Yang Minum Air Wudhu dari Sumur Tua di Masjid Ini Konon Bakal Enteng Jodoh

Di Jalan Marunda Besar RT 09/RW 01, Kampung Marunda Besar, Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, ada masjid tua yang dibangun 1600-an silam

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Willem Jonata

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jakarta Utara menyimpan beberapa destinasi wisata yang hingga kini masih dilestarikan oleh Pemerintah Provinsi DKI.

Di Jalan Marunda Besar RT 09/RW 01, Kampung Marunda Besar Kelurahan Marunda, Kecamatan Cilincing, ada sebuah masjid tua yang dibangun 1600-an silam. Nama masjid itu Al Alam.

Masjid ini menurut sejarah didirikan oleh Sultan Fatahillah bersama para prajuritnya.

Masjid itu dibangun sebagai rasa syukur atas penaklukan Kerajaan Pajajaran yang saat itu berkuasa di Sunda Kelapa. 

Yang menarik dari masjid ini adalah sumur tua tempat mengambil air wudhu dan konon memiliki tiga rasa.

Ketua Masjid Al Alam, H Abu Hasan Azhari menjelaskan bahwa keistimewaan masjid ini adalah sumur tua. Airnya mengandung tiga rasa.

"Di sebelah barat memang terdapat sumur yang diperkirakan sudah ada tahun 1600-an lalu. Banyak pengunjung penasaran dan ingin mencicipi langsung rasa air sumur tersebut," katanya.

Pengunjung yang datang bukan hanya dari dalam kota tapi dari luar kota. Mereka ingin memastikan kebenaran sumur air dengan tiga rasa asin, tawar, dan payau itu.

Konon khasiat dari air sumur yakni dapat menyembuhkan penyakit serta bisa mempermudah jodoh usai menelan air dari sumur.

"Percaya tidak percaya, tapi beberapa jamaah mengakui bahwa air sumur di sini mujarab," terangnya menambahkan.

Masjid ini tentu syarat akan nilai sejarah terhadap perlawanan zaman kolonial Belanda, kala itu prajurit Islam singgah di Marunda untuk mengatur strategi.

Banyak pula tokoh-tokoh Betawi yang bersembunyi di balik Masjid saat pasukan Belanda mengejar. Sejarah menyebut siapapun yang bersembunyi di sana mereka tidak terlihat.

Tokoh Betawi tersebut di antaranya adalah Si Pitung, pendekar berjiwa besar yang sempat tinggal tidak jauh dari Masjid Al Alam.

Sementara di bagian dalam Masjid terdapat empat pilar bulat seperti kaki bidak catur untuk menopang atap bangunan.

Akan tetapi jarak plafonnya tergolong rendah, hanya sekitar dua meter dari permukaan lantai berbeda dengan Masjid-masjid tua lain di Jakarta.

Tahun 1970 mulai dilakukan pemugaran Masjid oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta, dengan melakukan penggantian beberapa komponen atap dan pemberian lapisan pelindung.

Untuk datang ke Masjid ini, pengunjung atau jamaah tidak dikenakan biaya terkecuali untuk keamanan parkir kendaraan.(*)

 
 

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved