Selasa, 5 Mei 2026

Waktunya Muda Mudi Dapat Wawasan

Mengenal Kereta Djoko Tingkir, Kereta Kuning Penolong di Jalur Kereta Api

Kereta Djoko Tingkir dikhususkan untuk penanganan kondisi darurat di jalur perkeretaapian, seperti kecelakaan atau gangguan operasional.

Tayang:
Istimewa
KERETA KONDISI DARURAT - Ilustrasi kereta Djoko Tingkir. Kereta ini dikhususkan untuk penanganan kondisi darurat di jalur perkeretaapian, seperti kecelakaan atau gangguan operasional. 

TRIBUNNEWS.COM - Indonesia kembali berduka setelah insiden tragis yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Dalam peristiwa tersebut, Kereta Api Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasarturi menabrak rangkaian KRL Commuter Line PLB 5568A yang tengah berhenti di stasiun.

Benturan keras mengakibatkan kerusakan parah pada bagian belakang rangkaian KRL, khususnya gerbong khusus perempuan. Akibat kejadian ini, 16 penumpang perempuan dilaporkan meninggal dunia, sementara sedikitnya 90 orang lainnya mengalami luka-luka.

Proses evakuasi yang melibatkan Basarnas bersama sejumlah petugas berlangsung selama kurang lebih 12 jam. Setelah penanganan awal selesai, perhatian publik tertuju pada kemunculan sebuah kereta berwarna kuning mencolok di lokasi kejadian.

Kemunculan kereta tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah videonya beredar luas. Kereta ini diketahui memiliki peran penting, yakni mengevakuasi dan menarik rangkaian KRL yang terdampak tabrakan.

Kereta Kuning dengan Peran Khusus

Kereta berwarna kuning tersebut dikenal sebagai Kereta Rel Diesel NoodHulp Rijtuig (KRD NR) atau dikenal juga sebagai “Djoko Tingkir”. Kereta ini berada di bawah operasional depo KRL Bukit Duri.

Kereta Djoko Tingkir berperan sebagai kereta penolong yang membantu proses evakuasi korban, memindahkan rangkaian yang rusak, hingga mendukung perbaikan jalur rel agar dapat kembali digunakan.

Kereta ini terdiri dari dua rangkaian diesel yang digabungkan dan memiliki kemampuan bergerak mandiri tanpa perlu ditarik lokomotif. Selain itu, kereta ini juga dilengkapi berbagai peralatan berat yang dibutuhkan dalam penanganan pascakecelakaan, menjadikannya elemen penting dalam proses pemulihan operasional.

Baca juga: Crush Syndrome, Alasan Korban Kecelakaan seperti KRL Bekasi Timur Tak Boleh Langsung Dievakuasi

Warna Kuning yang Mudah Dikenali

Salah satu ciri khas Kereta Djoko Tingkir adalah warnanya yang kuning terang. Pemilihan warna ini bukan tanpa alasan, melainkan agar kereta mudah dikenali, terutama saat berada di lokasi darurat yang membutuhkan respons cepat.

Karena tampilannya yang mencolok, warganet sempat menjulukinya sebagai “kereta Pikachu”. Meski demikian, di balik tampilannya yang menarik perhatian, kereta ini memiliki fungsi yang sangat krusial dalam sistem keselamatan perkeretaapian.

Hadir Saat Situasi Darurat

Berbeda dengan kereta penumpang yang beroperasi setiap hari, Kereta Djoko Tingkir umumnya hanya dikerahkan saat terjadi kondisi darurat. Kehadirannya kerap berkaitan dengan insiden di jalur rel, seperti kecelakaan atau gangguan operasional lainnya.

Kereta ini dioperasikan oleh tim khusus yang terlatih dalam menangani situasi darurat dengan tujuan mempercepat proses evakuasi serta pemulihan jalur rel. Dengan begitu, gangguan terhadap perjalanan kereta dapat diminimalkan dan operasional dapat kembali berjalan dengan aman.

Namun, di balik perannya yang vital, kehadiran Kereta Djoko Tingkir sesungguhnya menjadi pengingat akan adanya situasi darurat yang tidak diharapkan. 

Oleh karena itu, meskipun keberadaannya sangat penting, kita semua tentu berharap kereta ini jarang digunakan, seiring dengan harapan bahwa keselamatan perjalanan kereta api tetap terjaga.

Baca juga: Ketika Risiko Menjadi Tragedi: Pelajaran Analisis Risiko dari Kecelakaan Kereta Api Bekasi Timur

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved