Senin, 11 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Penguatan dan Diaspora Rusia-Indonesia

Kunjungan berulang Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pada desember lalu bukan sekadar agenda kenegaraan.

Tayang:
Editor: Hasanudin Aco
HO/Tribunnews.com
DIASPORA INDONESIA-RUSIA - Achmad Firdaus H, Mahasiswa Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia, bicara soal penguatan dan diaspora Rusia-Indonesia. 

Oleh: Achmad Firdaus H.
Mahasiswa Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia

TRIBUNNEWS.COM - Dalam kesunyian ruang diplomatik yang seringkali dipenuhi protokol kaku, ada sebuah bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka yang berani membaca arus di balik gelombang.

Kunjungan berulang Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pada desember lalu bukan sekadar agenda kenegaraan.

Ia adalah sebuah puisi panjang yang ditulis dengan langkah di atas kanvas geopolitik yang retak.

Setiap penerbangannya ke Moskow, dalam jeda waktu yang relatif singkat, ibarat satu bait dari syair yang sama sebuah syair tentang pencarian posisi Indonesia di dunia yang tak lagi hitam-putih.

Sebelumnya, hubungan dengan Rusia sering dilihat sebagai hubungan transaksional terutama dalam bidang pertahanan yang berdenyut pelan dan reaktif.

Bermula kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007 atau bahkan kunjungan kerja Presiden Joko Widodo, meski penting, lebih menyerupai titik-titik yang terpisah dalam sebuah garis waktu.

Mereka mempertahankan hubungan, namun kurang dalam membangun sebuah grand narrative atau narasi besar yang strategis dan berkelanjutan.

Apa yang dilakukan Prabowo berbeda secara kualitatif.

Ia mengubah titik-titik itu menjadi sebuah garis yang tegas dan naik, sebuah lintasan yang disengaja.

Kunjungan pada Juni dan Desember 2025, misalnya, bukanlah dua peristiwa yang terpisah, melainkan dua babak dalam satu lakon yang sama.

Babak penjajakan dan babak pendalaman. Ini menunjukkan sebuah diplomasi yang bersifat serial dan kumulatif, dimana setiap pertemuan membangun fondasi untuk pertemuan berikutnya, menciptakan momentum yang sulit dihentikan.

Mengapa pola ini signifikan?

Dalam teori hubungan internasional memberikan kedalaman analitis yang luar biasa.

Pola diplomasi Prabowo ini merupakan kristalisasi dari sintesis antara Realisme yang dingin dan Konstruktivisme yang sangat visioner.

Dari sudut Realisme Struktural, langkah ini adalah manuver balancing yang canggih. Dalam tatanan dunia yang semakin bipolar, dimana ketegangan antara Blok Barat (dipimpin Amerika Serikat) dan Blok Timur (dengan China dan Rusia) mengeras, negara-negara menengah seperti Indonesia menghadapi dilema besar.

Bergabung dengan satu blok berarti kehilangan kemandirian dan bersikap netral pasif berarti menjadi penonton yang rentan.

Dengan secara proaktif dan berulang kali mendekati Rusia sebuah pole atau kutub kekuatan yang sedang terkepung namun tetap perkasa dan Indonesia sedang melakukan asymmetric balancing.

Ia tidak berusaha menandingi kekuatan besar, tetapi menggunakan hubungan khusus dengan salah satunya untuk meningkatkan bobot diplomatiknya sendiri di hadapan yang lain.

Akses teknologi dan energi nuklir

Akses ke teknologi pertahanan mutakhir Rusia, kerja sama energi nuklir untuk ketahanan masa depan, dan perdagangan dalam mata uang lokal adalah tangible assets yang diperoleh yang langsung memperkuat kapasitas nasional dan mengurangi kerentanan.

Namun, diplomasi dan kebijakan luar negeri di era Prabowo mengundang kita untuk melompat ke paradigma Konstruktivisme, di mana ide, identitas, dan norma bukanlah epifenomena, tetapi kekuatan pembentuk utama.

Setiap jabat tangan yang dilakukannya dengan Presiden Putin, setiap pernyataan bersama tentang "multipolaritas," adalah performativitas yang mengkonstruksi realitas politik baru. 

Kata "multipolar" yang terus diulang bukan sekadar konsep, ia sedang dijadikan sebuah norma yang dilembagakan melalui praktik berulang. Indonesia dan Rusia, melalui ritme pertemuan yang padat di tahun 2025 ini secara bersama-sama membangun sebuah counter-narrative atau narasi tandingan terhadap hegemoni liberal Barat.

Mereka tidak hanya bertukar kepentingan, tetapi saling mengukuhkan legitimasi dan identitas satu sama lain di panggung global.

Indonesia menemukan kembali identitasnya sebagai leader of the ASEAN yang vokal, sambil memberi Rusia ruang diplomatik yang sangat dibutuhkannya. 

Ini adalah simbiosis yang dibangun di atas shared ideas gagasan bersama tentang kedaulatan yang tak boleh diganggu gugat dan tata kelola dunia yang lebih inklusif.

Di tengah ketidakpastian global perang, gangguan rantai pasok, krisis energi ketahanan nasional menjadi tujuan utama.

Rusia, dengan kekayaan sumber daya alam, teknologi pertahanan, dan kemandirian strategisnya, dipandang sebagai mitra kunci dalam membangun benteng ketahanan Indonesia yang multidimensi. 

Kunjungan Prabowo ke Rusia yang berulang adalah upaya untuk menganyam ketergantungan yang saling menguntungkan dan berjangka panjang di bidang-bidang yang paling strategis, menciptakan sebuah safety net atau jaring pengaman geopolitik bagi Indonesia.

Namun, di balik semua analisis strategis ini ada sebuah nuansa yang lebih personal dan syahdu.

Setiap lepas landas dari Halim ke Moskow adalah pengingat akan sebuah warisan sejarah warisan era Sukarno yang juga berani menjalin hubungan khusus dengan Kremlin untuk mendobrak polarisasi era Perang Dingin.

 Ada perulangan sejarah di sini sebuah upaya untuk menghidupkan kembali jiwa bebas-aktif yang lebih garang dan percaya diri.

Diplomasi Prabowo, dengan semua kompleksitas dan risikonya, pada akhirnya adalah upaya untuk merajut kembali benang-benang kedaulatan yang mungkin telah kendur.

 Ia adalah pernyataan bahwa Indonesia tidak takut untuk memiliki teman-teman yang beragam, dan bahwa persahabatan yang dalam dibangun bukan dengan sekali santun, tetapi dengan kesetiaan untuk terus berdialog, bahkan dan terutama ketika dunia memilih untuk diam.

Dalam diamnya langkah yang berulang itulah, mungkin suara kedaulatan Indonesia justru terdengar paling nyaring.

 

Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved