Tribunners / Citizen Journalism
Indonesia 'Bukan' Negeri Kutukan
Indonesia dikenal adi luhung budaya dan tata kramanya. Tapi banyak pejabat tak punya muka. Salah pun tetap jemawa.
Banyak pejabat kaya-raya. Tapi rakyat penuh nestapa.
Sumber daya alam Indonesia sangat berlimpah. Ada emas, tembaga, emas putih (nikel), emas hitam (batubara), emas hijau (hutan), emas biru (lautan) dan sebagainya.
Tapi rakyat Indonesia cukup menjadi penonton saja.
Semua sumber daya alam itu banyak dirampok dan dibawa ke mancanegara. Rakyat Indonesia tetap papa (miskin dan sengsara).
Indonesia pun bergelimang utang.
Nilai utang pemerintah pusat mengalami kenaikan per Januari 2025, mencapai R8.909,14 triliun atau naik sekitar 1,22 persen dari catatan per Desember 2024 sebesar Rp8.801,09 triliun.
Angka pengangguran di Indonesia terus bertambah. Tahun 2025 ini diperkirakan mencapai 5,10 persen atau 7,42 juta orang.
Angka kemiskinan juga masih relatif tinggi. Tahun 2024 lalu, jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 24,06 juta orang.
Indonesia adalah negara agraris. Tapi nyaris semua bahan pangan harus impor. Beras impor. Gandum impor. Kedelai impor. Daging pun impor.
Indonesia adalah negara maritim. Tapi garam industri saja harus impor. Padahal Indonesia adalah negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada.
Kalau sudah begini, lalu salah siapa? Tentu saja yang mengurus negara.
Trias politika. Ada eksekutif. Ada legislatif. Ada yudikatif.
Kalau para pemimpin itu tak kunjung "siuman" dan menyadari kesalahannya, bukan tidak mungkin Indonesia akan benar-benar menjadi negeri kutukan.
Tuhan akan murka melihat para pemimpin merajalela.
Murka Tuhan bisa ditumpahkan lewat alam atau manusia. Bencana alam seperti tsunami bisa melanda. Revolusi seperti 1998 bisa jadi bukan isapan jempol belaka.
Kini, kondisi Indonesia ibarat perempuan hamil tua. Prabowo Subianto, waspadalah!
*Karyudi Sutajah Putra: Jurnalis, tinggal di Jakarta
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/karyudi-sutaj-dff.jpg)