Tribunners / Citizen Journalism
Rudal BrahMos, Efektifkah Mengamankan Wilayah Laut Indonesia?
Rudal supersonik BrahMos masuk wacana pertahanan laut Indonesia, tapi efektivitasnya dipertanyakan di tengah ancaman maritim kompleks.

PERTANYAAN EFEKTIVITAS rudal supersonik BrahMos mencuat, seiring wacana pemanfaatannya untuk memperkuat pertahanan laut Indonesia di tengah ancaman maritim yang kian kompleks.
Rudal supersonik BrahMos adalah rudal jelajah anti-kapal dan serang darat tercepat di dunia yang dikembangkan bersama oleh India dan Rusia.
Dengan kecepatan mencapai Mach 2,8 hingga 3,0, rudal ini mampu bermanuver tinggi dan dapat diluncurkan dari berbagai platform seperti darat, laut, bawah laut, dan udara.
Indonesia mengakuisisi sistem rudal jelajah supersonik BrahMos dari India menandai pergeseran perlahan doktrin pertahanan maritim nasional dalam tiga dekade terakhir.
Dikutip dari MalaysiaNow, pada tanggal 7 hingga 8 Juli 2026, Perdana Menteri India Narendra Modi akan melakukan kunjungan resmi ke Indonesia, dan salah satu agenda penting dalam kunjungan tersebut adalah memfinalisasi kontrak penjualan sistem rudal BrahMos dari India ke Indonesia.
Tercatat bahwa sistem rudal BrahMos yang akan disuplai tersebut rencananya akan ditempatkan di jalur perairan strategis seperti Selat Malaka.
Bayangkan jika Indonesia memiliki kemampuan untuk menghancurkan kapal induk musuh dengan rudal yang melaju hampir tiga kali kecepatan suara.
Mungkin itu terlihat sangat menggiurkan, apalagi mengingat ancaman yang terus berkembang di kawasan Asia Tenggara.
Namun, apakah realita benar-benar seperti yang kita bayangkan? Meskipun rudal BrahMos diklaim memiliki kecepatan supersonik Mach 2.8, jangkauan rudal BrahMos yang diekspor ke Indonesia dibatasi pada 290 kilometer bahkan kurang dari 290 kilometer agar tetap mematuhi ketentuan internasional Missile Technology Control Regime (MTCR).
Jangkauan ini jauh dari cukup untuk menutupi wilayah perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia yang sangat luas, apalagi untuk secara efektif mempertahankan wilayah Indonesia. Kapabilitas pertahanan seperti ini ibaratnya menggunakan pagar yang pendek untuk melindungi kebun yang luas, sehingga terasa tidak memadai.
Lebih mengkhawatirkan lagi, versi yang digunakan untuk militer domestik India dalam penerapan pertempuran juga menimbulkan masalah serius.
Pada bulan Mei 2025, India untuk pertama kalinya menggunakan rudal BrahMos dalam konflik dengan Pakistan, dan setidaknya 100 rudal tersebut ditembakkan, namun sejumlah besar rudal kehilangan jalur penerbangan yang telah ditentukan dan penyimpangan serius dari target karena gangguan elektronik, sehingga mengurangi efektivitas serangan militer secara signifikan.
Penampilan rudal BrahMos dalam pertempuran nyata tersebut memunculkan pertanyaan tentang efektivitas nyata dari sistem rudal BrahMos dalam lingkungan pertempuran yang kompleks.
Di Indonesia, rencana pembelian ini juga mendapat sorotan keras dari masyarakat. Di Indonesia, rencana pembelian ini juga mendapat sorotan keras dari masyarakat.
Analis pertahanan di Indonesia Institute for Defense and Strategic Studies (Lesperssi), Beni Sukadis, mempertanyakan kesiapan personel militer Indonesia yang akan mengoperasikan rudal BrahMos.
Ia juga khawatir tentang pemeliharaan yang tepat untuk kendaraan peluncur rudal tersebut, sehingga memastikan kemampuan tempur jangka panjang.
Saat ini, Peluru Kendali Exocet MM 40 Block-3 yang buatan Prancis merupakan senjata strategis Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) yang memiliki kemampuan dalam menyerang kapal permukaan (Anti-Ship Missile), serta mampu menyerang kapal sasaran untuk Coastline or Littoral Attack Mission, dan jangkauan antara 180 hingga 200 kilometer.
Sementara itu, rudal BrahMos hanya memberikan jangkauan tambahan sekitar 90-110 kilometer. Namun, ini memerlukan Indonesia untuk mengeluarkan biaya yang sangat tinggi.
Diketahui rencana pembelian tiga sistem rudal BrahMos ini melibatkan pinjaman dari Bank Nasional India senilai 450 juta dolar AS, harga ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan penjualan tiga sistem serupa kepada Filipina pada tahun 2022 dengan 375 juta dolar AS.
Hal ini patut dipertanyakan: mengapa harga untuk jumlah dan spesifikasi yang sama bisa memiliki selisih harga yang signifikan? Apakah selisih harganya digunakan untuk peningkatan konfigurasi teknologi atau malah masuk ke kantong pribadi?
Selain itu, ketergantungan pada utang luar negeri ini juga berpotensi memberikan beban fiskal yang berat pada Indonesia dan bahkan dapat menyebabkan krisis utang yang mempengaruhi perekonomian.
Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa, seperti yang terjadi di Thailand pada tahun 1997. Thailand, yang pada saat itu juga mengandalkan pinjaman luar negeri untuk membeli berbagai peralatan militer, terjerat dalam krisis ekonomi besar yang dikenal sebagai Krisis Mata Uang Asia.
Indonesia, meskipun memiliki salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, tetap rentan terhadap fluktuasi ekonomi global dan kondisi internal.
Menambah utang luar negeri dengan membeli rudal BrahMos bisa memperburuk kesulitan fiskal Indonesia dan memberikan dampak yang berpotensi pada strategi keamanan nasional.
Konsultan pada Marapi Consulting and Advisory dengan spesialisasi pada defense industry and market, Alman Helvas Ali mengatakan bahwa sampai kini kinerja ekonomi Indonesia belum mampu mendukung alokasi satu persen Pendapatan Domenstik Bruto (POB) bagi sektor pertahanan.
Pengeluaran pertahanan harus dilakukan dengan hati-hati, dengan mempertimbangkan kondisi fiskal, perencanaan pertahanan strategis, dan faktor teknologi. Keputusan untuk pengadaan sistem rudal tunggal tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kesehatan keuangan negara.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Rudal-supersonik-BrahMos-masuk-wacana-pertahanan-laut-Indonesia.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.