Waktunya Muda Mudi Dapat Wawasan
Bukan Sekadar Pengawasan, Ini Pentingnya Bonding Orang Tua Demi Cegah Child Grooming
Bonding yang kuat sejak masa kanak-kanak menjadi salah satu benteng paling efektif untuk melindungi anak dari risiko child grooming.
TRIBUNNEWS.COM - Publik tengah dihebohkan oleh isu child grooming menyusul pengakuan publik figur Aurelie Moeremans terkait pengalaman traumatis yang dialaminya semasa remaja. Isu ini mencuat setelah Aurelie mengungkap kisah masa lalunya saat masih berusia 15 tahun melalui buku memoar berjudul “Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah”.
Pengakuan tersebut memantik diskusi luas di ruang publik mengenai bagaimana child grooming bisa terjadi, bahkan pada sosok aktris multitalenta seperti Aurelie yang selama ini terlihat berada dalam lingkungan yang aman.
Dikutip dari Kompas.com, child grooming sendiri merupakan proses pendekatan yang dilakukan pelaku secara perlahan untuk membangun kedekatan emosional dengan anak. Berbeda dengan kekerasan seksual yang terjadi secara langsung, grooming berlangsung bertahap dan kerap tersamarkan sebagai bentuk perhatian, kepedulian, atau bahkan kasih sayang. Inilah yang membuat praktik ini sulit dikenali sejak awal, baik oleh korban maupun oleh lingkungan sekitarnya.
Dalam banyak kasus, pelaku memanfaatkan posisi kuasa, kedekatan, atau kepercayaan yang telah terbangun. Anak dibuat merasa aman, istimewa, dan bergantung secara emosional. Setelah relasi terbentuk, pelaku mulai melanggar batas secara perlahan hingga akhirnya terjadi eksploitasi seksual yang masuk dalam kategori pedofilia.
Tak sedikit publik kemudian mempertanyakan bagaimana kondisi tersebut bisa terjadi pada Aurelie di usia yang begitu muda. Perbincangan pun mengarah pada satu aspek krusial, yakni peran orang tua. Bonding atau ikatan yang kuat sejak masa kanak-kanak dinilai menjadi salah satu benteng paling efektif untuk melindungi anak dari risiko child grooming.
Berikut beberapa alasan mengapa bonding pada anak sangat penting dilakukan:
1. Bonding Membentuk Rasa Aman pada Anak
Bonding merupakan ikatan emosional yang terjalin antara anak dan orang tua melalui kehadiran, perhatian, serta komunikasi yang konsisten. Anak yang memiliki rasa aman secara emosional cenderung tidak mudah mencari validasi atau perhatian dari pihak lain di luar lingkungan keluarganya. Kondisi ini membuat mereka lebih terlindungi dari pelaku grooming yang memanfaatkan kebutuhan emosional anak.
2. Anak yang Dekat dengan Orang Tua Lebih Berani Bercerita
Salah satu ciri utama child grooming adalah upaya pelaku untuk membuat anak menyimpan rahasia. Namun, anak yang terbiasa menjalin komunikasi terbuka dengan orang tua akan lebih berani bercerita ketika merasa tidak nyaman atau mengalami perlakuan yang janggal. Keterbukaan ini menjadi kunci penting dalam deteksi dini dan pencegahan.
Baca juga: Psikolog Soroti Pengakuan Aurelie Moeremans soal Child Grooming, Bongkar Motif dan Cara Kerja Pelaku
3. Peran Orang Tua dalam Mengenalkan Batasan Tubuh
Melalui hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan, orang tua memiliki ruang yang aman untuk mengenalkan konsep batasan tubuh (body boundaries) sejak dini. Anak perlu memahami bagian tubuh mana yang bersifat pribadi, siapa saja yang boleh menyentuhnya, serta kapan harus menolak dan melapor. Edukasi ini membantu anak mengenali tanda-tanda awal grooming sebelum masuk ke tahap yang lebih berbahaya.
4. Kehadiran Emosional Mencegah Ketergantungan pada Pihak Lain
Pelaku grooming kerap menargetkan anak yang merasa kurang diperhatikan atau mengalami kekosongan emosional. Orang tua yang hadir secara emosional dan bukan hanya secara fisik, membantu anak merasa diperhatikan dan mengurangi risiko anak mencari figur pengganti yang berpotensi menyalahgunakan kepercayaan tersebut.
5. Orang Tua sebagai Role Model Relasi Sehat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilust-Bonding-dengan-Anak.jpg)