TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
Otak Anak Bisa Menyusut bila Dimarahi
Tribunnews.com - Senin, 10 Januari 2011 01:44 WIB

IST
Berita Lainnya
TRIBUNNEWS.COM - Tak hanya saat marah, bahkan bila orangtua berbohong, hal yang sama akan terjadi. Kondisi semacam jika diteruskan akan menghambat terjadinya pertumbuhan otak normal.
"Ini adalah bentuk kegagalan dari kecil. Sama seperti anak tidak matang dalam merasa, meraba, melihat," kata Kepala Sub Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Intelegensia Anak Kemenkes Gunawan Bam seusai temu media di Gedung Kemenkes, Jakarta.
Kondisi pikiran yang serba negatif itu disebut Gunawan sebagai salah satu akibat dari "keracunan otak" yang dilakukan oleh orang tua anak. Kondisi yang tidak kondusif, orang tua pemarah, bisa berpengaruh langsung ke kondisi kesehatan otak anak, katanya.
Inilah yang terjadi pada diri anak-anak Indonesia. Hasil survei Pusat Intelegensia Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan, mayoritas anak Indonesia berpikiran negatif yang dinilai sebagai pola pikir yang tidak sehat.
"Sebanyak 80 persen dari 3.000 responden menggambarkan cara berpikir negatif atau ’mental block’. Ini adalah bentuk kegagalan pertumbuhan otak dari kecil," kata Kepala Sub Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Intelegensia Anak Kemenkes Gunawan Bam seusai temu media di Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat.
Pusat Intelegensia Kesehatan melakukan survei terhadap anak sekolah mulai dari SD hingga SMA untuk mengetahui kondisi perkembangan otak anak Indonesia.
Namun ia mengatakan hal itu bukannya tidak dapat diperbaiki, yaitu beberapa perbaikan senso-motorik dapat dilakukan untuk kembali meningkatkan kesehatan dan perkembangan otak.
Kemenkes juga akan melakukan "brain assessment" kepada pegawai pemerintahan bekerjasama dengan Kementerian Aparatur Negara.
"Mudah-mudahan tahun ini akan kita mulai. Paling tidak akan kita awali tahun ini," kata Kepala Pusat Intelegensia Kesehatan (PIK) Kemenkes dr Kemas M Akib Aman, SpR, MARS.
Tiga instrumen yang diamati dalam "brain assessment" itu adalah neuro-behaviour, psikologi dan psikiatri.
Metode yang dikembangkan PIK ini telah divalidasi pada sejumlah responden di sembilan provinsi yaitu Sumatera Barat, Aceh, Yogyakarta, Jawa Barat, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Maluku dan NTB. (abd)
"Ini adalah bentuk kegagalan dari kecil. Sama seperti anak tidak matang dalam merasa, meraba, melihat," kata Kepala Sub Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Intelegensia Anak Kemenkes Gunawan Bam seusai temu media di Gedung Kemenkes, Jakarta.
Kondisi pikiran yang serba negatif itu disebut Gunawan sebagai salah satu akibat dari "keracunan otak" yang dilakukan oleh orang tua anak. Kondisi yang tidak kondusif, orang tua pemarah, bisa berpengaruh langsung ke kondisi kesehatan otak anak, katanya.
Inilah yang terjadi pada diri anak-anak Indonesia. Hasil survei Pusat Intelegensia Kesehatan Kementerian Kesehatan menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan, mayoritas anak Indonesia berpikiran negatif yang dinilai sebagai pola pikir yang tidak sehat.
"Sebanyak 80 persen dari 3.000 responden menggambarkan cara berpikir negatif atau ’mental block’. Ini adalah bentuk kegagalan pertumbuhan otak dari kecil," kata Kepala Sub Bidang Pemeliharaan dan Peningkatan Kemampuan Intelegensia Anak Kemenkes Gunawan Bam seusai temu media di Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat.
Pusat Intelegensia Kesehatan melakukan survei terhadap anak sekolah mulai dari SD hingga SMA untuk mengetahui kondisi perkembangan otak anak Indonesia.
Namun ia mengatakan hal itu bukannya tidak dapat diperbaiki, yaitu beberapa perbaikan senso-motorik dapat dilakukan untuk kembali meningkatkan kesehatan dan perkembangan otak.
Kemenkes juga akan melakukan "brain assessment" kepada pegawai pemerintahan bekerjasama dengan Kementerian Aparatur Negara.
"Mudah-mudahan tahun ini akan kita mulai. Paling tidak akan kita awali tahun ini," kata Kepala Pusat Intelegensia Kesehatan (PIK) Kemenkes dr Kemas M Akib Aman, SpR, MARS.
Tiga instrumen yang diamati dalam "brain assessment" itu adalah neuro-behaviour, psikologi dan psikiatri.
Metode yang dikembangkan PIK ini telah divalidasi pada sejumlah responden di sembilan provinsi yaitu Sumatera Barat, Aceh, Yogyakarta, Jawa Barat, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Maluku dan NTB. (abd)
Editor: Iwan Apriansyah | Sumber: Sehat News
Akses Tribunnews.com lewat perangkat mobile anda melalui alamat m.tribunnews.com
Lifestyle Terbaru
TRIBUNnews.com Network
- Serambi Indonesia
- Sriwijaya Post
- Surya
- Banjarmasin Post
- Bangka Pos
- Pos Kupang
- Tribun Batam
- Tribun Jabar
- Tribun Jambi
- Tribun Jogja
- Tribun Kaltim
- Tribun Lampung
- Tribun Manado
- Tribun Medan
- Tribun Pontianak
- Tribun Pekanbaru
- Tribun Timur
- Tribun Jakarta
- Tribun Jateng
- Tribun Kalteng
- Tribun Jatim
- Tribun Gorontalo
- Tribun Sumsel
© 2012 TRIBUNnews.com All Right Reserved | About Us | Privacy Policy | Help | Terms of Use | Redaksi | Info iklan | Contact Us | Lowongan


