Sabtu, 13 Juni 2026

2011, Penyaluran Kredit Danamon Melonjak 23 Persen

Danamon mencatat penyaluran kredit mencapai Rp 101, 7 triliun atau meningkat 23 persen dari Rp 82,7 triliun di akhir 2010 lalu.

Tayang:
Editor: Ade Mayasanto

Laporan Wartawan Tribunnews.com Andri Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyaluran kredit Bank Danamon kian kinclong pada 2011. Bank Danamon mencatat penyaluran kredit mencapai Rp 101, 7 triliun atau meningkat 23 persen dari Rp 82,7 triliun di akhir 2010 lalu.

Peningkatan penyaluran kredit ini berkat terdongkraknya kredit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Penyaluran kredit UMKM tumbuh 27 persen hingga Rp 14,2 triliun. Kredit lain adalah kredit komersial yang mencapai pertumbuhan sebesar 19 persen atau mencapai Rp 10 triliun.

Tidak hanya itu, penyaluran kredit bank Danamon juga ciamik di segment mass market. Kredit kepemilikan kendaraan bermotor, perabotan rumah tangga (durable goods), kredit kepada nasabah wirausahawan kecil (self-employed mass market) dan pembiayaan syariah beragun emas mencatat pertumbuhan sebesar 26 persen mencapai Rp 59,252 triliun. Kredit mass market ini mencakup 58 persen dari total portofolio kredit Danamon.

Pembiayaan yang disalurkan oleh unit bisnis ABF (Assets Based Financing) Danamon juga mencatat pertumbuhan kredit sebesar 59 persen, mencapai Rp 4,573 triliun.

“Pertumbuhan kredit yang kuat di semua lini bisnis kami juga diiringi oleh penerapan prinsip-prinsip perbankan yang prudent, menjunjung tinggi kehati-hatian dan kedisiplinan. Hal tersebut memungkinkan kami untuk menurunkan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loans,” kata Vera Eve Lim , Direktur dan Chief Financial Officer Danamon saat memaparkan  Kinerja Danamon Akhir Tahun 2011, di JW Marriot, Jakarta, Selasa (14/2/2012).

Pada akhir 2011, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loans/NPL) membaik menjadi 2,5 persen. Padahal, dia akhir 2010, rasio kredit bermasalah bank Danamon senilai 3 persen.

“Selain tingkat pertumbuhan yang sehat di sisi kredit, Danamon juga mencatatkan peningkatan fee income sebesar 24 persen menjadi Rp 4,131 triliun," ucapnya seraya menyebut hal tersebut disebabkan kenaikan pos-pos pendapatan terkait penyaluran kredit dan pendapatan-pendapatan dari bisnis bancassurance.
 

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved