Senin, 13 April 2026

Gerakan Sipil Butuh Reimajinasi dan Regenerasi

Organisasi masyarakat sipil konsisten memperjuangkan kelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab.

Editor: Content Writer
Istimewa
MASYARAKAT SIPIL - Penulis dan pemerhati isu sosial politik Okki Sutanto. 

Oleh: 

Okki Sutanto

Pemerhati isu sosial politik

TRIBUNNEWS.COM - Saat kuliah, seorang dosen pernah berpostulat begini, “Bagaimana diskusi dan aktivisme mahasiswa bisa berkembang kalau ruang interaksinya saja terbatas?”

Ia mengomentari kebijakan dan renovasi kampus kala itu: ruang senat mahasiswa yang diperkecil, area kantin yang kian sempit, selasar tempat mahasiswa biasa berkumpul dijadikan area komersil, dan pemberlakuan jam malam di kampus. Interaksi mahasiswa lintas angkatan dan fakultas pun jadi berkurang. Akhirnya, pertukaran ide, regenerasi gagasan, dan estafet kepemimpinan mahasiswa tak dapat berjalan mulus.

Bertahun-tahun setelahnya, apa yang dikhawatirkan sang dosen terjadi: organisasi mahasiswa sepi peminat, beberapa vakum atau bubar jalan, aktivisme baik di tingkat kampus pun nasional pun redup. Semua berjalan sendiri-sendiri tanpa pernah memiliki kesadaran bahwa mereka bagian dari sistem yang sama, yang mungkin sekali memiliki kesamaan identitas, nilai, dan perjuangan. Yang harusnya bisa semakin berdaya jika mereka bergerak bersama.

Apa yang terjadi di kampus tadi mencerminkan gerakan masyarakat sipil kita hari-hari ini: ketiadaan ruang aman dan nyaman untuk berkonsolidasi, mandeknya regenerasi, serta ekosistem yang belum mendukung kerja-kerja kolaborasi. Akhirnya, tak sedikit orang muda kita yang bergerak masing-masing, sendiri-sendiri, dengan segala keterbatasan dampak dan daya jangkau. Atau, yang tak kalah berbahaya: orang mudanya jadi apatis.

Padahal, peran organisasi masyarakat sipil begitu krusial dalam demokrasi kita. Mereka hadir sebagai representasi suara masyarakat, mendorong terjadinya perubahan sosial, dan menjadi pengawas serta penyeimbang laku kekuasaan yang kadang ugal-ugalan. 

Di berbagai negara, organisasi masyarakat sipil jugalah yang konsisten memperjuangkan kelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab. Mereka pula yang tak lelah bersuara mendorong pemerintahan yang lebih akuntabel, demokrasi yang lebih bermakna, hak asasi manusia, juga mengangkat keresahan kelompok-kelompok minoritas dan rentan yang suaranya seringkali disunyikan dan dianggap tak ada.

Mengingat pentingnya gerakan dan organisasi masyarakat sipil, merawat dan memastikan keberlangsungannya jadi tugas kita bersama. Riset yang pernah dilakukan Harian Kompas mengungkap bahwa orang muda usia 17-30 tahun sebenarnya memiliki kepedulian dan keinginan untuk terlibat dalam gerakan masyarakat sipil. Namun, tak jarang mereka kesulitan menemukan ruang atau wadah yang aman dan nyaman untuk bisa berpartisipasi secara bermakna. Stagnasi gerakan sipil hari ini butuh inovasi dan regenerasi.

Lebih dari sekadar usia, regenerasi gerakan juga bicara soal pembaruan bahasa, cara, dan cita-cita politik yang wajib didefinisikan ulang sesuai kebutuhan zaman. Organisasi sipil yang masih menggunakan perspektif usang puluhan tahun silam, tidak akan mampu menjawab keresahan orang muda kita hari ini. Kita perlu wadah yang lebih kreatif, sesuai tantangan zaman, inklusif, serta sanggup menciptakan kolaborasi bermakna.

Saya beruntung dapat menghadiri FESTIVIS (Festival Aktivis Muda dalam Gerakan Sosial Indonesia) belum lama ini. Di sana, beragam keresahan, isu, dan tantangan gerakan sipil dibahas lewat cara yang mudah dimengerti, kreatif, serta inklusif. 

Lewat format teater forum, isu-isu hangat yang diangkat jadi mudah dipahami audiens–mulai dari isu aktivisme performatif, birokratisasi yang menyulitkan gerakan itu sendiri, konflik agraria dan masyarakat adat yang ruang hidupnya terampas, kekerasan berbasis gender, hingga orang muda kritis yang harus menjadi tahanan politik.

Isu terakhir terkait tahanan politik, terasa begitu dekat dan relevan. Tempo mencatat, hingga Januari 2026 masih terdapat 652 tahanan politik terkait aksi demonstrasi Agustus 2025. Minggu lalu, Laras Faizati divonis bersalah karena bersuara kritis. Alfarisi bin Rikosen, seorang pemuda di Jawa Timur yang menjadi tahanan politik, meninggal dalam tahanan. Pertanyaan dosen saya dulu kembali terngiang, “Bagaimana diskusi, demokrasi, dan aktivisme bisa berkembang jika ruang geraknya dibatasi demikian rupa?”

Tak cuma soal isu tahanan politik, fragmen lain pun berakar kuat ke permasalahan nyata yang sungguh terjadi. Disampaikan lewat lakon menarik yang memudahkan siapa saja memahami isunya. Dijelaskan dengan sederhana, tapi tetap mencerahkan. Di fragmen konflik agraria misalnya, audiens jadi paham modus-modus yang biasa digunakan untuk meminggirkan masyarakat adat dari tanah mereka sendiri. Di fragmen aktivisme performatif, kita melihat bagaimana aktivis dan pergerakannya tak jarang belum benar-benar inklusif dan substantif. Masih meminggirkan kelompok rawan dan menggenggam erat paradigma kolot yang tak relevan.

Baca juga: Tanggal 13 Januari Memperingati Hari Apa? Ada Hari HAM Nelayan dan Masyarakat Sipil

Selain itu, audiens juga tak sekadar menjadi penonton pasif. Mereka diajak terlibat secara bermakna, dengan menjadi “spect-actors” yang bisa mengkritik dan merevisi naskah, bahkan ikut naik ke atas panggung, menjadi aktor, lantas menawarkan solusi versi mereka.

Konsep yang ditawarkan oleh FESTIVIS sejalan dengan konsep Bunga Partisipasi di Buku Saku MIYP (Meaningful and Inclusive Youth Participation) yang dirilis oleh Perkumpulan Pamflet Generasi. Dalam konsep Bunga Partisipasi, ada sejumlah elemen inti yang dibutuhkan agar keterlibatan orang muda bisa maksimal: (1) kebebasan untuk memilih; (2) akses informasi yang utuh; (3) diberi kuasa mengambil keputusan; (4) bisa menyampaikan suara mereka; dan (5) memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas.

Lewat FESTIVIS, kelima hal tadi diusahakan sungguh-sungguh. Pertama: orang muda diberi kebebasan memilih, tak sekadar jadi penonton dan penerima yang pasif. Kedua: mereka diedukasi soal isu-isu pergerakan yang memadai dan informatif. Ketiga: mereka diajak terlibat mengambil keputusan bahkan ikut menjadi aktor dadakan di panggung. Keempat: suara mereka betul-betul didengarkan. Terakhir: mereka diberikan peran dan tanggung jawab yang bermakna.

Selain lima hal tadi, seperti bunga yang tumbuh membutuhkan air, pupuk, dan sinar matahari, gerakan orang muda sipil juga membutuhkan lingkungan dan ekosistem yang tepat. Mulai dari transfer knowledge yang memadai, ruang aman yang ramah bagi orang muda, hingga dukungan keuangan dan kebijakan yang relevan terkait orang muda.

Kreativitas dan cara baru yang ditawarkan FESTIVIS mungkin belum sempurna, tapi ini bisa menjadi langkah awal dan pakem baru yang perlu kita usahakan bersama. Memberi kesempatan bagi orang muda untuk terlibat secara bermakna. Menciptakan ruang-ruang aman dan nyaman yang menjawab kebutuhan zaman. Juga melakukan regenerasi substantif terhadap gerakan sipil yang seringkali terjebak pada paradigma usang masa lampu.

Sudah saatnya kita tidak lagi meminggirkan orang muda. Merekalah yang akan menjalani dunia yang diciptakan dan ditentukan hari-hari ini, bahkan hingga berpuluh tahun ke depan. Setiap keputusan politik, ekonomi, dan sosial yang diambil hari ini, orang mudalah yang akan mengalami dan merasakan dampaknya paling lama. Sudah waktunya kita memberikan panggung dan lampu sorot ke mereka: untuk menentukan nasib mereka sendiri, menciptakan dunia mereka sendiri, dan mengusahakan masa depan mereka sendiri.

Pada akhirnya, regenerasi gerakan sipil sebagai jantung demokrasi dan episentrum perubahan, wajib kita usahakan bersama. Regenerasi yang bukan cuma soal usia, tapi juga soal pembaruan bahasa, cara, dan cita-cita politik yang sanggup menjawab tantangan zaman. Lewat cara-cara yang kreatif, inklusif, dan kolaboratif sebagaimana yang sudah dicontohkan FESTIVIS. Hanya dengan demikianlah, orang muda bisa terus berpartisipasi dengan lebih bermakna. Sehingga semua suara bisa terdengar, semua pihak bisa terlibat, dan dunia yang lebih baik, bisa tercapai.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved