Sabtu, 11 April 2026

Deteksi Dini Kanker Payudara dengan Sadari

Penny Purnawaty tak menyangka didiagnosa kanker payudara. Pasalnya riwayat keluarganya tidak ada yang terkena penyakit tersebut.

Penulis: Agustina Rasyida
Editor: Anwar Sadat Guna

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penny Purnawaty tak menyangka didiagnosa kanker payudara. Pasalnya riwayat keluarganya tidak ada yang terkena penyakit tersebut.

"Saya denial, karena nggak ada riwayat keluarga yang terkena kanker payudara," ujar Penny dalam acara International Breast Cancer Day, Sabtu (27/10/2012), di Plaza Senayan, Jakarta.

Empat tahun lalu, Penny telah mengetahui bahwa dirinya memiliki tumor di payudara. Tetapi ia tidak menginginkan berobat secara medis. Ia mengambil pengobatan alternatif. Sampai suatu saat is berhenti dan beralih ke medis.

"Sampai suatu titik, saya pikir ini sudah terlalu besar, pengobatan alternarif tidak bekerja, saya beralih ke medis."

Ia tak mau hanya mengasihi atau meratapi diri sendiri. Ia menerima penyakit dan menjalani pengobatan demi kesehatannya.

Dalam kesempatan yang sama, dr Samuel J Haryono, Sp.B(K) Onk dari Rumah Sakit Kanker Dharmais mengatakan, sebagai perempuan harus lebih waspada dengan berbagai macam penyakit.

Salah satunya kanker payudara. Karena kanker ini dapat menyerang usia produktif (30-45 tahun) hingga usia lanjut atau biasa disebut cancer age.

"Penyebab kanker payudara multifaktorial, tidak ada sebab khusus, tapi risk faktor-nya bisa dari hormonal, genetik, lifestyle, dan ini masih jadi suatu studi," jelas Samuel.

Deteksi dini dengan melakukan Periksa Payudara Sendiri (Sadari) juga harus dilakukan, terlebih jika ada riwayat keluarga yang terkena penyakit tersebut bisa memeriksakan dengan mamografi.

Tetapi tak berarti jika kita tak memiliki riwayat kanker payudara akan bebas dari penyakit ini. Karena gaya hidup tak sehat turut berperan.
Sedangkan untuk pengobatan, Samuel mengimbau pasien sebaiknya melakukan pengobatan secara medis.

Hal ini dilakukan untuk mengobati penyakitnya hingga ke akarnya, semakin cepat ditangani, semakin cepat pula dipulihkan, dan memakan biaya sedikit.

"Pengobatan alternatif atau herbal, menurut peraturan Kemenkes sebagai complementer atau penambah saja," lanjutnya.

Pengobatan alternatif tidak dapat digunakan sebagai obat utama, tetapi sebagai pendamping. Sementara itu, pencegahan sederhana yang bisa dilakukan adalah menjaga pola hidup.

Dengan mengonsumsi makanan gizi seimbang, istirahat cukup, hindari merokok, dan alkohol, serta minimalisir stres. "Rekomendasi WHO simple, kita jangan gemuk-gemuk," tandasnya.

BACA JUGA:

Sumber: TribunJakarta
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved