Guyonan Moeslim Abdurrahman soal Ketua GP Anshor
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merasa kehilangan dengan meninggalnya tokoh Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, pada Jumat (6/7/2012)
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merasa kehilangan dengan meninggalnya tokoh Muhammadiyah, Moeslim Abdurrahman, pada Jumat (6/7/2012) malam.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) PPP, M Romahurmuziy, mengaku terkejut dan mengungkapkan kesedihan mendalam saat mendapatkan berita wafatnya Muslim.
Romy, sapaan Romahurmuziy, menyebut Muslim sebagai seorang antropolog, ideolog sekaligus provokator kebangsaan dan keumatan.
"Terkejut, karena pada interaksi saya terakhir sekitar sebulan silam, Kang Muslim sama sekali tidak menunjukkan atau mengeluhkan tanda sakit," ujar Romy melalui keterangan tertulisnya kepada Tribunnews.com, Sabtu (7/7/2012).
Mengenang seorang Muslim, Romy bercerita dirinya bersama almarhum sempat menghabiskan waktu bersama dalam sebuah Sarasehan Hari Kebangkitan Nasional yang diadakan di kantor GP Ansor, Kramat Raya, Jakarta, pada akhir Mei 2012.
Dalam tema yang menantang kebangkitan kaum muda itu, Muslim menjadi moderator, dan kebetulan Romy didapuk sebagai salah satu narasumber.
Romy mengaku merasa terhormat dengan pendapukan tersebut. "Dimoderatori seorang pemikir-bebas senior, yang saat saya masih aktivis mahasiswa di ITB, Bandung, almarhum sudah malang-melintang dengan berbagai guyonan dan pemikiran," tuturnya.
Pluralitas seorang Muslim sudah sangat menasional, sampai-sampai Romi dan teman-temannya kerap menyebutnya sebagai aktivis yang MuhammadiNU. Muslim adalah pengurus dan aktivis Muhammadiyah, tapi peribadatan dan keakrabannya justru di kalangan aktivis NU, bahkan melintasi sekat keormasan dan keagamaan.
Romy menceritakan, dalam pidato pembukaan di acara GP Ansor itu, Muslim berseloroh, 'Biasanya saya ini diundang sebagai narasumber. Kali ini saya mau dan maafkan meski diundang sebagai moderator, karena saya tahu Nusron (Ketua umum GP Ansor) enggak kuat bayar honor saya'. Seloroh Muslim itu disambut derai tawa hadirin.
Masih dengan guyonnya di forum itu, lanjut Romy, Muslim menantang para pemimpin muda Indonesia berani untuk membangun ikon pembaharuan dibandingkan seniornya, atau justru menguatkan label kebobrokan yang masih terwariskan sejak zaman Orde Baru.
Romy kembali mengungkapkan rasa sedih dan harunya, karena negeri ini kembali kehilangan putra terbaiknya. Sebab hanya sedikit pemikir yang masih menikmati tidak terkooptasi oleh negara.
"Sedih saya rasakan, karena salah satu pelita kebenaran dan wujud sejati seorang intelektual, padam. Sedih saya rasakan, karena aktivis pluralitas dan penggiat toleransi keagamaan berkurang, di tengah semakin mengerasnya penganut paham keagamaan radikal. Sedih saya rasakan, karena kabar sakitnya pun tidak sempat saya dengar sehingga alpa menjenguknya," ungkapnya.
Menurut Romy, saat menulis cerita ini dirinya sedang dalam perjalanan ke Pasuruan, Jawa Timur, untuk mengisi Musyawarah Kerja Partai Persatuan Pembangunan, yang telah terjadwal lama.
"Tak terasa, mata saya berkaca-kaca. Meski sudah menghadap Sang Pencipta, izinkan saya berhormat, melalui tulisan ini, (menyampaikan) Selamat jalan kang Muslim, semoga Surga Na'im yang dipersiapkan Allah SWT menantimu," doa Romy.
Baca Juga: