Rabu, 10 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Memori Secangkir Kopi dan Terowongan Tanah: Jejak Persahabatan di Saigon

Kenangan Saigon 2012: cà phê sữa đá, tawa sahabat muda, hingga terowongan Cu Chi yang menyatukan persahabatan lintas budaya.

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Dok Pribadi
Profile Tribunners: Odemus Bei Witono - Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan 

Di tengah kelelahan, singkong sederhana itu terasa begitu nikmat karena disantap bersama. Tak ada sekat, tak ada perbedaan bangsa; yang ada hanyalah sekelompok anak muda yang merayakan kehidupan.

​Petualangan hari itu ditutup dengan sempurna di tepi Sungai Saigon. Angin sore berembus pelan, membawa aroma air dan kehidupan pelabuhan. Di sebuah kedai sederhana di tepi sungai, kami memesan semangkuk Phở Vietnam yang mengepul hangat. 

Kaldu sapinya yang kaya rempah, berpadu dengan segarnya daun ketumbar dan perasan jeruk nipis, seolah membasuh seluruh lelah kami. Sambil memandang riak air sungai yang memantulkan cahaya senja, kami makan dalam diam yang damai, sebuah momen kontemplasi atas indahnya persahabatan interkultural ini.

​Fajar di Saigon dan Langkah Menuju Phnom Penh 

​Lima hari berlalu seperti kedipan mata. Saigon yang bising dan sibuk kini terasa seperti rumah yang nyaman. Namun, setiap perjalanan selalu memiliki batas ruang dan waktu.

Di hari terakhir, saat kota masih terlelap dalam pelukan malam yang dingin, fajar baru mulai membayang di ufuk timur.

​Dalam keheningan dini hari itu, seorang frater lokal yang menjadi bagian dari lingkaran sahabat baru saya, dengan setia mengantarkan saya menuju terminal bus. Jalanan Saigon yang biasanya padat, pagi itu tampak lengang dan melankolis.

Ada rasa berat yang menggelayut di dada saat saya harus melangkah naik ke atas bus yang akan membawa saya menyeberang perbatasan menuju Phnom Penh, Kamboja.

​Dari balik jendela bus yang  mulai berjalan perlahan, saya melambaikan tangan. Sosok frater dan bayangan sudut-sudut kota Saigon perlahan mengecil dan menghilang di balik tikungan jalan. Bus bergerak menjauh, meninggalkan sejuta kenangan yang tertanam kuat di benak saya.

​Tahun 2012 telah lama berlalu, dan Saigon pasti telah banyak berubah menjadi kota metropolitan yang jauh lebih modern.

Namun, bagi saya, Saigon akan selalu menjadi kota di mana secangkir kopi di pinggir jalan, semangkuk Phở di tepi sungai, dan ketulusan hati muda-mudinya telah mengajari saya tentang arti sejati dari sebuah keramahtamahan.

Persahabatan singkat itu adalah sebuah puisi indah yang ditulis oleh takdir di sepanjang jalan-jalan Saigon, dan baris-barisnya akan tetap abadi dalam ingatan.

Sesuai Minatmu

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved