Tribunners / Citizen Journalism
Gus Yaqut dan Inspirasi Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Pengangkatan Gus Yaqut sebagai Menteri Agama mengakahiri era agama yang dijadikan sebagai alata aspirasi bukan inspirasi.
Demikian juga, pemberantasan radikalisme tidak bisa dilakukan hanya dari satu pintu dan pendekatan. Kemenag, TNI-Polri, BIN, dan seluruh elemen bangsa tanpa kecuali harus diajak berkolaborasi. Beberapa hari yang lalu, viral kotak amal menjadi jaringan pendanaan terorisme, dan Kemenag pun terpaksa membentuk tim investigasi (Tempo, 21/12/2020).
Selain itu, kordinasi Kemenag dan Kemendikbud juga penting. Mencermati alasan kaum milenial, pro-radikalisme, sangat menyayat hati. Radikalisme adalah cerminan kedangkalan berpikir. Matinya kritisisme dan intelektualisme dalam beragama. Karenanya, menghidupkan kembali semangat beragama yang kritis, ilmiah, dan tidak emosional adalah pekerjaan Kemenag bersama Kemendikbud. Hal ini menyangkut kecerdasan berpikir, pendidikan yang tepat, serta keilmuan yang luas.
Sudah berulang kali, di berbagai ceramah keagamaan, ulama-ulama besar sekaliber KH. Musthofa Bisri, KH. Said Aqil Siradj, dan M. Quraish Shihab mengajak umat agar cerdas beragama. Tekun belajar dan menguasai banyak ilmu. Supaya tidak terseret syahwat dan emosi.
Isi pidato perdana Gus Yaqut tampak bijaksana dan tepat dalam mendiagnosa. Menag mengajak santri dan pondok pesantren berkontribusi bagi bangsa dan negara. Sebab, radikalisme memang berawal dari sempitnya ruang gerak pesantren mengembangkan sayap pergerakannya.
Anak-anak muda milenial, yang suka turun ke jalanan, berdemonstrasi mengkritik pemerintah, meneriakkan takbir dengan mengatasnamakan Islam, belum tentu mereka pintar baca kitab kuning. Bahkan, viral pimpinan tertinggi mereka saja belepotan dalam urusan tashrif dan ilmu alat.
Inilah arti perkataan Gus Yaqut bahwa Islam harus menjadi inspirasi; yakni inspirasi kebaikan, inspirasi keluhuran budi pekerti, intelektualitas, serta semangat cinta tanah air. Bukan malah sebaliknya, Islam ditunggangi demi kepentingan politik; mengaspirasikan suara Islam namun menyembunyikan tujuan kekuasaan pragmatis di balik jubahnya. Naudzubillah min dzalik.
*Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kh-imam-j.jpg)