Tribunners / Citizen Journalism

SKT FPI dan Matinya Optimisme Publik

Komitmen Kemenag pada pemberantasan radikalisme menjadi ambigu dengan memperpanjang izin operasional FPI.

SKT FPI dan Matinya Optimisme Publik
Istimewa
KH Imam Jazuli menyampaikan sambutan di acara Haul KH Anas Sirajuddin 

SKT FPI dan Matinya Optimisme Publik

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., M.A.*

Diterbitkannya SKT FPI tidak sama dengan merangkul perbedaan dalam keragaman. Komitmen Kemenag pada pemberantasan radikalisme menjadi ambigu dengan memperpanjang izin operasional FPI. Oleh karenanya, Bapak Tito Karnavian (Kemendagri) pantas mempertanyakan tafsir AD/ART FPI dan ragu akan deal politik antara FPI dan Kemenag.

Keraguan Kemendagri cukup beralasan, karena SKT FPI dapat saja bertentangan dengan SKB 11 Menteri tentang pemberantasan radikalisme. Sebab, selama ini FPI adalah salah satu elemen masyarakat yang cukup mencolok dalam merepresentasikan perilaku-perilaku radikal. Kemendagri pun tidak puas pada komitmen kebangsaan FPI, yang konon telah bersepakat dengan Kemenag untuk setia pada Pancasila dan NKRI.

Bukan saja Kemendagri yang curiga, publik pun curiga tentang 'deal' antara Kemenag dan FPI. Sebab, komitmen setia FPI pada Pancasila dan NKRI didukung oleh partai politik seperti PKS. Mardani Ali Sera (Ketua DPP PKS) dengan optimis memastikan FPI bisa buktikan kesetiaannya pada NKRI dan Pancasila. Jangan-jangan deal Kemenag dan FPI merupakan deal politik, bukan deal ideologis.

Dalam konteks ini, Menag terlihat bagaikan singa ompong. Semangatnya yang menggebu dalam memberantas radikalisme, berkoar-koar mewacanakan pelarangan cadar dan celana cingkrang bagi ASN, ternyata melempem di hadapan kekuatan FPI.

Pepatah bilang; bila guntur terlalu menggelegar, sering kali tak akan turun hujan. Publik pun menerima kecurigaan Tito Karnavian terkait keputusan dan deal politik antara FPI dan Fachrul Razi.

Terlalu dini Fachrul Razi mempermainkan rakyat dan umat muslim. Gaya politik yang dimainkannya sudah basi dan tidak jauh berbeda dari gaya Prabowo. Ia memberikan semangat moril pada gerakan kaum radikal, misalnya di saat-saat kampanye menjelang Pilpres 2019.

FPI pun punya harapan kelak Prabowo menang jadi presiden maka Imam Besar Habib Rizieq pulang ke Indonesia. Pasca Pilpres, Prabowo tumbang. FPI dan Prabowo pisah ranjang.

Kekalahan telak Prabowo dari Jokowi pada Pilpres 2019 adalah jawaban besar pada publik bahwa gerakan radikalisme sudah berakhir. Dengan mengabaikan FPI, publik merasa nyaman dengan pilihan politik Prabowo. Gerakan radikal jauh dari kekuasaan dan pemulihan paham radikalisme akan dilakukan secara kultural. Malangnya, tak ada Prabowo, malah Fachrul Razi yang dekat dengan FPI.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved