Harga BBM Naik
Dihimpit BI Rate & Harga BBM Naik, Rumah Tangga Bisa Perkuat Dana Darurat hingga Jaga Porsi Cicilan
Menyikapi kenaikan BI Rate dan harga BBM Pertamax, masyarakat disarankan memperkuat dana darurat dan tabungan.
Ringkasan Berita:
- Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan harga BBM Pertamax naik secara beriringan.
- Imbasnya, pengeluaran rumah tangga terancam naik.
- Menyikapi kenaikan tersebut, masyarakat disarankan memperkuat dana darurat dan tabungan.
TRIBUNNEWS.COM - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang beriringan dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) berpotensi menambah tekanan terhadap keuangan rumah tangga.
Di tengah meningkatnya beban pengeluaran dan cicilan, masyarakat disarankan memperkuat dana darurat dan tabungan sebagai strategi mengatur keuangan rumah tangga.
Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI-Rate atau suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50 persen pada Selasa (9/6/2026).
Di samping itu, Pertamina Patra Niaga juga melakukan penyesuaian harga jual BBM non subsidi produk Pertamax RON 92 dan Pertamax Green 95 per 10 Juni 2026. Kini, harga Pertamax 92 terendah di angka Rp15.250 per liter dan tertinggi Rp17.000 per liter.
Menanggapi hal tersebut, Ila Abdulrahman, seorang financial planner asal Banyuwangi, Jawa Timur, menyampaikan pentingnya mengatur keuangan dalam rumah tangga.
Ila menekankan tentang kontrol terhadap pengeluaran rumah tangga.
Alumni IPB University, Bogor ini, menyarankan agar masyaratkan mengerem utang agar tidak menambah cicilan.
"Setelah gejolak global, gejolak Indonesia, kadang rumah tangga mengalami gejolak yang naik dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah satu, jangan tambah utang konsumtif lagi."
"Jangan menambah cicilan utang, jangan menambah plafon pinjaman lagi. Kalau memang penghasilannya belum mencukupi, kontrol pengeluaran, cari alternatif barang pengganti sejenis," ungkap Ila kepada Tribunnews, Rabu (10/6/2026).
Kemudian, delete pengeluaran-pengeluaran yang tidak perlu.
Baca juga: Analisis Pakar soal Dampak Kenaikan BI Rate: Cicilan KPR Makin Mahal, Bijaksana Kelola Keuangan
Jaga Cicilan di Rasio 30 Persen dari Pendapatan
Lebih lanjut, Ila mengingatkan, pentingnya menjaga rasio cicilan utang dari pendapatan.
Selain itu, dana darurat dan tabungan dalam bentuk apapun juga diperlukan untuk menjaga keuangan rumah tangga.
"Yang penting cicilan utangnya tetap di rasio 30 persen dari income, punya dana darurat. Kemudian kalau memang selama ini investasinya, maka tidak peduli saham, tabungan atau apapun. Kita memilih apa itu tidak penting lagi, tetapi (yang penting) adalah ini untuk apa, tujuannya ke mana," imbuh Konsultan Keuangan yang pernah didapuk jadi Duta Literasi Keuangan Nasional OJK pada 2025 ini.
Sebab, menurut Ila, saham, emas, tabungan itu adalah bagian dari kendaraannya.
"Yang terpenting kita mau kemana, naik kendaraannya apa. Kalau misalnya jaraknya dekat kita naik sepeda, maka dana darurat laruhnya di tabungan, dana pendidikan anak yang untuk kuliah misalnya berapa belas tahun di saham, itu lagi."