Jumat, 24 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Menjatuhkan Habib Rizieq dengan Peluru Perempuan

Pelakunya bisa saja orang yang sama, atau kelompok yang sama, bisa juga orang atau kelompok berbeda yang terinspirasi pada keberhasilan sebelumnya.

Editor: Wahid Nurdin
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq saat tiba untuk pemeriksaan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (23/1/2017). Habib Rizieq diperiksa terkait kasus dugaan penghinaan terhadap logo Bank Indonesia (BI) yang dituduh simbol 'palu-arit'. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Tulisan: T Agus Khaidir

ANTASARI Azhar pernah berada pada satu masa di mana dia sangat ditakuti. Orang-orang yang suka bermain-main dengan duit negara bahkan secara hiperbolik menyebutnya sama menakutkan dengan malaikat maut.

Antasari yang nyaris tak pernah tersenyum itu, dengan kumis baplang yang menyeramkan, memang tidak pandang bulu dalam menindak koruptor. Bahkan besan presiden pun disikatnya.

Lalu kemudian dia dihancurkan. Benar-benar dihancurkan. Dilengserkan dari kursi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), reputasinya dipreteli, dan dia ditendang ke balik bui.

Bagaimana menghancurkannya? Cuma lewat seorang caddy golf yang tidak terlalu cantik dan tidak pula terlalu aduhai.

Kalah jauh dibanding pedangdut-pedangdut kelas tiga yang saban hari wara-wiri di televisi menggoyang-goyangkan bokong dan dada mereka yang sentosa.

Antasari disebut-sebut terlibat dalam asmara segitiga. Dan api cemburu mendorongnya untuk merancang skenario pembunuhan terhadap pesaingnya.

Mirip benar alur kisah dalam sinetron yang diperankan oleh remaja-remaja alay. Konyol dan menggelikan, namun terbukti efektif. Antasari jatuh dan digantikan Abraham Samad, orang yang awalnya disangka bisa mudah disetir.

Perkiraan yang keliru sebab Samad ternyata (nyaris) sama kerasnya dengan Antasari. Bahkan lebih berbahaya lantaran dia lihai pula bermain politik. Samad menjebloskan banyak orang ke dalam penjara. Banyak politisi.

Termasuk politisi dari partai yang saat itu sedang berkuasa maupun partai-partai pendukung pemerintah.
Samad, kita tahu, juga berkesudahan seperti Antasari. Bedanya dia tidak sempat (atau belum?) masuk bui.

Samad yang barangkali dianggap kelewat maju di ranah politik (konon ingin bersaing untuk kursi wakil presiden pada Pemilu 2014) disungkurkan dengan peluru yang kurang lebih sama, perempuan. Di media-media sosial, foto-foto Samad bersama seorang perempuan, termasuk di kamar hotel, beredar.

Sebagaimana Antasari, perempuan yang ditudingkan sebagai idaman lain bagi Samad ini tidak terbukti. Dengan kata lain, tak ada bukti sahih bahwa mereka benar-benar menjalin hubungan percintaan dengan perempuan-perempuan tersebut.

Untuk Antasari cuma secarik foto berdua di lapangan golf. Foto yang dari gesturnya lebih menunjukkan bahwa perempuan itu mengidolakan Antasari, bukan menyukai apalagi mencintainya.

Foto Samad, yang lebih seronok, tak lebih dari rekayasa fotografi. Foto-foto yang telah diedit sedemikian rupa.

Namun setakmeyakinkan apapun, foto-foto itu telah mendorong kejatuhan keduanya. Antasari diseret ke pengadilan dan kemudian divonis bersalah dan dihukum 18 tahun.

Sumber: Tribun Medan

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved