Tribunners / Citizen Journalism
Bus Sekolah di Pakpak Bharat: Solusi Jarak Jauh di Kaki Bukit Barisan
Siswa SD di Pakpak Bharat harus berjalan kaki 4–5 km ke sekolah. Bus sekolah gratis hadir bantu akses pendidikan di daerah terpencil.
Djoko Setijowarno
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)
Siswa SD yang tinggal jauh dari sekolah harus berjuang menempuh perjalanan kaki 4 hingga 5 kilometer setiap hari.
Kabupaten Pakpak Bharat terletak di Provinsi Sumatera Utara, berada di wilayah dataran tinggi tepat di kaki Pegunungan Bukit Barisan.
Secara geografis, lokasi ini menyajikan potensi alam yang khas. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, populasi Kabupaten Pakpak Bharat tercatat sebanyak 57.152 jiwa.
Akses pendidikan di wilayah ini menghadapi kendala serius karena jarak sekolah yang terlampau jauh dari permukiman. Anak-anak harus menempuh perjalanan kaki sejauh 4 hingga 5 kilometer setiap hari.
Tantangan ini diperparah oleh ketiadaan trayek angkutan umum. Secara umum, layanan angkutan umum memang belum tersedia di hampir seluruh wilayah pedesaan di luar ibukota kabupaten, sehingga membatasi mobilitas dan menghambat upaya pemerataan pendidikan.
Ketiadaan fasilitas transportasi umum yang memadai menciptakan hambatan besar bagi siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Pakpak Bharat.
Setiap hari, mereka dipaksa memulai perjalanan panjang dengan berjalan kaki sejauh 4 hingga 5 kilometer menuju sekolah, seringkali harus berangkat jauh sebelum matahari terbit.
Perjuangan fisik harian ini memiliki dampak negatif langsung pada capaian pendidikan mereka. Siswa tiba di sekolah dalam kondisi sangat lelah dan seringkali terlambat, yang berujung pada kelelahan dan kantuk di dalam kelas.
Akibatnya, mereka sulit fokus pada materi pelajaran, dan potensi akademis mereka menjadi terhambat. Bagi anak-anak usia sekolah dasar, jarak tempuh yang ekstrem ini bukan hanya soal mobilitas, tetapi juga ancaman nyata terhadap kualitas belajar dan semangat mereka menuntut ilmu.
Kondisi sulit banyak dialami siswa yang tinggal jauh dari sekolah, mereka harus menempuh perjalanan kaki sejauh 4 hingga 5 kilometer setiap hari, sering kali berangkat sebelum subuh.
Ketiadaan bus atau angkutan umum di desa dan sekitar permukiman penduduk inilah yang menjadi akar masalah. Akibatnya, siswa tiba di sekolah dalam kondisi sangat lelah dan sering terlambat.
Kelelahan fisik ini lantas berlanjut menjadi rasa kantuk dan ketidakfokusan saat jam pelajaran berlangsung, sehingga menghambat proses belajar mereka dan mengancam capaian pendidikan mereka secara keseluruhan.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Siswa-sekolah-dasar-di-Kabupaten-Pakpak-Bharat-berangkat-ke-sekolah.jpg)