Selasa, 14 April 2026

CEO Perusahaan Diminta Peduli Konservasi Orangutan

Pakar Ekologi Konservasi Universitas Mulawarman, Dr Yaya Rayadin, mengharapkan para pemilik dan pimpinan perusahaan pertambangan

Editor: Dewi Agustina

Laporan Wartawan Tribun Kaltim, Kholish Chered

TRIBUNNEWS.COM, SANGATTA - Pakar Ekologi Konservasi Universitas Mulawarman, Dr Yaya Rayadin, mengharapkan para pemilik dan pimpinan perusahaan pertambangan, perkebunan sawit, dan hutan tanaman industri untuk memberikan perhatian pada konservasi orangutan.

Hal ini karena perhatian dari pemilik dan pimpinan perusahaan akan diikuti sampai level staf teknis di perusahaan.

"Komitmen CEO sangat diperlukan. Kalau di tingkat tinggi sudah oke, ke bawah enak," kata Yaya, dalam Lokakarya Konservasi Orangutan di Konsesi Perusahaan di Kabupaten Kutai Timur, di Kantor Bupati Kutim, Selasa (5/6/2012).

Ia berharap perusahaan tambang, perkebunan sawit, dan HTI bisa membentuk satgas konservasi orangutan. Nantinya pola konservasi bisa dilaksanakan dalam model in-situ (di dalam kawasan habitat alaminya atau di dalam lokasi perusahaan) dan ek-situ (di luar kawasan habitat alaminya).

Satgas konservasi tersebut akan bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dalam melaksanakan kegiatan penyelamatan orangutan. Dasar hukum pembentukan satgas penyelamatan orangutan adalah Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48 / Menhut – II / 2008 tentang Pendoman Penanggulangan Konflik Antara Manusia dan Satwa Liar.

Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa untuk daerah-daerah yang sering terjadi konflik antara manusia dan satwa liar, di Kaltim dalam hal ini adalah orangutan (Pongo Pygmaeus Morio), perlu dibentuk satgas penyelamatan (rescue) orangutan.

Pemahaman tentang konservasi orangutan bagi calon satgas penyelamatan orangutan di perkebunan kelapa sawit ini sangat penting. Hal ini agar satwa langka dan dilindungi (orangutan) tersebut tidak diperlakukan sebagai hama.

Satgas penyelamatan orangutan akan berperan melakukan translokasi jika terdapat individu orangutan yang “terjebak” di tengah-tengah perkebunan sawit untuk direlokasi ke dalam wilayah-wilayah yang mempunyai daya dukung kawasan yang lebih baik.

Baca juga:

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved