berbanding lurus dengan kemajuan zaman dan sama dengan kemajuan baru yang lebih baik. Fallacy ini menjual kata „baru‟ dengan menyerang suatu hal yang lama sebagai hal yang gagal dan harus diganti dengan yang lebih baru.

Contoh: Agar terbebas dari korupsi, pemerintahan ini harus menerapkan sistem baru yang diisi oleh generasi muda dengan usia maksimal 40 tahun. Mengganti dengan generasi muda bukanlah merupakan sebab atau parameter yang bisa
menjadikan terbebas dari korupsi.

2. Argumentum ad Antiquitam; yaitu kebalikan dari Argumentum ad Novitam. Sesuatu diasumsikan benar dan lebih baik karena merupakan sesuatu yang sudah dipercaya dan digunakan sejak lama. Argumen ini adalah favorit bagi golongan konservatif. Nilai-nilai lama pasti benar. Cirinya adalah selalu berpatokan bahwa cara lama telah dijalankan bertahun-tahun, maka itu dianggap sesuatu yang pasti benar.

Contoh: Zaman sekarang serba susah. Lebih baik kehidupan di zaman orde baru daripada di era reformasi sekarang ini. Ini merupakan fallacy dengan menganggap bahwa masa orde baru itu lebih baik tanpa melakukan penelitian parameter-parameternya secara menyeluruh. Bisa jadi ada sisi parameter yang pada masa orde baru lebih baik, dan ada pula parameter masa reformasi yang lebih baik. Secara keseluruhan mana yang lebih baik, kita tidak tahu sebelum dilakukan penelitian secara mendalam.

3. Perfect Solution Fallacy; yaitu fallacy yang terjadi ketika suatu argumen berasumsi bahwa sebuah solusi sempurna itu ada, dan sebuah solusi harus ditolak karena sebagian dari masalah yang ditangani akan tetap ada setelah solusi tersebut diterapkan. Contoh: Penerapan UU Pornografi ini tidak akan berjalan dengan baik. Pemerkosaan akan tetap terjadi. Pernyataan di atas mengandung fallacy karena ia tidak mempertimbangkan penurunan tingkat kriminalitas asusila yang terjadi. Dianggapnya jika masih ada kasus asusila maka artinya UU Pornografi tidak berjalan baik atau tidak efektif. Ini merupakan bentuk perfeksionisme yang salah.

4. Poisoning the Well; yaitu fallacy yang argumennya bersifat meracuni orang lain sehingga dianggap tercela dengan berbagai tuduhan bahkan sebelum lawan sempat bicara. Teknik meracuni sumur ini lebih licik dari sekadar mencela lawan seperti pada fallacy ad hominem. Contoh: Mari kita dengarkan pandangan presiden X yang pro  komunis ini tentang pandangan pembangunan di negara kita. Pernyataan di atas seakan mengajak untuk berpikiran terbuka dengan mendengarkan pidato presiden X, tetapi sebenarnya ia memberikan pesan di awal dengan melabeli bahwa Presiden X adalah pro komunis tanpa adanya bukti dan alasan yang benar dengan tujuan agar orang
yang diajak bicaranya menjadi tidak netral dalam menilai pidato presiden X.

5. Ipse-dixitism; yaitu fallacy yang argumennya didasarkan pada keyakinan yang dogmatis. Seseorang yang menggunakan Ipse-dixitism mengasumsikan secara sepihak premisnya sebagai sesuatu yang disepakati, padahal tidak demikian. Premis yang diajukan dalam argumen seolah-olah merupakan fakta mutlak dan telah disepakati bersama kebenarannya, padahal itu hanya dipegang oleh pemberi argumen, tidak bagi lawannya. Sesat-pikir ini akan berujung pada debat kusir. Contoh: Karena Pancasila merupakan ideologi gagal dalam membangun negara yang kuat dan mensejahterakan rakyatnya, maka kita wajib beralih ke sistem khilafah. Pernyataan Pancasila merupakan ideologi gagal bukanlah sesuatu yang disepakati oleh lawan bicara sehingga tidak tepat jika dijadikan landasan dalam berargumentasi.

6. Proof by Assertion; yaitu fallacy yang argumennya terus-menerus diulang tanpa mengacuhkan kontradiksi terhadapnya. Contoh: Tapi pak direktur, seperti yang telah saya jelaskan selama dua bulan terakhir ini, tak mungkin kita memotong anggaran biaya departemen ini. Tiap posisi dan jabatan di dalamnya amat penting bagi efektivitas kerja dan prestasi departemen. Lihat saja office boy yang selalu mengantarkan kopi, atau mereka yang memunguti penjepit kertas di ruang kerja, maka blablablablablaaa... [dan seterusnya, berbelit-belit] (selama dua bulan cuek terhadap argumen balasan dan terus mengulang perkara yang sama)  Begging the Question; yaitu fallacy yang menggunakan argumen yang terkandung dalam premis yang diberikan. Contoh: Bodoh betul penulis buku ini. Nulis buku kok judulnya “Kehidupan Orang-orang Bodoh”.
Menulis buku tentang kehidupan orang-orang bodoh belum tentu merupakan suatu kebodohan. Bisa jadi malah merupakan sebuah kejeniusan. Bodoh tidaknya penulis buku tersebut tidak ditentukan dari tema bukunya melainkan dari kualitas tulisannya yang terkandung dalam isi buku.

7. Burden of Proof; yaitu fallacy yang menyatakan bahwa pembuktian harus dilakukan bukan oleh pembuat klaim, tapi oleh orang lain yang tidak setuju. Fallacy ini mirip
dengan fallacy D1, The argument from ignorance. Contoh: Di kelas, Dede mengatakan bahwa khilafah adalah sistem pemerintah terbaik di dunia. “Silakan tunjukkan bukti bahwa sistem yang ada saat ini lebih baik daripada sistem khilafah,” tantang Dede. Semua diam. “Ini membuktikan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada sistem khilafah”, ujarnya. Ucapan Dede mengandung fallacy karena bisa jadi rekan kelasnya tidak tahu khilafah yang disebut-sebut Dede sehingga tidak bisa berkomentar banyak. Seharusnya Dede yang memulai dengan penjelasan sehingga memungkinkan terjadi dialog.

8. Anecdotal; yaitu fallacy yang Menggunakan pengalaman pribadi atau suatu kasus khusus bukannya menggunakan argumen atau bukti yang teruji secara ilmiah. Fallacy
ini biasanya digunakan untuk membantah data statistik. Contoh: Kakekku merokok setiap hari dan umurnya mencapai 90 tahun. Jangan percaya dengan omongan dokter!
Dalam realitanya, dimungkinkan ada sampel yang keluar dari keumuman data. Salah satunya adalah kakeknya.

9. Dicto Simpliciter; yaitu fallacy yang menggunakan penyalahgunaan penalaran induktif ketika data yang digunakan tidak cukup untuk memberikan kesimpulan. Fallacy ini merupakan bentuk khusus dari fallacy D4, Hasty Generalization. Contoh: Damar melihat bahwa ketiga tetangganya, Amir, Boncu, dan Cecep, kehilangan pekerjaan dan hidup susah. Damar menyimpulkan bahwa pemerintahan saat ini dzalim karena telah gagal mensejahterakan rakyat Indonesia yang saat ini hidup susah dan mayoritas pengangguran. Tiga orang sampel tidaklah cukup untuk dijadikan acuan dalam menilai kinerja pemerintah dan kondisi rakyat Indonesia. Damar perlu meneliti kembali dengan sampel lebih besar. Jika tidak bisa, Damar perlu menunjukkan bukti tiga orang sampel yang diamatinya mewakili kondisi rakyat Indonesia secara umum.

10. Personal Incredulity; yaitu fallacy yang terjadi karena tidak bisa memahami konsep yang rumit, maka disimpulkan bahwa hal tersebut tidak mungkin benar. Padahal, yang menjadi permasalahan adalah ketidakmampuan dirinya, bukan perkara yang dibahas. Contoh: A: Setelah mengikuti aktivasi otak, anakku bisa membaca dengan mata tertutup lho. B: Ah, tidak mungkin. Mana ada orang bisa membaca sambil matanya tertutup. Dalam hal ini B melakukan fallacy karena ia menyangkal tanpa mau membuktikan dulu akibat ketidaktahuannya akan adanya kemampuan blindfold reading yang bisa dikuasai oleh seseorang.

11. Tu Quoque; yaitu fallacy yang argumennya menjawab kritikan dengan kritikan ketika seharusnya menjawab argumen lawan. Contoh: Anna memperingatkan David agar tidak lagi merokok karena sudah mengalami gejala kanker paru-paru. David menolak itu karena Anna juga perokok. David melakukan fallacy jenis ini.

12. Composition/Division; yaitu fallacy yang percaya bahwa jika sesuatu berlaku untuk sebagian dari suatu sistem, maka berlaku juga bagi seluruhnya. Begitu juga sebaliknya. Contoh: Anderson tahu bahwa atom itu tidak kasat mata. Anderson juga tahu bahwa tubuhnya terbuat dari atom. Maka dari itu, Anderson percaya bahwa  dirinya tidak kasat mata. Fallacy ini merupakan kesalahan dalam berpikir induktif.

13. Genetic; yaitu fallacy yang argumennya men-judge sesuatu itu baik atau buruk berdasarkan asal pernyataan itu/siapa yang menyatakannya. Contoh: Kalo yang bilang itu Kyai X ya sudah jelas baik dan benar lah. Kiyai pun bisa salah dan tidak menguasai berbagai hal. Menempatkan segala hal yang dikatakan oleh seseorang tertentu sebagai kebenaran merupakan sebuah kesalahan berpikir.

14. Appeal to Nature; yaitu fallacy yang argumennya menganggap bahwa segala sesuatu yang “natural” itu baik/valid. Contoh: Jim diberi dua pilihan untuk mengikutipengobatan dokter atau pengobatan alternatif yang obatnya dari bahan-bahan alami. Tanpa menimbang terlebih dahulu Jim memilih opsi pengobatan alternatif karena dia menganggap bahwa segala yang natural itu baik.

15. Guilt by Association; yaitu fallacy yang argumennya menyamakan seseorang dengan orang lain yang berpendapat sama. Pola fallacy ini adalah sebagai berikut: A menyatakan sebuah argumen. B menyatakan argumen yang sama, sedangkan B melakukannya secara konyol, bodoh, atau ngawur. C memandang bahwa A juga sama-sama termasuk orang yang seperti sifat B. Contoh: A melarang mencela pemerintah. B melarang mencela pemerintah, sekaligus secara konyol dan lebay memuji-muji pemerintah secara berlebihan karena sosok idolanya memimpin pemerintahan. C memandang A juga konyol dan lebay karena mempunyai pemikiran yang sama dengan B, yaitu melarang mencela pemerintah. Dalam hal ini C melakukan fallacy.

16. Post hoc, ergo propter hoc; yaitu fallacy yang argumennya berpola “setelah X, maka karena X”. Ini merupakan bentuk khusus dari fallacy D3, false cause. Contoh: Kemarin dia putus dengan pacarnya. Besoknya dia mati. Kasihan dia, mati hanya gara-gara putus cinta. Menghubungkan dua hal yang terjadi berurutan sebagai sebuah pemikiran sebab akibat merupakan sebuah fallacy. Demikianlah kumpulan jenis-jenis logical fallacy yang ada. Semoga dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi kita untuk mampu berpikir benar.

Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved