Tribunners / Citizen Journalism
‘Getaran Hati’ Presiden Prabowo di Sentul
Rakornas SICC jadi panggung Presiden Prabowo: seruan reformasi birokrasi, efisiensi anggaran, dan redefinisi demokrasi Indonesia.
Eko Wahyuanto
Pengamat Kebijakan Publik
Sentul International Convention Center (SICC) hari ini, menjadi epicentrum bertemunya energi pusat dan daerah dalam perhelatan rutin tahunan, Rapat Kerja Nasional. diprakarsai Kementerian dalam Negeri.
Di hadapan lebih 4.400 pasang mata pejabat pusat dan daerah, Presiden Prabowo Subianto tidak hanya memberikan arahan administratif, tetapi juga berbagai makna eksistensialis dari program prioritas yang sudah dikerjakan.
Dalam bahasa filosofi, apa yang dilakukan presiden Prabowo disebut sebagai " komitmen pada situasi".
Presiden memulai pidatonya dengan kalimat yang tak lazim bagi seorang jenderal: "Hati saya bergetar."
Bukan retorika emosional. Dalam kacamata kepemimpinan, ini manifestasi dari Authentic Leadership. Presiden Prabowo ingin menunjukkan, kekuasaan bukan benda mati di rantai birokrasi. Ia organisme hidup, memiliki denyut nadi dan adrenalin membangun kebersamaan dalam perjuangan memajukan bangsa.
Presiden ingin para Bupati, Walikota, hingga Gubernur merasakan kegelisahan sama. Bahwa mengurus negara bukan tentang kekuasaan melainkan penyelamatan masa depan yang sedang dikepung ketidakpastian global.
Realisme Geopolitik
Dalam tinjauan kebijakan publik, Presiden Prabowo ibarat memberikan kuliah umum tentang realisme politik (Realpolitik). Menyerang balik para pakar yang terlalu asyik dalam menara gading idealisme. "Dunia keadaan nyata, bukan keadaan ideal.” Dengan identitas dan tatanan politik pasca-2024 dapat dilihat semakin anarkis.
Indonesia memilih jalan tengah, tidak memihak Barat atau Timur alias non-blok. Meski itu jalan sunyi, tidak populis dan tetap berbahaya. Maka Indonesia harus kuat, jika lemah, "Nobody is going to help us,"
Inilah bentuk transparansi komunikasi publik, lugas namun tetap dalam konteks bersahabat. Pernyataan ini seperti hendak mengajak mentalitas publik lebih bijak dalam membaca konstelasi yang terjadi. “Berdikari" meskipun sulit dan pahit. Kuat dengan sistem pertahanan yang tak bisa ditawar, dan kemandirian pangan-energi yang dipaksa cepat.
Secara filosofis, Presiden Prabowo nampaknya paham betul soal konsep The Prince versi modern yang lebih etis. Bahwa seorang pemimpin harus sanggup menjadi “singa” untuk menakuti “serigala” (ancaman luar) dan menjadi “kancil” untuk mengenali jerat (korupsi dalam negeri). Ia tidak lagi bicara soal "apa yang seharusnya," tapi "apa yang ada di depan mata."
Demokrasi dan Standar Ganda
Misi negara demokrasi dalam pidato kali ini mendapat sentuhan kritis dan tajam. Mempertanyakan standar ganda negara-negara Barat terkait HAM dan demokrasi, merujuk pada ketidakberdayaan dunia melihat tragedi kemanusiaan di berbagai belahan dunia.
Pandangan ini selaras dengan pemikiran filsuf Slavoj Žižek yang sering mengkritik kemunafikan ideologi liberal.
Presiden Prabowo sedang mencoba mendefinisikan ulang "Demokrasi Indonesia" sebagai demokrasi substantif, bukan prosedural. Baginya, apa gunanya kotak suara jika rakyatnya lapar? Apa gunanya retorika HAM jika negara tidak mampu melindungi kedaulatan warganya dari tekanan ekonomi global?
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Prabowo-saat-Rakornas-2026.jpg)