Medis
Sudah Dinyatakan Meninggal tapi Tubuh Masih Bergerak, Ini Penjelasan Medisnya
Sudah dinyatakan meninggal, tetapi jantung kembali berdetak atau tubuh bergerak sendiri? Ini penjelasan medis fenomena Lazarus yang perlu diketahui.
TRIBUNNEWS.COM - Fenomena orang yang tiba-tiba "hidup kembali" setelah dinyatakan meninggal sempat menjadi perbincangan publik.
Beberapa tahun lalu, media sosial sempat dihebohkan kabar jenazah remaja berusia 12 tahun di Probolinggo, Jawa Timur, yang mendadak bergerak saat hendak dimandikan, meski akhirnya kembali meninggal setelah sempat mendapat perawatan medis.
Dalam dunia medis, kejadian langka seperti itu dikenal dengan istilah fenomena Lazarus atau Lazarus phenomenon. Nama tersebut diambil dari kisah tokoh Lazarus dari Betania dalam Injil Yohanes, seorang sahabat Yesus yang diceritakan hidup kembali setelah empat hari meninggal.
Meski terdengar dramatis, fenomena ini sebenarnya memiliki penjelasan ilmiah. Hanya saja, pembahasannya kerap menimbulkan kerancuan karena istilah Lazarus dipakai secara berbeda-beda di literatur medis, mulai dari Lazarus phenomenon, Lazarus syndrome, hingga Lazarus sign.
Publik perlu memahami bahwa istilah-istilah tersebut sebenarnya merujuk pada dua kondisi yang berbeda.
Lazarus syndrome atau Lazarus phenomenon mengacu pada kembalinya detak jantung setelah upaya resusitasi dihentikan, sedangkan Lazarus sign merujuk pada gerakan refleks pada tubuh pasien mati batang otak.
Keduanya kerap tertukar meski memiliki mekanisme dan implikasi klinis yang jauh berbeda.
Lazarus syndrome, Jantung yang Kembali Berdetak
Dikutip dari Cleveland Clinic, Lazarus syndrome atau autoresuscitation adalah fenomena langka ketika seseorang yang telah dinyatakan meninggal akibat henti jantung tiba-tiba menunjukkan tanda kehidupan.
Kondisi tersebut umumnya terjadi dalam 10 menit setelah resusitasi jantung paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) dihentikan.
Pasien seolah hidup kembali, padahal sebenarnya jantung dan sirkulasi darahnya belum berhenti secara permanen. Istilah medisnya adalah kembalinya sirkulasi spontan atau return of spontaneous circulation (ROSC) yang tertunda.
Laporan yang dipublikasikan dalam Journal of The Royal Society of Medicine mencatat bahwa kasus Lazarus syndrome pertama kali dilaporkan pada 1982. Hingga kini, tercatat setidaknya 38 kasus serupa di berbagai belahan dunia.
Data tersebut menyebut 82 persen kasus terjadi dalam 10 menit setelah CPR dihentikan. Sementara itu, 45 persen di antaranya mengalami pemulihan neurologis yang baik setelah sempat dinyatakan meninggal.
Penyebab pasti Lazarus syndrome belum diketahui, tetapi para ahli mengajukan beberapa dugaan. Salah satunya adalah penumpukan tekanan di dada akibat CPR yang secara bertahap dilepaskan setelah tindakan dihentikan sehingga jantung kembali bekerja.
Teori lain menyebut efek obat resusitasi seperti adrenalin yang baru bereaksi setelah aliran darah membaik. Beberapa peneliti juga menyoroti kemungkinan peran hiperkalemia, meski belum ada kesimpulan yang valid.
Lazarus Sign, Gerakan Refleks pada Pasien Mati Batang Otak
Berbeda dengan Lazarus syndrome, Lazarus sign justru terjadi pada pasien yang telah dinyatakan mati batang otak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/FENOMENA-LAZARUS.jpg)