Tribunners / Citizen Journalism
Prabowonomics vs Narasi Sell Indonesia
Narasi 'sell Indonesia' dipicu Prabowonomics, investor asing melepas aset, IHSG dan rupiah tertekan, negara dorong kontrol SDA

'NARASI SELL INDONESIA' pertama kali diperkenalkan oleh George Boubouras, kepala riset pada hedge fund K2 Asset Management. George Bourbouras bahkan telah melepas semua asset keuangan Indonesia sejak tahun 2024 (The Straits Times, 5 Juni 2026).
“Narasi sell Indonesia” dipicu oleh perubahan strategi pembangunan ekonomi nasional dari market based yang liberal menjadi ekonomi pasar yang dikendalikan oleh negara (state capitalism). Atau populer dengan istilah ekonomi konstitusi sesuai pasal 33 Undang Undang Dasar Republik Indonesia (UUD RI).
Sejak hari pertama menjabat sebagai presiden RI ke-8, Prabowo telah memperkenalkan strategi pembangunan yang populer dengan Prabowonomics. Strategi Prabowonomics, beyond capitalism (melampaui kapitalisme) dan beyond socialism (melampaui sosialisme).
Prabowonomics menggeser pendulum ekonomi nasional dari market mechanism yang dikendalikan oleh invisible hand (tangan tidak nampak) menjadi market mechanism yang dikontrol oleh visible hand (pemerintah).
Narasi utama Prabowonomics berpusat pada pengelolaan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) oleh negara untuk kesejahteraan rakyat. Negara bukan lagi sekedar penonton (regulator atau wasit), tetapi menjadi prime mover (penggerak aktif) pembangunan nasional.
Pengalaman menunjukkan bahwa strategi pembangunan ekonomi berbasis pasar yang liberal ternyata hanya melahirkan ketimpangan dalam hal penguasaan asset nasional.
Merujuk data Centre of Economic and Law Studies (CELIOS), 50 orang terkaya di Indonesia menguasai kekayaan Indonesia sekitar 263 milyar dollar Amerika Serikat (AS). Setara dengan Rp. 4.681, 400 trilyun dengan kurs Rp. 17.800 per dollar AS.
Lebih dari separuh, sekitar 57 persen kekayaan 50 orang terkaya nasional bersumber dari industri bersifat ekstraktif dan pengelolaan SDA. Konglomerat Indonesia mengekspor komoditas SDA ke luar negeri lalu menempatkan pendapatan devisa hasil ekspor di negara ketiga.
Devisa hasil ekspor tidak kembali ke Indonesia untuk memperkuat cadangan valuta asing di dalam negeri. Hal ini kontras dengan China yang devisa hasil ekspornya kembali ke China.
Hal ini yang menempatkan China sebagai negara dengan cadangan dollar AS terbesar di dunia, mencapai 3,5 trilyun dollar AS tahun 2026. Bank sentral China, People’s Bank of China (PBOC) mengelola cadangan dollar AS untuk memperkuat nilai tukar yuan China per dollar AS.
Lalu, presiden Prabowo juga mengintrodusir narasi “serakahnomics”. Narasi ini ditujukan kepada pelaku usaha yang dominan di pasar dan memanfaatkan posisi monopoli atau dominan (penguasaan pasar) untuk mengeksploitasi konsumen dengan harga jual yang tinggi.
Dalam konteks anti-trust law atau anti-monoply law, tindakan tersebut disebut abused of monopoly power (penyalahgunaan posisi monopoli di pasar). Serakahnomics adalah pelanggaran terhadap UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang larangan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
Tidak berhenti di situ, presiden Prabowo juga menggulirkan kebijakan baru ekspor satu pintu untuk tiga komoditas SDA, yaitu crude palm oil (CPO) dan produk turunannya, batu bara serta ferro alloy (paduan besi dan ferro nikel).
Tata kelola ekspor ketiga komoditas di atas melalui badan usaha PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI). Hal ini bertujuan untuk menghindari transfer pricing dan under invoicing dalam pelaporan ekspor untuk menghindari pembayaran pajak tinggi.
Tata kelola ekspor melalui PT DSI menjamin penempatan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri. Hal ini akan memperkuat cadangan dollar AS di Bank Indonesia (BI) yang hanya 145 milyar dollar AS pada Juni 2026. Seharusnya, cadangan dollar AS di BI bisa mencapai sekitar 190 milyar dollar AS.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/muhammad-syarkawi-rauf-1777472877817.jpg)