Tribunners / Citizen Journalism
Soliditas Kader Pemuda Muhammadiyah
Ketua umum dan pimpinan pusat adalah sang pembuka kunci, pengetuk pintu bagi semua upaya kader untuk mentransformasikan dirinya.
Apalagi hanya karena perbedaan pendapat saja.
Pentingnya kembali mengingat kekuatan soliditas bukan tanpa sebab. Di era ini, di pimpinan pusat terjadi resufel pengurus sampai tiga kali.
Alasannya pun terkesan mengada-ada. Sebagai organisasi kader, resufel adalah jalan terakhir, itu pun bila memang kader tersebut menyatakan mengundurkan diri. Bagi mereka yang diresufel, itu adalah pembunuhan karakter bagi kader yang telah berjuang dari daerah hingga masuk pimpinan pusat.
Tiga kali pergantian dan pergeseran pengurus menjadi gambaran ada yang salah dalam tata kelola. Jangan sampai upaya itu dikesani sebagai upaya menjadikan pengurus satu suara dalam upaya memuluskan dukungan politik tertentu.
Sebagai ketua pimpinan wilayah, kesedihan, kemarahan dan riak-riak resufel ini sangat dirasakan dan disadari benar membuat organisasi ini memanas. Beruntung kader pemuda muhammadiyah telah matang, sehingga tidak ada upaya delegitimasi kepada pimpinan pusat.
Tidak ada upaya menjadikan pimpinan pusat tandingan. Kami percaya mekanisme resmi organisasi menjadi saluran tepat untuk menyampaikan aspirasi. Jangan sampai soliditas yang terkoyak semakin dirusak oleh upaya memecahbelah organisasi ini.
Soliditas organisasi dalam kajian ilmu Human Capital Management (Manajemen Sumber Daya Insani) akan mendorong apa yang disebut organizational citizenship behaviour (OCB)/ perilaku kewargaan organisasi). Jika OCB ini kuat bertumbuh, organisasi ini akan menjadi pilar utama kaderisasi Muhammadiyah.
Muhammadiyah yang bertumbuh pesat dengan amal usahanya, dibangun oleh OCB para pengurusnya yang luar biasa. Menyumbang organisasi adalah hobi.
Sedih ketika organisasi kurang maju akan membuat semuanya turun tangan dan membantu. Kesadaran bahwa dakwah Islam menjadi sarana ibadah menjadikan jihad fi sabilillah tidak lagi sebagai slogan. Jihad dengan tenaga dan harta menjadi budaya Muhammadiyah.
Untuk itu, demi membangun kembali soliditas, sangat mendesak segera melakukan tobat egoisme. Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah ke depan harus dipastikan jangan lagi melakukan kebijakan resufel serampangan. Rangkul semua kader, bangun dan besarkan.
Semua potensi harus terakomodir, tak ada yang merasa ditinggalkan, kecuali yang memang sengaja berdiam diri sehingga tertinggal.
Bagaimana soliditas ini dapat dibangun? Kembali harus diingatkan kepada semua kader tentang dasar dan semangat berpemuda Muhammadiyah.
Kedua, kurangi tensi politik dalam perhelatan muktamar. Goreng menggoreng isu sebaiknya dikurangi, sehingga suudzhon di antara sesama kader berkurang. Riang gembiralah bermuktamar, nikmati Yogyakarta, kota pertama berdirinya Muhammadiyah.
Ketiga, sadari sepenuhnya bahwa kita akan kembali bertemu di Muhammadiyah. Sikap picik, kurang bersahabat, jauh dari kesantunan harus dihindari bersama.
Apalagi politicking berlebihan. Semangat membangun Pemuda Muhammadiyah menjadi kekuatan utama, maka soliditas harus dibangun sepenuh hati.
Keempat, kandidat dan tim suksesnya harus bersama saling menahan diri agar tidak terlalu banyak luka di antara pendukung.
Menanglah dengan cara terhormat. Jangan gunakan cara-cara tidak pantas apalagi tipu-tipu yang melanggar hukum.
Akhirnya kepada seluruh peserta, kami sampaikan selamat bermuktamar, semoga soliditas tercipta agar organisasi mandiri, disegani dan berkemajuan benar-benar terealisasi. Wallaahu’alam.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/iu-rusliana.jpg)