Kamis, 23 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Keselamatan Kerja Tambang Underground: Antara Benchmark Global & Risiko

Freeport menjadikan keselamatan pekerja sebagai prioritas utama dalam setiap tahap kegiatan penambangan

|
Editor: Sanusi
HO/PTFI
EVAKUASI - Tim Tanggap Darurat PT Freeport Indonesia (PTFI) pada Minggu, 5 Oktober 2025, telah menemukan dan mengevakuasi 3 (tiga) jenazah rekan kerja dari lokasi insiden luncuran material basah di Tambang Bawah Tanah Grasberg Block Cave (GBC). 

 

Oleh: Ferdy Hasiman, Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch
 
TRIBUNNERS - Perusahaan tembaga dan emas terbesar Indonesia yang menambang di Grasberg, Papua sudah menghentikan operasi tambang hampir sebulan menyusul kecelakaan besar akibat luncuran material basah berisi batuan dan lumpur dalam volume besar yang terjadi di Grasberg Bloc Cave, salah satu tambang bawah tanah Freeport

Freeport harus menghentikan semua aktivitas penambangan dan menghentikan pengiriman konsentrat tembaga ke pembeli (buyer) terhitung sejak awal bulan September, 2025 silam. 

Penghentian itu terjadi karena perusahaan hanya fokus mencari 7 orang pekerja yang terjebak di dalam Grasberg Block Cave. Dari 7 orang itu, 2 di antaranya sudah ditemukan meninggal dan 5 lainnya dalam proses pencarian.

Baca juga: Tim Tanggap Darurat Freeport Indonesia Berhasil Temukan Sebagian Pekerja, Upaya Pencarian Berlanjut

Kabar terbaru dari manajemen Freeport pada tanggal 6 Oktober, 2025, 5 orang yang belum diketahui sudah ditemukan meninggal. Publik di tanah air tentu berbelasungkawa atas 7 pekerja yang meninggal di tambang bawah tanah dan berharap musibah seperti ini tak terulang lagi ke depan. 

Era Underground

Era open-pit (tambang terbuka) Grasberg sudah berakhir tahun 2020. Freeport melakukan penambangan di Grasberg open-pit sejak awal tahun 1990, hingga akhir 2019 dengan rata-rata produksi harian mencapai lebih dari 200.000 matrik ton bijih. Sejak tahun 2020 secara definitif, Freeport sudah memasuki era underground atau tambang bawah tanah.

Baca juga:  Rosan: Freeport Lepas Saham ke Indonesia 12 Persen, Bangun Sekolah dan RS di Papua

Berdasarkan catatan kami, cadangan tambang bawah tanah mencapai 3 miliar ton ore (bijih). Bijih itu mengandung tembaga, emas, dan perak. Panjang tambang bawah tanah mencapai 700 KM dan menurut proyeksi sampai penambangan tahun 2041 (masa akhir kontrak Freeport) bisa sepanjang 1000 KM. Tambang underground, mencakup wilayah Kucing Liar, Big Gossan, Grasberg Blok Cave dan DMLZ Block Cave. Total produksi harian di tambang underground juga mencapai 200.000 matrik ton bijih per hari.
 
Tahun 2023 silam, saya berkesempatan mengunjungi tambang bawah tanah Freeport. Untuk mencapai ke sana, kita harus melewati terowongan bawah tanah yang cukup panjang. Sepanjangan terowongan, kita melihat lampu cukup terang. Terlihat beberapa generator yang cukup besar untuk mendukung kelistrikan di dalam terowongan. Alat berat juga terlihat siap di dalam tambang bawah tanah. Itu yang membuat tambang bawah tanah Freeport menjadi tambang terbesar dan tercanggih di dunia. 

Dengan kompleksitas operasi di Grasberg Block Cave (GBC), Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan, Freeport menjadikan keselamatan pekerja sebagai prioritas utama dalam setiap tahap kegiatan penambangan.

Freeport telah lama menjadi benchmark global dalam praktik keselamatan tambang bawah tanah. Freeport sudah lama menjadi anggota International Council on Mining and Metals (ICMM), dan juga Copper Mark,  sebuah kerangka kerja penilaian yang memvalidasi praktik-praktik pertambangan tembaga yang bertanggung jawab dan penerapan standar global Keselamatan & Kesehatan Kerja di seluruh dunia. 

Hal ini terlihat dari penerapan teknologi mutakhir, mulai dari sistem monitoring real-time geoteknik, seismik, ventilasi, peralatan otomatisasi seperti loader dengan kendali jarak jauh (remote loader) dan autonomous train atau kereta tanpa awak, serta keberadaan refuge chamber untuk tempat perlindungan darurat.

Namun, seketat apapun sistem keselamatan, tambang bawah tanah memiliki karakteristik yang kompleks dan penuh ketidakpastian. Risiko geoteknik, fenomena wet muck atau lumpur basah, hingga faktor alam seperti gempa bumi dan curah hujan ekstrem, adalah potensi ancaman yang tidak selalu bisa diprediksi.

Musibah yang menimpa blok tambang terbesar, Grasberg Block Cave pada awal September 2025 menjadi bukti nyata bahwa bahkan dengan infrastruktur keselamatan berstandar internasional, insiden tak terduga tetap dapat terjadi. Luncuran material basah dengan volume sangat besar menimbulkan tragedi yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana tujuh pekerja terjebak di area tambang bawah tanah. 

Dua orang pekerja ditemukan pada 20 September 2025, dan lima pekerja ditemukan pada 5 Oktober 2025, semuanya dalam keadaan meninggal. Kita tentu berbelangsungkawa atas meninggalnya pekerja tambang bawah tanah Freeport ini.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved