Minggu, 10 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Yaqut dan Inspirasi Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Pengangkatan Gus Yaqut sebagai Menteri Agama mengakahiri era agama yang dijadikan sebagai alata aspirasi bukan inspirasi.

Tayang:
Editor: Husein Sanusi
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon 

Gus Yaqut dan Inspirasi Islam Rahmatan lil ‘Alamin

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Pengangkatan KH. Yaqut Cholil Coumas (Gus Yaqut) sebagai Menteri Agama (Menag) membawa angin segar. Di beberapa sosial media, seperti youtube, twitter, instagram, dan lainnya bermunculan apresiasi dari kalangan nonmuslim. Mereka menaruh harapan besar, dan yakin suara mereka akan betul-betul terwakili.

Sebenarnya, terlalu sempit melihat harapan besar itu hanya datang dari internal kita sendiri. Bulan lalu, Oktober, GP Ansor telah mempromosikan Pancasila dan Islam Moderat kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika, Mike Pompeo, berkunjung ke Indonesia. GP Ansor (NU) dinilai satu-satunya ormas yang selevel negara-negara internasional, karena menginspirasikan perjuangan menegakkan perdamaian dunia.

Secara politis, Keputusan Presiden Joko Widodo menempatkan representasi GP Ansor di posisi Menag, sudah tepat walau sedikit telat. Bukan saja karena memang habis-habisan (allout) menjadi timses pada Pilpres 2019, tetapi juga GP Ansor paling progresif dan lantang di media sosial berbicara deradikalisasi.
Semangat menggebu-gebu GP Ansor ini harus dilihat sebagai energi kebangsaan yang organik. Islam di mata GP Ansor adalah agama yang menginspirasi cinta tanah air, nasionalisme, dan menjadi rahmat bagi alam semesta.

Artinya, walaupun sebelumnya GP Ansor tidak pernah duduk di jabatan struktural pemerintahan, perjuangan menjaga tanah air dan perdamaian adalah tidak akan pernah berhenti, sudah mendarah daging. dan bukan alat politik untuk merebut kekuasaan. Inilah makna Islam sebagai inspirasi. Salah satu motto warga Nahdliyyin hubbul wathan minal iman, nasionalisme adalah bagian dari iman.

Selama ini, Islam di ruang publik dijadikan sebagai aspirasi, bukan lagi inspirasi. Mereka menuntut agar semuanya serba Islam. Negara harus Islam. Aturan perundangan harus Islam. Perilaku sosial harus Islam. Padahal, Islam yang mereka maksud adalah Islam versi aspirasi mereka sendiri, bukan aspirasi umat muslim yang mayoritas.

Pengangkatan Gus Yaqut sebagai Menag menandai awal berakhirnya proyek menjadikan Islam sebagai aspirasi, dan awal baru bagi Islam sebagai inspirasi. Islam sebagai inspirasi akan melahirkan politik kebangsaan, mendorong kehidupan sosial-politik yang harmonis, kerukunan antar umat beragama, penghargaan terhadap pluralitas, adat istiadat, dan kearifan lokal.

Melalui jabatan Menag ini, kepribadian Gus Yaqut dipandang akan mampu menyatukan umat beragama. Awal pidatonya paska pelantikan, dikatakan dengan tegas bahwa negara bukan milik umat muslim saja. Semua elemen bangsa yang beragam turut serta dalam merebut kemerdekaan dari kolonial. Jadi, aspirasi kebangsaan tidak boleh dimonopoli umat muslim semata, apalagi ormas tertentu.

Secara umum, pidato pembukaan Gus Yaqut sebagai Menag mencerminkan makna Islam rahmatan lil alamin. Hal ini akan menjadi modal besar bagi negara, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Di dalam negeri, Islam rahmatan lil alamin berfungsi sebagai langkah stabilisasi dan membangun harmoni, baik antar aliran/sekte dalam Islam maupun antara Islam dan non-Islam.

Di luar negeri, Islam rahmatan lil alamin dibutuhkan oleh negara untuk menangkal proyek radikalisme global. Perlu diingat, paham radikal bukan gerakan organik, yang tumbuh dari kesadaran personal umat, melainkan proyek politik global yang diekspor ke berbagai negara.

Indonesia bersama negara-negara Asia Tenggara lainnya sama-sama menderita akibat Islam radikal ini. Pola keberagamaan yang beragam, sudah sesuai dengan kultur, adat-istiadat, serta kearifan lokal masing-masing, hendak diberangus. Inilah derita negara-negara muslim Asia Tenggara akibat virus radikalisme global.

Framework bahwa radikalisme sebagai proyek global, ini sangat penting. Kebijakan publik Kemenag di masa-masa mendatang dalam membasmi radikalisme, hendaknya menutup segala pintu masuk. Radikalisme Islam itu ibarat narkoba, jika tidak diproduksi di dalam negeri, sudah tentu diimpor dari luar.

Choirul Mahfud, dkk., menyebutkan bahwa radikalisme agama memang tidak bisa dipisahkan dari proyek terorisme global, dan ini menjadi tantangan terbesar umat muslim kontemporer di Indonesia (Mahfud, C., dkk. 2018. Religious Radicalism, Global Terrorism and Islamic Challenges in Contemporary Indonesia. Jurnal Sosial Humaniora, 11, 1).

Karenanya, wadkhulu min abwabin mutafarriqah. “Masuklah dari berbagai pintu berbeda,” (Qs. Yusuf: 67). Ayat ini adalah bagian manajemen strategis, yang dipesankan Nabi Yakub kepada anak-anaknya untuk mencapai satu tujuan bersama.

Demikian juga, pemberantasan radikalisme tidak bisa dilakukan hanya dari satu pintu dan pendekatan. Kemenag, TNI-Polri, BIN, dan seluruh elemen bangsa tanpa kecuali harus diajak berkolaborasi. Beberapa hari yang lalu, viral kotak amal menjadi jaringan pendanaan terorisme, dan Kemenag pun terpaksa membentuk tim investigasi (Tempo, 21/12/2020).

Selain itu, kordinasi Kemenag dan Kemendikbud juga penting. Mencermati alasan kaum milenial, pro-radikalisme, sangat menyayat hati. Radikalisme adalah cerminan kedangkalan berpikir. Matinya kritisisme dan intelektualisme dalam beragama. Karenanya, menghidupkan kembali semangat beragama yang kritis, ilmiah, dan tidak emosional adalah pekerjaan Kemenag bersama Kemendikbud. Hal ini menyangkut kecerdasan berpikir, pendidikan yang tepat, serta keilmuan yang luas.

Sudah berulang kali, di berbagai ceramah keagamaan, ulama-ulama besar sekaliber KH. Musthofa Bisri, KH. Said Aqil Siradj, dan M. Quraish Shihab mengajak umat agar cerdas beragama. Tekun belajar dan menguasai banyak ilmu. Supaya tidak terseret syahwat dan emosi.
Isi pidato perdana Gus Yaqut tampak bijaksana dan tepat dalam mendiagnosa. Menag mengajak santri dan pondok pesantren berkontribusi bagi bangsa dan negara. Sebab, radikalisme memang berawal dari sempitnya ruang gerak pesantren mengembangkan sayap pergerakannya.

Anak-anak muda milenial, yang suka turun ke jalanan, berdemonstrasi mengkritik pemerintah, meneriakkan takbir dengan mengatasnamakan Islam, belum tentu mereka pintar baca kitab kuning. Bahkan, viral pimpinan tertinggi mereka saja belepotan dalam urusan tashrif dan ilmu alat.

Inilah arti perkataan Gus Yaqut bahwa Islam harus menjadi inspirasi; yakni inspirasi kebaikan, inspirasi keluhuran budi pekerti, intelektualitas, serta semangat cinta tanah air. Bukan malah sebaliknya, Islam ditunggangi demi kepentingan politik; mengaspirasikan suara Islam namun menyembunyikan tujuan kekuasaan pragmatis di balik jubahnya. Naudzubillah min dzalik.

*Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved