Senin, 20 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

UKM Indonesia Dapat Peluang Baru Merambah Pasar Malaysia

Posisi Malaysia sebagai pusat startup teknologi kini semakin kuat. Peresmian Digital Free Trade Zone (DFTZ) di Malaysia, atau wadah ekonomi digital pe

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Posisi Malaysia sebagai pusat startup teknologi kini semakin kuat. Peresmian Digital Free Trade Zone (DFTZ) di Malaysia, atau wadah ekonomi digital pertama di dunia selain Tiongkok yang menciptakan 60.000 pekerjaan, berperan penting dalam mengukuhkan kekuatan ekonominya di Asia Tenggara. 

Baca: Berhasil Lulus Berkat Gurunya, Siswa SMA Menangis dan Minta Maaf Sering Lompat Pagar

Seperti disampaikan Tan Sri Musa Aman (Musa Aman), Ketua Menteri Sabah, negara bagian tersebut  kini mengalokasikan RM 44,4 juta, atau lebih dari Rp 150 miliar, kepada 102 inkubator lewat program pengembangan kewirausahaan demi peningkatan inovasi start-up dan Usaha Kecil Menengah (UKM).

Optimizinc, sebuah platform digital Indonesiayang membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM), melihat ini sebagai peluang bagi UKM dan startup di Indonesia untuk merambah pasar Malaysia. 

"Saya meyakini, hubungan ekonomi bilateral Indonesia dan  Malaysia akan memasuki babak baru. Kini, Indonesia harus terus menciptakan berbagai peluang baru bagi UKM agar bisa memanfaatkan pasar Malaysia yang terus berkembang," ujar Annisa M Azwan, Direktur Pemasaran Optimizinc, Kamis (3/4/2018).

 Berdiri sejak tahun 2017, Optimizinc telah menyukseskan 71 UKM di Indonesia.

Baca: Resmi Dukung Khofifah dan Emil Dardak, PSI Ungkap 2 Alasan Utamanya

Pembangunan jalur darat Serudong (Sabah, Malaysia) dan Simanggaris (Kalimantan Utara, Indonesia) – yang ditargetkan selesai 2019, berperan penting mendorong perekonomian Sabah dengan melibatkan industri berteknologi canggih.

"Jalan ini akan menjadi peluang kerja sama yang luar biasa bagi kedua negara. Kalimantan Utara, misalnya, akan menyediakan banyak sumber daya alam dan hasil pertanian. Sementara Sabah, berkontribusi menyalurkan teknologi dan pengetahuan, melalui rantai nilai lintas batas, " tambah Annisa M Azwan.

Saat ini, Kalimantan Utara menjadi pasar ekspor yang kuat bagi Sabah, dan sumber terbesar berasal dari sektor agribisnis, seperti kopi dan kelapa sawit. Pada 2017, nilai ekspor kopi ke Sabah bahkan mencapai Rp 14 miliar per bulan. 

Baca: Diminta Bandingkan Ashanty dengan KD, Jawaban Aurel Tak Disangka

Demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang semakin cepat, Musa Amankemudian meluncurkan Borneokaki.com, sebuah portal online untuk membantu produsen lokal memperluas jangkauan pasar. 

"Inovasi UKM yang kian cepat akan mengubah pola pikir wirausaha muda dalam menjual produknya," ujar Annisa M Azwan.

Melihat potensi tersebut, beberapa lembaga seperti Malaysia International Chamber of Commerce & Industry dan BIMP-EAGA Business Council of Kinabalu mulai menjajaki peluang berinvestasi di Kalimantan Utara.

Musa Aman juga menyediakan dana khusus sebesar RM 105 juta, atau lebih dari Rp 370miliar, bagi badan-badan pemerintah dan kementerian Sabah. Pemerintah Sabah akan terus mengembangkan sektor pariwisata dan Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (MICE) melalui Sabah International Convention Centre (SICC).

Ditargetkan selesai tahun ini, proyek tersebut kelak dapat menampung hingga 5.000 orang dan menciptakan 10.000 lapangan pekerjaan, sekaligus menjadi peluang lapangan pekerjaan baru, termasuk bagi masyarakat di Indonesia dan sekitarnya.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved