Tribunners / Citizen Journalism
John Tobing dan Jejak Perlawanan Mahasiswa: Sang Pencipta ‘Darah Juang’ yang Menyalakan Bara Gerakan
John Tobing, pencipta Darah Juang, wafat di usia 60 tahun. Ikon Mazhab Jogja dan aktivisme mahasiswa era Orde Baru.

PENCIPTA LAGU legendaris Darah Juang, John Tobing, meninggal dunia pada usia 60 tahun setelah berjuang melawan penyakit stroke dan pneumonia.
Alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1986 ini mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu (25/2/2026) pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Sleman, D.I. Yogyakarta.
John Berpulang
Nama John Tobing barangkali belum seterkenal figur-figur nasional berlatar belakang aktivis yang lahir dari gelanggang politik elektoral.
Namun dalam lanskap aktivisme mahasiswa, terutama yang berkelindan dalam dunia pergerakan mahsiswa, sosoknya merepresentasikan simpul penting antara militansi gerakan dan kedalaman refleksi intelektual.
Sontak, kepergian John meninggalkan kehilangan mendalam, tidak hanya bagi generasi aktivis 1980–1990 yang hidup di era pergolakan yang penuh tekanan di bawah rezim otoritarian Orde Baru, namun juga para aktivis lintas generasi.
Sang maestro boleh tiada, namun darah juang cipataanya tidak akan pernah mati karena sudah menjelma menjadi bara api yang akan terus bergema di setiap sudut jalanan dan kepalan tangan kaum aktivis pergerakan.
Penggalan lirik “Bunda relakan darah juang kami ‘tuk membebaskan rakyat”, bukan hanya sekadar barisan kata, namun sudah menjadi semacam simbol totalitas dan keberanian generasi muda menabuh perang terhadap segala bentuk represi kekuasaan.
Jejak Aktivis Mazhab Jogja
Untuk membaca Tobing dan Darah Juangnya, tidak dipisahkan dari apa yang kerap disebut sebagai aktivisme mahasiswa “Mazhab Jogja”. Sejak era pra dan pasca-Reformasi 1998, kampus-kampus di Yogyakarta memiliki peranan sentral dan selalu menjadi simpul kekuatan perlawanan. Yogyakarta bukan sekadar kota pelajar, ia adalah ruang produksi gagasan dan laboratorium gerakan
Mazhab Jogja sekurang-kurangnya ditandai oleh tiga ciri utama.
Pertama, keberpihakannya pada kelompok marjinal sebagai basis legitimasi moral gerakan. Kedua, penggunaan perangkat analisis sosial yang digunakanya—dari Marxisme hingga teori gerakan sosial kritis kontemporer—sebagai fondasi argumentasi. Ketiga, ada kesadaran akan pentingnya produksi dan reproduksi wacana.
Dalam konteks ini, lahirnya lagu Darah Juang di Kota Yogya dan posisi Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY)—dimana Tobing menjadi Sekjendnya—sebagai organisasi yang pertama kali menyanyikan lagu darah juang merupakan fakta sejarah yang tidak bisa dibantah betapa strategisnya posisi kota ini dalam meletakkan fondasi aktivisme mahasiswa Indonesia.
Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY) seperti kita tau adalah organisasi pergerakan mahasiswa bersejarah yang berperan vital dalam membingkai dinamika aktivisme di Yogyakarta pada era 1980-an dan memiliki kontribusi besar dalam melahirkan generasi aktivis era Reformasi 1998.
FKMY dikenal sebagai salah satu wadah utama mahasiswa di Yogyakarta yang paling vokal menuntut pencabutan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang diberlakukan pemerintah Orde Baru.
Lebih dari itu, FKMY secara proaktif menggalang solidaritas dalam berbagai aksi advokasi rakyat, termasuk gerakan solidaritas untuk warga korban pembangunan Waduk Kedung Ombo (1989-1991) dan peristiwa Kusumanegara Berdarah. Sejak Kongres pertama FKMY, lagu Darah juang mulai dikenal luas—untuk pada gilirannya lagu ini bertransformasi bukan sekadar nyanyian, melainkan mantra kolektif yang menyatukan barisan.
Dalam kerangka ini, aktivisme bukan sekadar aksi turun ke jalan, melainkan praksis intelektual. Jalanan dan ruang diskusi adalah dua sisi yang saling menguatkan.
John Tobing sebagai Artikulasi Aktivisme
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/John-Tobing-pencipta-Darah-Juang-wafat-di-usia-60-tahun.jpg)