Bukan Sekadar Nostalgia, Ini yang Bikin 28 Years Later Layak Ditonton
Review film 28 Years Later sebagai sekuel ketiga dari trilogi film zombie karya Danny Boyle dan Alex Garland, Cek!
Penulis:
Muhammad Fitrah Habibullah
Editor:
Content Writer
TRIBUNNEWS.COM – Kalau kamu suka film zombie, pasti tahu gimana 28 Days Later mengubah cara kita melihat film zombie. Dirilis pada tahun 2002, film ini mengubah paradigma kita terhadap mayat hidup dan cara bertahan.
Lanjut ke sekuel kedua, 28 Weeks Later, dunia apocalypse dipenuhi zombie ini menceritakan tentang cara para survivor bertahan hidup setelah 28 minggu outbreak terjadi.
Sutradara, Danny Boyle dan penulis skrip, Alex Garland berhasil mengubah image zombie yang biasanya lambat dan malas menjadi makhluk yang super garang dan penuh amarah, bahkan bisa ngejar manusia secepat kilat. Zombie di film ini bukan cuma mayat hidup biasa, tapi terasa kayak musuh bebuyutan yang benci banget sama manusia.
Saat itu, film tersebut dibuat dengan teknik seadanya, tapi tetap menghadirkan suasana yang terasa sangat nyata dan bikin deg-degan. Kamu nggak cuma nonton, tapi kayak ikutan merasakan situasi apokalipsnya.
Setelah lebih dari 20 tahun, duet Boyle-Garland kembali lagi dengan formula yang sama di film 28 Years Later. Tak hanya mengandalkan nostalgia, film zombie ini membawa cerita dengan intrik lebih rumit, membingungkan, dan penuh liku.
Kali ini, latar cerita mengisahkan dunia di mana virus rage sudah berubah, masyarakat terpecah, dan bertahan hidup bukan cuma soal lari dari terkaman zombie dan saling bunuh.
Ibarat suasana pandemi Covid-19 yang masih menghantui, film ini menghadirkan vibe yang serupa karena berfokus pada perjuangan para survivor untuk berjuang menghadapi rasa kesepian, trauma, dan dilema antara rasa aman dan harapan akan kebebasan yang terus ada.
Zombie yang Lebih Seram dengan Cerita yang Lebih “Dekat”
Di film lainnya, zombie terkesan lambat dan mudah untuk diperdaya. Namun, zombie di film ini diciptakan lebih cepat, liar, dan emosional. Virus “rage” yang diceritakan dalam film pertama akibat kebocoran laboratorium makin menyebar lewat darah dan ludah, dan bikin siapa pun yang terpapar menjadi mesin pembunuh dalam hitungan menit.
Dalam cerita 28 Years Later, virus ini makin menyeramkan. Masih ada zombie berkeliaran, tetapi dengan tambahan zombie yang merayap di tanah, serta ada “alpha” zombie yang lebih besar dan cerdas layaknya manusia. Khusus spesies alpha, sosoknya bahkan bisa berkembang biak bersama dengan zombie wanita hamil yang bayinya lahir sehat.
Tingkat ketegangan film ini makin terbangun berkat berbagai shoot mencekam yang berlatar di Holy Island, sebuah pulau yang terisolasi dari dunia luar.
Para penyintas yang masih selamat dituntut untuk menjalani hidup sederhana, bercocok tanam dan membuat makanannya sendiri, dengan daratan di sekeliling pulau yang disebut “daratan utama” dipenuhi zombie-zombie yang kelaparan.
Plot film ini berpusat pada satu keluarga karakter utama Jamie (Aaron Taylor-Johnson), istrinya Isla (Jodie Comer), dan putranya Spike (Alfie Wiliiams) yang tinggal terkurung di pulau ini. Pada satu momen, Spike dituntut untuk berani menghadapi dunia luar yang penuh bahaya dan para zombie setelah lama terisolasi.
Film ini secara tegas menggambarkan bagaimana kehilangan, kenangan, dan perjuangan hidup setelah virus ini menyebar.
Salah satu adegan paling mencekam terjadi saat kamera perlahan menyorot kemunculan sosok “Alpha” zombie dari kejauhan dengan aura mematikan yang langsung bikin suasana tegang seketika. Makhluk ini kemudian memburu sang tokoh utama yang nekat meninggalkan zona aman demi menyelamatkan orang lain.
Di sisi lain, film ini juga menghadirkan sosok karakter yang membangun monumen dari tulang sebagai bentuk penghormatan untuk para korban sekaligus sindiran bagi mereka yang masih menolak sains, vaksin, dan enggan belajar dari tragedi.
Visual Ciamik dengan Ending Menggantung
Boyle sebagai sutradara berhasil melakukan eksperimen dan membuat kota London jadi tempat yang menyeramkan dan suram. Penggunaan teknologi terasa pas di film ini dan tetap membawa kesan modern.
Di sekuel sebelumnya, Boyle menggunakan kamera digital dan kali ini, di 28 Years Later, ia menggunakan teknologi yang lebih canggih, termasuk pakai iPhone untuk beberapa adegan, bikin gambar jadi tajam, penuh ketegangan dan terasa nyata.
Ending film ini enggak langsung menjawab semua kisah yang ada bahkan sedikit mengherankan dengan ada satu karakter yang tiba-tiba muncul. Karena hal tersebut, 28 Years Later bukan jadi film sempurna, tapi tetap unik dan layak ditonton.
Sedikit spoiler, film ini bukan buat kamu yang cari adegan membunuh zombie, tapi tetap berfokus pada bagaimana cara bertahan hidup. Buat kamu yang suka film horor dengan cerita penuh makna dan bikin penasaran, film ini bisa layak kamu tonton di bioskop.
Final Review
Dari segi penyutradaraan, Danny Boyle berhasil membawa gaya yang segar dalam genre yang sudah terlalu banyak klise. Skenario karya Alex Garland juga patut diacungi jempol dengan menghadirkan ide-ide tentang evolusi, trauma, dan komunitas para survivor, di tengah masyarakat yang berjuang untuk hidup.
Akting dari Alfie Williams dan Aaron Taylor-Johnson cukup emosional dan terasa real sebagai anak dan ayah, didukung penampilan solid dari Ralph Fiennes sebagai pemeran pendukung yang paling menonjol. Pemeran lainnya cukup aman dan solid dalam meski pemain pendukung lain terasa kurang menonjol.
Dari sisi sinematografi, Anthony Dod Mantle patut diapresiasi berkat pendekatan visual digital yang tajam dan berani, terutama di bagian shoot menggunakan kamera iPhone.
Sementara dari segi scoring, musik dan sound dari film ini cukup mampu membangun ketegangan, meski tidak terlalu memorable. Pacing dari film ini pun terasa agak lambat di beberapa bagian, dengan akhir cerita yang menggantung yang terasa terlalu dragging.
Secara keseluruhan, 28 Years Later kayak mendapatkan skor akhir 4 dari 5 sebagai sekuel yang solid meski bukan karya sempurna.
Pengalaman Yasamin Jasem Main Wahana Horor, Sempat Jatuh Saat Dikejar Zombie |
![]() |
---|
Penulis Serial The Last of Us Sebut Series Buatan HBO Hanya Bertahan 4 Musim |
![]() |
---|
Ashanty Ceritakan Pernah Insomnia hingga Tak Tidur Selama 10 Hari sampai Dikira kena Guna-guna |
![]() |
---|
Sinopsis Film Zombieland 2: Double Tap, Aksi Melawan Revolusi Zombie, Tayang Malam Ini di TransTV |
![]() |
---|
Sinopsis Film Maggie, Kisah Seorang Ayah Melindungi Putrinya yang Terinfeksi Virus Zombie |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.