Minggu, 7 Juni 2026

AI Jadi Teman Curhat Hingga Ngobrol Tengah Malam, Psikiater Ingatkan Soal Bahaya Sosial

Fenomena ini semakin mudah ditemui. Mulai dari meminta saran soal percintaan, pekerjaan, kesehatan mental, hingga sekadar mencari teman ngobrol malam.

Tayang:
Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
Pexels
TEKNOLOGI AI - Ilustrasi kecerdasan buatan diunduh dari situs bebas royalti Pexels. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kehadiran artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan kini tak lagi sekadar dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan atau mencari informasi. Bagi sebagian orang, terutama anak muda, AI mulai mengambil peran baru sebagai teman bicara, tempat bertanya, hingga ruang untuk mencurahkan isi hati.

Baca juga: Indonesia Perlu Bangun Kedaulatan Teknologi, Antisipasi Perang Siber dan Ketergantungan AI Asing

Fenomena ini semakin mudah ditemui. Mulai dari meminta saran soal percintaan, pekerjaan, kesehatan mental, hingga sekadar mencari teman ngobrol saat tengah malam, chatbot berbasis AI perlahan mengisi ruang yang sebelumnya banyak ditempati oleh interaksi antarmanusia.

Bahkan, tidak sedikit orang yang mulai merasa nyaman menghabiskan waktu sendirian selama berhari-hari karena merasa tetap memiliki “teman” untuk diajak berbicara melalui layar.

Meski perkembangan tersebut dianggap sebagai bagian dari kemajuan teknologi, dokter spesialis kedokteran jiwa RSUD Bung Karno Surakarta, dr Dede Rus Muchamad, Sp.KJ, mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya tetap membutuhkan hubungan sosial yang nyata.

Menurut dr Dede, kemajuan teknologi memang menjadi sesuatu yang sulit dihindari. Namun, di balik semua perkembangan itu, ada kebutuhan dasar manusia yang menurutnya tidak akan berubah.

"Bagaimanapun juga, yang namanya manusia itu kan mahluk sosial. Ya, makhluk sosial. Dia perlu sosialisasi, untuk mengembangkan eksistensinya, kemanusiaannya," ungkapnya dalam program Health Talk yang diselenggarakan di kanal YouTube Tribun Health, Jumat (5/6/2026).

Ia mengaku sulit membayangkan apabila suatu saat seluruh kebutuhan emosional manusia sepenuhnya bergantung kepada AI.

"Saya pikir, dengan ada walaupun ada sekarang teknologi AI, yang bisa menggantikan, katakanlah, peran manusia ya, dalam hal berkomunikasi, tapi saya kira, tidak akan menggantikan itu," imbuhnya.

Tidak Lagi Terasa Sepi

Perkembangan AI membuat sebagian orang kini mulai merasa bahwa kesendirian bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Keberadaan chatbot yang selalu tersedia membuat banyak orang merasa tetap memiliki ruang untuk berbicara kapan saja.

Baca juga: Fraud Berbasis AI Melonjak, Industri Pembayaran Digital Didorong Perkuat Sistem Keamanan

Namun menurut dr Dede, kondisi tersebut perlu dicermati karena manusia tidak hanya membutuhkan jawaban atau respons, tetapi juga membutuhkan hubungan sosial yang sesungguhnya.

Ia menilai, apabila suatu saat manusia benar-benar menggantikan hubungan sosial dengan interaksi bersama AI, dampaknya justru bisa berbahaya. "Kalaupun iya bisa, itu akan menjadi bencana, akan menjadi disaster," tegasnya.

Meski demikian, dr Dede menegaskan dirinya bukan pihak yang anti terhadap perkembangan teknologi. Baginya, AI tetap memiliki manfaat besar selama ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti hubungan manusia.

Menurut dr Dede, sejak dulu teknologi selalu hadir dengan dua sisi yang berjalan beriringan: membawa kemudahan sekaligus menghadirkan tantangan baru.

"Teknologi itu selalu seperti itu. Ada positifnya, ada negatifnya," ujarnya.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved