Minggu, 31 Agustus 2025

Bukan Sekadar Nostalgia, Ini yang Bikin 28 Years Later Layak Ditonton

Review film 28 Years Later sebagai sekuel ketiga dari trilogi film zombie karya Danny Boyle dan Alex Garland, Cek!

Tangkapan Kanal YouTube Sony Pictures Entertainment
28 YEARS LATER – 28 Years Later, film sekuel dari 28 Days Later dan 28 Weeks Later ini kembali mengguncang film ber-genre zombie dengan cerita penuh ketegangan berlatar 28 tahun setelahnya. 

TRIBUNNEWS.COM – Kalau kamu suka film zombie, pasti tahu gimana 28 Days Later mengubah cara kita melihat film zombie. Dirilis pada tahun 2002, film ini mengubah paradigma kita terhadap mayat hidup dan cara bertahan.

Lanjut ke sekuel kedua, 28 Weeks Later, dunia apocalypse dipenuhi zombie ini menceritakan tentang cara para survivor bertahan hidup setelah 28 minggu outbreak terjadi.

Sutradara, Danny Boyle dan penulis skrip, Alex Garland berhasil mengubah image zombie yang biasanya lambat dan malas menjadi makhluk yang super garang dan penuh amarah, bahkan bisa ngejar manusia secepat kilat. Zombie di film ini bukan cuma mayat hidup biasa, tapi terasa kayak musuh bebuyutan yang benci banget sama manusia.

Saat itu, film tersebut dibuat dengan teknik seadanya, tapi tetap menghadirkan suasana yang terasa sangat nyata dan bikin deg-degan. Kamu nggak cuma nonton, tapi kayak ikutan merasakan situasi apokalipsnya.

Setelah lebih dari 20 tahun, duet Boyle-Garland kembali lagi dengan formula yang sama di film 28 Years Later. Tak hanya mengandalkan nostalgia, film zombie ini membawa cerita dengan intrik lebih rumit, membingungkan, dan penuh liku. 

Kali ini, latar cerita mengisahkan dunia di mana virus rage sudah berubah, masyarakat terpecah, dan bertahan hidup bukan cuma soal lari dari terkaman zombie dan saling bunuh.

Ibarat suasana pandemi Covid-19 yang masih menghantui, film ini menghadirkan vibe yang serupa karena berfokus pada perjuangan para survivor untuk berjuang menghadapi rasa kesepian, trauma, dan dilema antara rasa aman dan harapan akan kebebasan yang terus ada. 

Zombie yang Lebih Seram dengan Cerita yang Lebih “Dekat”

Di film lainnya, zombie terkesan lambat dan mudah untuk diperdaya. Namun, zombie di film ini diciptakan lebih cepat, liar, dan emosional. Virus “rage” yang diceritakan dalam film pertama akibat kebocoran laboratorium makin menyebar lewat darah dan ludah, dan bikin siapa pun yang terpapar menjadi mesin pembunuh dalam hitungan menit.

Dalam cerita 28 Years Later, virus ini makin menyeramkan. Masih ada zombie berkeliaran, tetapi dengan tambahan zombie yang merayap di tanah, serta ada “alpha” zombie yang lebih besar dan cerdas layaknya manusia. Khusus spesies alpha, sosoknya bahkan bisa berkembang biak bersama dengan zombie wanita hamil yang bayinya lahir sehat.

Tingkat ketegangan film ini makin terbangun berkat berbagai shoot mencekam yang berlatar di Holy Island, sebuah pulau yang terisolasi dari dunia luar. 

Para penyintas yang masih selamat dituntut untuk menjalani hidup sederhana, bercocok tanam dan membuat makanannya sendiri, dengan daratan di sekeliling pulau yang disebut “daratan utama” dipenuhi zombie-zombie yang kelaparan. 

Plot film ini berpusat pada satu keluarga karakter utama Jamie (Aaron Taylor-Johnson), istrinya Isla (Jodie Comer), dan putranya Spike (Alfie Wiliiams) yang tinggal terkurung di pulau ini. Pada satu momen, Spike dituntut untuk berani menghadapi dunia luar yang penuh bahaya dan para zombie setelah lama terisolasi.

Film ini secara tegas menggambarkan bagaimana kehilangan, kenangan, dan perjuangan hidup setelah virus ini menyebar. 

Salah satu adegan paling mencekam terjadi saat kamera perlahan menyorot kemunculan sosok “Alpha” zombie dari kejauhan dengan aura mematikan yang langsung bikin suasana tegang seketika. Makhluk ini kemudian memburu sang tokoh utama yang nekat meninggalkan zona aman demi menyelamatkan orang lain.

Di sisi lain, film ini juga menghadirkan sosok karakter yang membangun monumen dari tulang sebagai bentuk penghormatan untuk para korban sekaligus sindiran bagi mereka yang masih menolak sains, vaksin, dan enggan belajar dari tragedi.

Visual Ciamik dengan Ending Menggantung

Boyle sebagai sutradara berhasil melakukan eksperimen dan membuat kota London jadi tempat yang menyeramkan dan suram. Penggunaan teknologi terasa pas di film ini dan tetap membawa kesan modern. 

Di sekuel sebelumnya, Boyle menggunakan kamera digital dan kali ini, di 28 Years Later, ia menggunakan teknologi yang lebih canggih, termasuk pakai iPhone untuk beberapa adegan, bikin gambar jadi tajam, penuh ketegangan dan terasa nyata.

Ending film ini enggak langsung menjawab semua kisah yang ada bahkan sedikit mengherankan dengan ada satu karakter yang tiba-tiba muncul. Karena hal tersebut, 28 Years Later bukan jadi film sempurna, tapi tetap unik dan layak ditonton. 

Sedikit spoiler, film ini bukan buat kamu yang cari adegan membunuh zombie, tapi tetap berfokus pada bagaimana cara bertahan hidup. Buat kamu yang suka film horor dengan cerita penuh makna dan bikin penasaran, film ini bisa layak kamu tonton di bioskop.

Final Review

Dari segi penyutradaraan, Danny Boyle berhasil membawa gaya yang segar dalam genre yang sudah terlalu banyak klise. Skenario karya Alex Garland juga patut diacungi jempol dengan menghadirkan ide-ide tentang evolusi, trauma, dan komunitas para survivor, di tengah masyarakat yang berjuang untuk hidup. 

Akting dari Alfie Williams dan Aaron Taylor-Johnson cukup emosional dan terasa real sebagai anak dan ayah, didukung penampilan solid dari Ralph Fiennes sebagai pemeran pendukung yang paling menonjol. Pemeran lainnya cukup aman dan solid dalam meski pemain pendukung lain terasa kurang menonjol.

Dari sisi sinematografi, Anthony Dod Mantle patut diapresiasi berkat pendekatan visual digital yang tajam dan berani, terutama di bagian shoot menggunakan kamera iPhone.

Sementara dari segi scoring, musik dan sound dari film ini cukup mampu membangun ketegangan, meski tidak terlalu memorablePacing dari film ini pun terasa agak lambat di beberapa bagian, dengan akhir cerita yang menggantung yang terasa terlalu dragging.

Secara keseluruhan, 28 Years Later kayak mendapatkan skor akhir 4 dari 5 sebagai sekuel yang solid meski bukan karya sempurna.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan