Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Kiai, Saya Ingin ‘Menjadi Soekarno’

Ceramah KH.Imam Jazuli di wisudi santri SMK dan MA Pesantren Bina Insan Mulia membakar semangat para wisudawan.

Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon.
Prosesi wisuda santri dan santriwati SMK dan MA unggulan bertaraf Internasional Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Selasa, (22/6/2021). 

Kiai, Saya Ingin ‘Menjadi Soekarno’

Oleh: Rizal Maulana Fahlevi*

TRIBUNNEWS.COM - Tulisan ini catatan saya ketika mengikuti acara Wisuda ke 7 SMK Bina Insan Mulia dan Ke 2 Madrasah Aliayah Unggulan Bertaraf Internasional Bina Insan Mulia Cirebon. Di atas panggung, bukan Kiai Haji Imam Jazuli, Lc., M.A., yang tampak di mata saya, melainkan sosok 'reinkarnasi' Raden Hadji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto, seorang bangsawan teladan yang memperkenalkan pola pikir kebangsaan yang modern. Salah satu santri H.O.S. Tjokroaminoto yang masyhur adalah Ir. Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia.

Kata-kata Bung Karno (panggilan akrabnya) yang selalu saya ingat: "beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia." Saya menafsiri perkataan Pak Karno ini dari sudut pandang sebuah buku berjudul Jihad Ilmiah: Dari Pesantren Tremas ke Harvard, yang ditulis oleh Prof. K. Yudian Wahyudi, Ph. D (2009). Dunia hanya bisa digoncang oleh para pemuda yang memiliki tekad kuat untuk berjihad di dalam pengembangan sains dan teknologi. 

Visi pendidikan berlandaskan jihad pengembangan sains dan teknologi tersebut disampaikan oleh Kiai Imam Jazuli. Menurut catatan beliau, Tahun 2021 ini ada 90% santri alumni pesantren Bina Insan Mulia yang akan melanjutkan jihad ilmiah ke luar negeri, 96 santri ke universitas al-Azhar Mesir, 17 santri ke Istambul University of Turkey, 1 santri ke Industrial University of Tyumen Rusia, 1 Shizuoka Eiwa University of Japan, Alhamdulilah, saya bagian dari yang 90% tersebut, dengan membawa tekad seperti yang diwariskan H.O.S. Tjokroaminoto kepada Ir. Soekarno.

Cita-cita saya berlandaskan pada nasehat Ayanda Kiai Imam Jazuli, bahwa para santri harus memiliki impian jauh ke depan dengan menjadikan Bina Insan Mulia Cirebon sebagai wasilah menuju universitas-universitas termaju di luar negeri. Harapan lain Kiai adalah bahwa santri harus menyebar ke seluruh negara, dimana hari ini para santri Bina Insan Mulia baru tersebar di 6 negara. Tetapi, masih banyak yang akan menempuh pendidikan di Benua Eropa dan Amerika masih dalam masa-masa persiapan.

Persiapan yang dilakukan Pondok Pesantren Bina Insan Mulia mengusung 3 visi besar: Khidmah (pelayan umat), Himmah ‘Aliyah (cita-cita tinggi) dan Shuhbah (Relasi). Melayani umat berarti pengabdian kepada bangsa dan negara, bukan demi kepentingan diri sendiri. Saya menjadi sadar mengapa bangsa dan negara ini selalu dipenuhi oleh kericuhan, konflik, dan segudang persoalan yang tidak kunjung tuntas. Tampaknya, banyak sekali elite-elite politisi dan pemimpin yang lebih mengedepankan kepentingan diri sendiri dan kelompok daripada pelayanan pada umat.

Saya juga sadar, ada benarnya pidato yang ayahanda Kiai Imam Jazuli sampaikan bahwa bangsa kita hari ini masih dijajah. Hal itu karena elite politisi dan pemimpin negeri tidak memiliki cita-cita yang tinggih untuk melayani umat. Dari itu saya merasa tergugah hati untuk ikut pada arus perubahan yang Kiai Imam Jazuli galakkan untuk mengubah Indonesia pada 10-20 tahun mendatang; dengan cara apapun, baik kelak saya menjadi politisi, teknokrat, birokrat, ataupun pengusaha, yang mengabdikan seluruh kemampuan untuk berkhidmat pada bangsa dan negara.

Di mata saya sebagai seorang santri yang baru diwisuda, sosok Kiai Imam Jazuli bagaikan H.O.S Cokroaminoto, yang berhasil mendidik seorang murid seperti Soekarno. Saya ingin menjadi seperti Soekarno, yang membawa bangsa dan negara ini merdeka dari penjajahan. Soekarno sendiri adalah ilmuan yang menempuh pendidikan di luar negeri. Soekarno mencinta NKRI dengan bukti nyata; dengan ilmu pengetahuan dan perjuangan dalam dunia nyata, yaitu berkontribusi untuk Bangsa Indonesia.

Kiai juga berpesan pada pidatonya itu, bahwa hari ini adalah waktu yang tepat kita (para santri) belajar ke negara-negara yang lebh maju dari Indonesia di bidang sains dan teknologi, kemudian pulang ke tanah air membawa ilmu dan berkontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermanfaat bagi rakyat Indonesia.

Sebelum saya mengenal dunia, perkembangan kehidupan berbangsa dalam negeri, saya hanyalah anak kampung dari keluarga miskin. Tidak pernah terlintas dalam pikiran untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri. Bahkan, saya tidak pernah terbayang bisa mampu melanjutkan kuliah di dalam negeri. Program pemerintah berupa Wajib Belajar 12 Tahun lebih tampak seperti idealisme, bukan kebutuhan real dan konkrit sehari-hari hidup keluarga saya. Barulah di Bina Insan Mulia ini, semua bayangan itu berubah.

Secara perlahan-lahan, pesantren memperkenalkan kurikulum pendidikan berbahasa Ingris. Mimpi untuk melanjutkan pendidikan tingkat kuliah di luar negeri terus ditanamkan, inilah "Himmah" yang telah ditanam dalam diri saya oleh kiai Imam Jazuli, Mimpi-mimpi berjejaring dan berhubungan dengan orang-orang multinasional, terus diupayakan agar menjadi nyata. Kiai selalu menekankan bahwa pendidikan di Sekolah Bina Insan Mulia tidak untuk menjadikan santri sebagai buruh, melainkan sebagai agent of change yang membawa perubahan besar bagi bangsa dan negara, bahkan dunia.

Perubahan itu, menurut Kiai, hanya bisa dicapai jika kita sendiri berkualitas dan kita selalu gotong royong dan berkolaborasi dengan semua pihak, inilah konsep "shuhbah" yang diajarkan kiai kepada saya. Karenanya, kepada para santri yang hendak berangkat ke luar negeri, Kiai mendorong pada santri untuk bergaul dengan siapa pun dan jangan sebatas bergaul sesama alumni pondok Bina Insan Mulia. Kata Kiai, “boleh kita berbeda ideologi dan ormas, tetapi silaturahmi tidak boleh terputus.”

Ingin saya sampaikan: terimakasih, Kiai, atas semua bimbingan selama ini dan atas semua siraman rohani dan semangat yang selalu ditanamkan. Selama mesantren di Bina Insan Mulia, tirakat puasa Dalailul Khairat saya pegang teguh dan insyaallah akan tetap berlanjut hingga kelak saya di luar negeri. Sebab setinggi apapun ilmu seseorang tidaklah cukup bila tidak disertai oleh anugerah dan keberkahan spiritual. Doakan saya, Kiai, semoga kelak saya menjadi seperti Presiden Soekarno yang membanggakan negara bahkan dunia. Sebab, engkaulah adalah H.O.S. Tjokroaminoto di dalam hati saya. Amien.

* Santri kelas 12 Madrasah Aliyah Unggulan Bertaraf Internasional Bina Insan Mulia, Cirebon.

Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved