RS Tenriawaru Bantah Tolak Pasien Melahirkan
Melalui staf humas RS Tenriawaru, Andi Dedy, pihak manajemen membantah telah menolak Diana, pasien yang mau melahirkan.
Laporan Wartawan Tribun Timur, Surtan Siahaan
TRIBUNNEWS.COM, WATAMPONE - Manajemen RS Tenriawaru Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel), menilai pemberitaan mengenai pasien melahirkan yang ditolak lantaran tidak membawa KTP hanya kesalahpahaman pasien dengan perawat.
Melalui staf humas RS Tenriawaru, Andi Dedy, pihak manajemen membantah telah menolak Diana, pasien yang mau melahirkan.
"Rumah sakit sama sekali tidak pernah menolak pasien. Apalagi terhadap diana," ujarnya.
Berdasarkan versi RS Tenriawaru, saat tiba di rumah sakit Diana diperiksa oleh perawat dan mengaku baru hamil delapan bulan. Saat itu, tutur Dedy, pasien mengaku dalam kondisi baik.
Tidak hanya dilayani, Diana bahkan sudah menginap selama dua malam di RS. Tapi, menurut perawat, yang bersangkutan akhirnya pergi tanpa sepengetahuan saat hendak diperiksa di Poli kandungan.
"Tidak mungkin kami tolak pasien hanya karena tak punya KTP. Setelah melihat kondisi sang pasien, tetap kami layani. Soal administrasi itu urusan kedua, yang terpenting adalah pelayanan perawatan terhadap pasien," ujarnya.
Sebelumnya, Seorang warga Camba, Kabupaten Maros, bernama Diana (30) mengaku ditolak pihak RS Tenriawaru Bone saat ingin melakukan persalinan.
Pihak rumah sakit menolak menerima Diana, yang sudah mengalami pecah air ketuban, lantaran yang bersangkutan tidak memiliki KTP.
Diana nyaris melahirkan bayinya di Kantor Kecamatan Tanete Riattang Barat. Dalam keadaan menahan sakit, ia dianjurkan pihak RS mengurus kelengkapan identitas di kantor kecamatan sebelum kembali untuk bersalin.
Seorang wartawan media cetak yang kebetulan bertemu di kantor tersebut kemudian mengantarnya ke Puskesmas Watampone untuk bersalin.
Akhirnya, perempuan yang kabur dari rumahnya untuk mencari ayah kandung bayinya tersebut melahirkan pada Senin (1/8/2011) malam.