Jumat, 5 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Tamu Spesial Malam itu Adalah Kiai Asep dan Urgensi Transformasi Pesantren

Kiai Asep dan BIMA sepakat: pesantren harus bertransformasi dengan kurikulum inklusif, seimbangkan agama dan STEM

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
HO/IST
Kiai Asep Saifuddin Chalim kunjungi BIMA, dorong transformasi pesantren berbasis kurikulum inklusif. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
KH Imam Jazuli Lc., MA
Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

MALAM ITU, 14 April 2026, Cirebon terasa lebih sejuk. Ada tamu istimewa di Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA). Tamu itu bukan orang baru. Ini kunjungan ke-7 beliau.

Namanya mentereng: Kiai Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim. Pendiri dan Pengasuh Amanatul Ummah, Mojokerto. Tokoh yang kalau bicara pendidikan, matanya menyala. Saya pun ikutan begitu. Kalau sudah bicara transformasi pesantren, kami bisa lupa waktu.

Kiai Asep adalah bukti hidup. Bahwa NU tidak boleh kalah dari Muhammadiyah dalam urusan amal usaha. Selama ini kita harus jujur—meski pahit: NU kuat di massa, tapi kedodoran di infrastruktur layanan publik yang berkualitas.

Kenapa Muhammadiyah punya banyak rumah sakit top? Kenapa kampus mereka mentereng? Kenapa unit usaha mereka rapi?

Jawabannya satu: SDM.

Dan di situlah titik temu saya dengan Kiai Asep. Kami punya kegelisahan yang sama. Penyakitnya kronis: kader NU banyak yang jadi Menteri, banyak yang punya jabatan politik. Tapi coba tengok di bawahnya. Di level Dirjen, Direktur, hingga birokrat teknis. Di sana, kader NU sulit ditemukan. Kosong.

Kenapa? Karena pesantren kita selama ini terlalu asyik di satu sisi, tapi abai pada sisi lain.

Kami sepakat: Pesantren harus berubah. Bukan sekadar ganti kulit, tapi transformasi kurikulum. Kita harus mengembalikan masa keemasan Islam.

Caranya? Menyeimbangkan ilmu agama yang deep dengan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). "Kita butuh santri yang teknokrat, santri yang dokter, santri yang ahli IT," ujar Kiai Asep. Saya mengangguk mantap.

Tanpa SDM yang menguasai bidang-bidang strategis ini, jangan harap NU bisa punya rumah sakit berstandar internasional. Jangan mimpi punya universitas riset yang disegani dunia. Kita akan selalu jadi penonton di tengah gegap gempita pembangunan.

Kurikulum pesantren harus inklusif. Terbuka. Adaptif. Jangan alergi dengan perkembangan zaman. Output-nya harus jelas: lulusan yang bisa diterima di PTN terbaik dan kampus internasional.

Di sini letak kemiripan BIMA dan Amanatul Ummah. Visi kami sama: Output Oriented.

Bedanya hanya di "pintu keluar". Santri Kiai Asep luar biasa di jalur domestik; 95 persen tembus PTN, sisanya luar negeri. 

Sementara di BIMA, kami mengambil jalur "nekat" yang terukur: 70 persen santri kami rebut beasiswa di luar negeri, hanya 30 persen yang di PTN. Tujuannya sama. Membanjiri pos-pos strategis bangsa dengan kader yang berjiwa santri tapi berotak teknokrat.

Malam itu kami sadar, NU tidak kekurangan orang pintar. NU hanya kekurangan keberanian untuk mendobrak sistem pendidikan yang stagnan. Kiai Asep sudah lama memulainya di Mojokerto. Saya sedang gas pol di Cirebon.

Sesuai Minatmu

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved