Kamis, 16 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Jamur: Penjaga Sunyi Hutan Indonesia yang Terlupakan

Indonesia, menopang ekosistem lewat miselium dan peran vital yang sering terlupakan.

Editor: Glery Lazuardi
Freepik
ILUSTRASI JAMUR. Gambar merupakan ilustrasi yang diambil dari Freepik, Kamis (19/6/2025). Di balik sunyi lantai hutan, jamur bekerja tanpa sorotan. Mereka bukan sekadar pengurai, tapi jantung kehidupan yang menyambung ekosistem. 

Meilinda Pahriana Sulastri

  • Mahasiswa S3, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada
  • Dosen Fakultas MIPA, Universitas Islam Al-Azhar, Mataram, NTB

Domisili: Jl. Rusunawa Mranggen, Kutu Tegal, Sinduadi, Kec. Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

TRIBUNNEWS.COM - Hutan Indonesia selalu disebut sebagai paru-paru dunia, tetapi jarang ada yang berbicara tentang “jantungnya” yaitu makhluk kecil yang menjaga kehidupan tetap berdenyut di bawah tanah. 

Mereka tidak berkicau seperti burung, tidak berlari seperti harimau, dan tidak berdaun seperti tumbuhan. Namun tanpa mereka, hutan Indonesia tidak akan mampu bertahan. 

Mereka adalah jamur atau fungi, organisme yang selama ini bekerja dalam diam menjaga keseimbangan ekosistem di alam. 

Jamur bertugas sebagai pengurai yang mengubah sisa-sisa organisme menjadi unsur hara baru. Tanpa peran ini, lantai hutan akan dipenuhi tumpukan daun dan ranting mati, tanah kehilangan kesuburannya, dan rantai makanan terganggu. 

Jamur adalah “petugas kebersihan” sekaligus penyedia nutrisi bagi ekosistem, tetapi ironisnya, mereka hampir tak pernah masuk dalam wacana konservasi nasional.

Jika kita menunduk dan memperhatikan tanah hutan, akan terlihat benang-benang putih halus bernama miselium. Jaringan ini dapat menjalar hingga puluhan meter, menghubungkan akar-akar pohon dalam sistem komunikasi bawah tanah. 

Melalui miselium ini pohon saling berbagi nutrisi, air, bahkan sinyal kimia untuk menjaga keseimbangan.

Ilmuwan menyebutnya sebagai “wood wide web” yaitu jaringan kehidupan yang menjadikan hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan komunitas yang saling menopang.

Peran jamur juga melampaui ekosistem hutan. Dalam pertanian, jamur mikoriza membantu tanaman menyerap air dan mineral, sehingga hasil panen lebih optimal. Bagi manusia, jamur telah lama menjadi sumber pangan, obat, hingga bahan industri ramah lingkungan. 

Penemuan antibiotik penisilin adalah bukti nyata kontribusi jamur bagi kesehatan. Penelitian modern bahkan mengembangkan miselium sebagai bahan kulit sintetis dan bioplastik yang dapat terurai alami. 

Dunia mulai melihat jamur sebagai solusi masa depan, sementara Indonesia masih tertinggal dalam mengenali potensinya.

Laporan State of The World Plant and Fungi (Kew Gardens, 2023) mengestimasikan terdapat 2,5 juta spesies jamur di seluruh dunia. Jamur menjadi organisme penghuni Bumi

terbanyak kedua setelah hewan. Hingga saat ini baru 155.000 spesies jamur yang berhasil diidentifikasi dengan lebih dari 2500 spesies diklasifikasikan sebagai spesies baru setiap tahunnya. 

Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia menyimpan ribuan jenis jamur, dari hutan hujan Sumatra hingga pegunungan Papua. Berdasarkan data Status Keanekaragaman Hayati Indonesia (2017) terdapat 2.273 spesies jamur yang telah diidentifikasi. 

Jumlah ini sangat sedikit karena hanya sekitar 1.9 persen dari jamur yang ada di dunia.

Artinya masih ada ribuan spesies yang belum sempat kita kenali, padahal mungkin memiliki manfaat besar.

Belum ada data terbaru yang menampilkan berapa jumlah pasti jamur Indonesia yang telah berhasil diidentifikasi.

Ironisnya, banyak spesies mungkin sudah punah sebelum sempat ditemukan, seiring hilangnya hutan akibat ekspansi perkebunan, tambang, dan pembangunan.

Kehilangan satu kawasan hutan berarti hilangnya seluruh jaringan kehidupan di bawahnya, termasuk jamur endemik yang tak tergantikan.

Sayangnya, meski memiliki peran vital, jamur kerap terabaikan dalam kebijakan nasional. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati hanya membagi keanekaragaman hayati ke dalam dua kelompok yaitu tumbuhan dan hewan.

Padahal jamur bukan keduanya, melainkan kerajaan tersendiri yang layak mendapat pengakuan. Fokus konservasi kita selama ini lebih banyak diarahkan pada satwa besar seperti harimau, gajah, dan orang utan. Upaya itu tentu penting, tetapi pendekatan yang hanya menyoroti yang terlihat di permukaan membuat kita melupakan fondasi ekosistem yang menopang semuanya.

Negara-negara tetangga sudah lebih maju dan memberikan perhatian lebih pada keberadaan jamur dibandingkan Indonesia.

Vietnam menyusun Law on Biodiversity (No.20/2008/QH12) yang secara eksplisit memasukkan istilah fungi dalam ruang lingkup perlindungan dan penyusunan daftar spesies prioritas. 

Singapura telah mencantumkan beberapa spesies fungi ke dalam Singapore Red Data Book sebagai langkah penting dalam mengenali fungi sebagai bagian dari spesies yang perlu dilindungi.

Sementara itu, Malaysia dan Thailand terus memperkuat riset mikologi dan survei keanekaragaman jamur melalui kerjasama antar universitas dan lembaga konservasi.

Indonesia seharusnya bisa mengikuti langkah serupa dengan merevisi kebijakan agar mencakup jamur atau fungi secara eksplisit, mendukung riset yang lebih luas, dan melibatkan masyarakat adat yang selama ini hidup berdampingan dengan jamur dalam upaya dokumentasi dan perlindungan.

Kepedulian terhadap jamur seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab ilmuwan dan aktivis lingkungan, melainkan urusan semua orang. Hal ini karena jamur hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai pada roti yang kita makan, keju yang kita nikmati, obat yang kita konsumsi, hingga tanah tempat sayuran tumbuh. Tanpa mereka, siklus kehidupan di bumi akan terhenti.

Jamur adalah bukti nyata bahwa sesuatu yang nyaris tak terlihat dapat memegang peran besar bagi keberlangsungan hidup.

Namun kepedulian tidak akan tumbuh tanpa pengetahuan. Karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kesadaran publik.

Jamur perlu lebih sering diperkenalkan melalui pendidikan di sekolah, pemberitaan di media, maupun kampanye lingkungan. 

Berbagai cara kreatif seperti dokumenter, festival jamur, atau pameran sains dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan masyarakat pada dunia fungi.

Melindungi jamur bukan sekadar menambah daftar spesies langka dalam dokumen pemerintah. Ini tentang memperluas cara pandang kita terhadap kehidupan.

Konservasi sejatinya tidak hanya menyelamatkan satwa besar, tetapi juga menjaga ekosistem kecil yang menopang mereka.

Menyelamatkan jamur berarti menjaga kesuburan tanah, kualitas air, dan kemampuan hutan untuk pulih dari gangguan. Sudah saatnya pemerintah berhenti melihat jamur sebagai penghias piring dan organisme kecil di hutan.

Jamur adalah penopang kestabilan ekosistem dan kelestarian hutan. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan dasar kehidupan itu sendiri.

Pembuat kebijakan, ilmuwan dan masyarakat perlu menempatkan jamur sejajar dengan tumbuhan dan hewan dalam agenda konservasi nasional.

Setiap kali hutan ditebang tanpa pertimbangan ekologis mungkin menghapus peluang ditemukannya spesies jamur yang berpotensi menjadi obat atau solusi lingkungan di masa depan.

Jika kita sungguh ingin mewariskan bumi yang lestari kepada generasi mendatang, maka sudah saatnya kita menunduk, melihat ke tanah, dan memberi tempat bagi para penjaga sunyi itu dalam kebijakan, riset, dan hati kita.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved