Tribunners / Citizen Journalism

Semangat Toleransi harus Terus diberikan pada Kelompok yang Rentan Terpapar Intoleransi

PADA TAHUN 2019 lalu Bangsa Indonesia telah berhasil melewati tantangan kebangsaan melalui proses kontestasi demokrasi.

Semangat Toleransi harus Terus diberikan pada Kelompok yang Rentan Terpapar Intoleransi
dok pribadi
Alamsyah M. Djafar

PADA TAHUN 2019 lalu Bangsa Indonesia telah berhasil melewati tantangan kebangsaan melalui proses kontestasi demokrasi. 

Dimana tahun 2019 disebut sebagai tahun politik dengan ragam dinamika persoalan yang menguak emosi dan persinggungan identitas di ruang publik.

Untuk itulah di tahun 2020 bangsa ini harus keluar dari lubang intoleransi, sekat primordial dan ujaran kebencian demi merekatkan kembali persaudaraan antar sesame warga bangsa.

Peneliti senior dari Wahid Foundation, Alamsyah M. Djafar mengatakan bahwa dalam menyemarakkan semangat toleransi dan anti radikalisme di tahun 2020 ini seharusnya di prioritaskan kepada kelompok yang rentan terpapar intoleransi agar tidak terjerumus lebih jauh.

“Jadi kalau kaitannya dengan toleransi dan intoleransi harus ada prioritas yang menyasar kelompok-kelompok yang rentan terpapar intoleransi. Misalnya yang tepapar  kelompok-kelompok kelas menengah yang memiliki pilihan politik tertentu, kemudian kita sering mendapatkan informasi-informasi yang berisi kebencian dan lain sebagainya,” ujar Alamsyah.

Selain itu menurut Alamsyah, menyampaikan narasi alternatif tentang toleransi, perdamaian dan anti radikalisme kepada kalangan masyarakat juga sangat penting demi memperkuat persaudaraan antar sesama warga bangsa. Tinggal selanjutnya  menentukan siapa mereka dan bagaimana media yang tepat untuk menyasar kelompok-kelompok yang rentan ini.

“Misalnya kepada kelompok ormas yang menggunakan cara-cara kekerasan atau bisa jadi penyampaian narasinya adalah bisa dilakukan oleh para mantan pelaku yang sudah tidak lagi tergabung dengan kelompok ‘keras’ tersebut atau dia sudah ‘tobat’ dari perbuatan kekerasan yang pernah dilakukanya,” kata pria yang juga pernah menjadi Program Manager Wahid Foundation ini.

Lebih lanjut Alamsyah juga mengungkapkan, untuk menyampaikan narasi toleransi, perdamaian dan anti radikalisme juga bisa dilakukan oleh para tokoh baik itu tokoh bangsa, tokoh masyarakat maupun tokoh agama yang selama ini telah menjdi panutan masyarakat. Apalagi jika para tokoh tersebut memiliki media sosial (medsos) dan sering memberikan pencerahan kepada masyarakat untuk mengajak bertoleransi

“Jadi masyarakat bisa mendapatkan narasi toleransi dan perdamaian dari tokoh-tokoh panutannya. Jika tidak dapat bertemu dari tokoh tersebut, saya kira bisa melalui media sosial yang mana mereka bisa langsung mengaksesnya. Apalagi kalau tokoh yang menjadi  panutan tersebut sering memberikan narasi perdamaian melalui media sosial dan memiliki banyak follower,” kata pria yang sedang menyelesaikan pasca Sarjana di School of Government and Public Policy (SGPP) tersebut..

Kemudian menurutnya, bisa saja ada pertanyaan bagaimana kalau mereka ini tidak memiliki panutan atau tokoh di lingkungan  masyarakatnya. Tetapi Alamsyah mengungkapkan bahwa kecil kemungkinan masyarakat tidak memiliki tokoh panutan atau seseorang yang ditokohkan di lingkungan masyarakat.

Halaman
12
Editor: Toni Bramantoro
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved