Tribunners / Citizen Journalism
Filateli
Arsip Cetakan Prangko: Tidak Tua, Tetapi Sangat Langka
Para filatelis punya rasa penasaran sangat besar sehingga tidak puas hanya dengan mengoleksi prangko.
Oleh: Gilang Adittama *)
MUNGKIN semua orang mengetahui bentuk dan fungsi prangko bahkan memiliki kepercayaan bahwa prangko tua adalah barang langka nan mahal.
Sayangnya, sedikit sekali orang memahami tahapan pencetakan penerbitan sebuah prangko.
Para filatelis punya rasa penasaran sangat besar sehingga tidak puas hanya dengan mengoleksi prangko.
Dengan berbagai upaya mereka melakukan penelusuran untuk mengidentifikasi benda–benda terarsipkan dalam proses penerbitan prangko.
Saat ini di kalangan filatelis, baik exhbitor maupun non-exhibitor, dikenal beberapa istilah seperti artwork, essay, proof, dan specimen.
Berbagai sebutan mulai dari ‘top rarity’, ‘world status’, hingga ‘barang sakti’ seringkali disematkan pada benda-benda tersebut karena tingkat kepentingan dan kelangkaannya.
Proses penerbitan sebuah prangko bermula dari terciptanya ‘artwork’.
Biasanya artwork merupakan karya seorang pelukis yang ditunjuk oleh dinas pos untuk mendesain prangko dengan tema tertentu.
Si pelukis boleh membuat lukisan dengan berbagai media dan jenis cat seperti cat air pada kertas tebal atau cat minyak pada cardboard.
Karena hanya ada satu artwork untuk satu penerbitan, maka benda ini bernilai sangat tinggi jika sampai masuk ke pasar.
Sebuah artwork dari prangko modern biasanya dihargai sekitar lima sampai dua puluh juta rupiah.
Jika artwork modern saja sudah begitu mahal, maka tidaklah mengejutkan jika artwork prangko klasik sebelum tahun 1940-an seringkali dibanderol minimal tiga puluh juta rupiah dan mungkin saja terjual seharga miliaran.
Pada tahap kedua, muncul suatu benda bernama ‘essay’ yang merupakan cetakan percobaan dengan desain yang masih belum resmi disetujui dinas pos.
Di pasaran terdapat dua jenis essay, yaitu photo essay dan publicity essay.
Gambar pada photo essay biasanya berbeda dengan gambar pada prangko karena adanya proses revisi.
Photo essay masih bernilai lebih tinggi dari publicity essay karena publicity essay seringkali dicetak bukan untuk pengesahan maupun arsip negara tetapi untuk publikasi di media.
Essay biasanya tidak dihargai terlalu mahal di kalangan kolektor. Umumnya benda ini bisa didapatkan pada kisaran harga lima ratus ribu hingga beberapa juta rupiah saja.
Setelah ‘essay’ disetujui oleh dinas pos, maka akan dibuat sebuah cetakan percobaan dengan nama ‘proof’.
Keberadaan berbagai jenis proof di dunia disebabkan oleh adanya perbedaan proses dan persyaratan cetak di berbagai negara penerbit prangko.
Di antara sekian banyak proof, yang termasuk penting dan bernilai cukup tinggi adalah die proof, progressive proof, sepia proof, approval proof, monochrome proof, cromaline proof dan plate proof.
Beberapa proof seperti deluxe proof, e-preuve, dan black print proof dianggap tidak bernilai karena sengaja dicetak sekadar untuk memuaskan para kolektor prangko.
Seperti variannya, harga proof juga sangat beragam. Berbagai faktor seperti jumlah cetak, tingkat kepentingan, dan kredibilitas percetakan sangat mempengaruhi pembentukan harga pasarnya.
Tahap akhir dari seluruh proses tersebut adalah pencetakan prangko asli dengan tambahan cap SPECIMEN, MUSTER, MUESTRA, MONSTER, OBRASETZ dan lainnya yang diedarkan ke para pegawai pos untuk membantu mereka mengidentifikasi keberadaan prangko palsu.
Baca juga: Ada Prangko Pertama di Dunia hingga Prangko Tematik, Intip Koleksi Museum Pos Indonesia di Bandung
Dengan adanya prangko specimen, mereka akan memiliki pembanding untuk menentukan keaslian suatu prangko.
Prangko SPECIMEN sendiri tidak bisa dipakai untuk pengeposan karena sudah dirusak dengan adanya cap tambahan tersebut.
Sayangnya saat ini banyak prangko diberi cap specimen palsu untuk menaikkan nilai pasarnya.
Berbeda dengan prangko specimen klasik era 1840 – 1940, prangko specimen modern umumnya dihargai tidak terlalu tinggi.
Umumnya nilai prangko spesimen modern hanya sekitar dua puluh persen di atas nilai nominal atau harga pasaran prangko aslinya.
Memiliki benda–benda tersebut tentu merupakan kebahagiaan dan kebanggan luar biasa bagi seorang filatelis.
Namun patut diingat bahwa memiliki benda langka tanpa mampu melakukan studi dan memaparkan hasilnya tetaplah sebuah kesia–siaan karena berfilateli bukan hanya soal unjuk kekayaan, tetapi juga unjuk pengetahuan dan mentalitas.
Bagi yang ingin berdiskusi filateli ada whatsapp group bagi Filatelis, email ke: filateli@jepang.com Subject: Filatelis, dengan nama lengkap alamat tanggal lahir dan nomor whatsapp, gratis.
*) Penulis adalah peraih medali Vermeil Tematik di Bangkok F.I.P 2013 dan Large Vermeil di Singapore fournation 2016. Sisanya ada beberapa medali pameran filateli dari tahun 2005 - 2012. Magister pendidikan bahasa Inggris, Universitas Lampung
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/benda-filateli-yang-salah-cetak.jpg)