Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Mengapa Masih Meragukan Kehebatan Vaksin Nusantara?

Situs clinicaltrials.gov yang berlokasi di Amerika Serikat merilis jurnal terkait Vaksin Nusantara dengan judul "Preventive Dendritic Cell Vaccine

Editor: Toni Bramantoro
Tribunnews.com/Lusius Genik
Mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari bersama dokter Terawan Agus Putranto di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Terawan telah menyuntikkan sel dentitrik ke tubuh Siti Fadilah. Sel dentitrik itu dipercaya mampu melawan virus Corona karena telah melalui proses inkubasi bersama kit Covid-19 dan zat lainnya/Istimewa. 

OLEH: Dar Edi Yoga

Situs clinicaltrials.gov yang berlokasi di Amerika Serikat merilis jurnal terkait Vaksin Nusantara dengan judul "Preventive Dendritic Cell Vaccine, AV-COVID-19, in Subjects Not Actively Infected With COVID-19", pada Jumat (20/8/2021).

Dalam jurnal itu, diulas uji klinis vaksin dari dendritik sel itu. Namun, sejumlah pemberitaan media tanah air membantah bahwa WHO telah mengakui uji klinis fase 2 terhadap Vaksin Nusantara besutan Mantan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto.

Disebutkan juga, WHO tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi terkait vaksin ini. Situs ClinicalTrials.gov sendiri merupakan milik Perpustakaan Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NLM), bukan WHO.

Terkait hal itu, menurut saya situs Clinical Trials dibuat berdasarkan aturan Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan AS (FDA), yakni Modernization Act of 1997 (FDAMA).

FDAMA mengharuskan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS), melalui NIH, untuk membuat daftar informasi uji klinis bagi studi yang didanai pemerintah maupun swasta.

Dan menurut saya, WHO pun mengambil jurnal itu sebagai rujukan uji klinis sebuah vaksin karena diakui oleh pemerintah Amerika, atau bisa jadi Clinicaltrials.gov dipakai sebagai salah satu acuan jurnal lembaga uji klinis oleh WHO.

Jika membaca berita yang diulas sejumlah media tanah air yang menyebutkan Vaksin Nusantara tidak diakui WHO,  seharusnya mereka melakukan cek n ricek terlebih dahulu ke badan dunia itu, atau menunggu pernyataan resmi dari WHO sehingga tidak terjadi trial by the press.

Menjadi kewajiban kita untuk mendukung Vaksin Nusantara sebagai karya anak bangsa dengan melakukan pemberitaan yang benar sesuai kaidah jurnalistik.

Sebagai praktisi media, saya juga merasa prihatin jika sebuah media menghakimi pemberitaan media lainnya dengan seolah-olah jadi corong pihak tertentu. Ibarat seperti jeruk makan jeruk.

Halaman
12

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved