Kamis, 23 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Pesantren Hadirkan Solusi Terbaik Saat Indonesia Hadapi Bonus Demografi

Dalam periode 15 tahun terakhir, jumlah populasi kelas menengah Indonesia naik dari 7% menjadi 20%.

Editor: Husein Sanusi
Pesantren Bina Insan Mulia.
KH. Imam Jazuli 

Fasilitas santri di luar kamar terdiri atas Café Gaul, kolam renang, area outbond, western dan oriental restaurant, fasilitas olahraga dan fitness, mini market, klinik/puskestren, studio, perpustakaan, laundry, dan lain-lain.

Untuk makan, pesantern menyediakan makanan bergizi dan disediakan snack untuk para santri dan guru.

Mengisi Ruang Masa Depan Bangsa

Kita diperintahkan untuk menciptakan persiapan antisipatif sebagaimana dijelaskan Al-Quran. “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al Hasyr: 18).

Hadits Nabi yang sangat terkenal juga menyuruh kita untuk mengantisipasi masa depan. Beliau bersabda: “Jagalah lima hal sebelum lima hal. (1) Mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, (4) kayamu sebelum miskinmu, (5) hidupmu sebelum matimu.”

Ada hadits Nabi SAW yang juga sangat terkenal mengenai masa depan itu bahwa masa depan itu harus diisi dengan sesuatu meskipun kita tidak tahu. Nabi memberikan gambaran bahwa seandainya di tangan kita ada sebutir biji dan besok hari sudah ada pengumuman akan ada hari kiamat, maka tugas kita adalah menabur benih itu.

Ini berarti perintah agar seseorang perlu menyiapkan masa depan dengan baik. "Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka tanamlah jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya,” (HR. Bukhari&Ahmad).

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Amarah bin Khuzaimah berkata, “Aku mendengar Umar bin Khathab berkata kepada bapakku. “Apa yang menghalangimu untuk menanam lahanmu?” Bapakku berkata, “Aku tua renta yang akan mati besok.” Umar berkata, “Kuyakinkan kau harus menanamnya.” Aku menyaksikan Umar bin Khathab menanam tanaman dengan tangannya bersama bapakku.

Apa hubungan pembahasan saya dengan Bina Insan Mulia 2? Dari prediksi para ahli secara ilmiah, Indonesia akan menjadi salah satu negara besar di bidang ekonomi di tahun 2050, bersama China, India, Jepang, Korea, dan lain-lain. Ada lagi yang memprediksikan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi baru di tahun 2030 bersama tujuh negar besar lainnya.

Di samping itu Indonesia juga akan mendapatkan anugerah yang disebut bonus demografis. Ini adalah istilah untuk menggambarkan bahwa nanti Indonesia akan memiliki jumlah penduduk produktif yang banyak sekali melebihi jumlah orang yang usia tidak produktif yaitu anak-anak dan manula.Bonus demografis ini akan menjadi modal yang luar biasa bagi Indonesia untuk meraih kemajuan di barbagai bidang.

Pendapat para ahli menyatakan bahwa sebelum negara-negara maju tersebut meraih kemajuan, mereka diberi bonus demografis dulu oleh Allah SWT lalu bonus itu dikelola dengan benar. Sebaliknya, jika bonus demografis itu salah kelola, maka ia akan menjadi ancaman besar bagi bangsa dan negara.

Artinya, bonus demografis itu butuh pengelolaan. Artinya lagi, kunci supaya pengelolaannya bagus adalah kepemimpinan. Artinya lagi, kita ini akan berlomba-lomba rebut kepemimpinan dari generasi muda yang produktif itu. Artinya lagi, kita perlu mempersiapkan masa depan.

Sebagaimana diingatkan oleh Jenderal Sudirman, jika orang-orang baik itu diam, tidak melakukan sesuatu, maka kepemimpinan generasi ke depan itu akan dikuasi oleh orang-orang yang tidak baik. Ini logis. Bahkan jauh sebelumnya Sayyidina Ali bahkan sudah mengingatkan bahwa kebenaran yang tidak dikelola dengan baik itu akan dikalahkan oleh kejahatan yang dikelola secara jitu.

Dari kontek inilah Bina Insan Mulia 2 bertekad mengambil peranan pada kepemimpinan bangsa dari generasi muda ke depan. Tentu, karena nanti pemudanya adalah masyarakat baru yang berbeda dengan hari ini, maka sebagai ijtihadnya adalah kita perlu menyiapkan generasi yang berbeda (qaumun akhar).

Seperti apa kepemimpinan yang dibutuhkan di masa depan? Secara hakikat tentu hanya Allah yang tahu. Tetapi sebagai proses ijtihad, dan berdasarkan petunjuk wahyu, ilmu dan pengalaman, yang paling inti adalah pemimpin yang memiliki nilai-nilai kokoh di dalam dirinya. Nilai-nilai itu akan menghantarkannya untuk menjadi orang yang jujur, bertanggung jawab dan berhikmat kepada kepentingan umat dan bangsa.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved