Elpiji di Bandung Kembali Langka
Kelangkaan elpiji ukuran tiga kilogram mulai terjadi di tingkat eceran di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG -- Kelangkaan elpiji ukuran tiga kilogram mulai terjadi di tingkat eceran di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung. Beberapa warga di Kecamatan Paseh pun harus membeli gas hingga keluar kecamatan. Kelangkaan mulai terjadi sejak beberapa hari lalu.
Uneh (47), warga RT 1/5 Kampung Cihampelas, Desa Sindangsari, Kecamatan Paseh, mengaku membeli gas di agen yang ada di wilayah Kecamatan Ibun lantaran takut kehabisan stok.
"Karena di beberapa kios yang ada di desa dan di kampung habis. Saya pun pakai ojek beli gas ke daerah Panggilingan. Karena di sana ada agen yang masih punya stok," ujarnya ketika ditemui Tribun, Senin (17/12/2012) siang.
Meski harus membeli di luar kecamatan, Uneh menyebut, harga elpiji tabung tiga kilogram ini masih wajar. Untuk satu tabung, ia membeli dengan harga Rp 14 ribu. Sedangkan di kios tempat biasa membeli, Uneh membeli dengan harga Rp 15 ribu per tabung.
"Kabarnya di beberapa kios yang menjual gas eceran di Paseh sudah empat hari ini belum dikirim barang. Karena itu banyak warga yang membeli di luar kecamatan," ujar Uneh.
Hal senada juga dikatakan Dayat Sudiyat (57), warga RT 1/1 Kampung Cihaneut, Desa Sukamukti, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Senin (17/11/2012). Pedagang kelontong ini menyebutkan sudah tiga hari ini tidak menjual tabung gas tiga kilogram lantaran tidak ada yang mendistribusikannya.
"Memang sudah banyak warga kampung di sini menanyakan tabung gas tiga kilogram di kios. Tapi stoknya memang tidak ada," ujar Dayat ketika ditemui Tribun di kiosnya.
Menurut Dayat, kelangkaan itu tak pelak membuat warga harus membeli di kios di luar kampung. Atau bahkan warga langsung membelinya di agen yang ada di wilayah Majalaya.
"Kalau saya beralih ke gas merek yang lain akibat tidak ada stok. Sebab saya juga jualan gas merek lain. Stoknya pun masih banyak sehingga tak perlu repot mencari ke luar," ujar Dayat.
H Agus (57) warga RT 4/3 Desa Rancaekek Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, pun mengatakan hal yang sama ketika ditemui di Pasar Wahana, Kecamatan Rancakek, Senin (17/12/2012). Menurutnya di tingkat eceran sudah mulau sulit didapat dalam dua hari terakhir ini.
"Kalau pun ada yang punya stok, harganya biasanya naik sekitar Rp 500-Rp 1.000. Karena dua minggu yang lalu harga gas tiga kilogram masih standar dengan harga Rp 13.500," ujar pedagang daging sapi di Pasar Wahana itu.
Menurut Agus, kelangkaan itu diduga karena sebentar lagi akan merayakan hari raya Natal dan tahun baru. Apalagi tersiar kabar akan terjadi kenaikan harga setelah pergantian tahun nanti. "Kalau sudah keterlaluan, langka dan mahal, biasanya masyarakat beralih menggunakan kayu bakar. Sebab, kelangkaan ini kerap dimanfaatkan penimbun. Namun sejauh ini di pasar masih jarang yang membeli kayu bakar," ujarnya.
Sebelumnya, kelangkaan elpiji ukuran 3 kilogram sempat terjadi di wilayah Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sejak lebih dari dua pekan lalu, sejumlah pangkalan atau agen gas elpiji di Batujajar yang biasanya menjual gas elpiji mengakui kehabisan pasokan gas. Warga terus berusaha mencari di sejumlah agen gas elpiji bersubsidi di kawasan itu, tapi masih sulit ditemui.
"Sudah lebih dari dua minggu ini sulit didapat. Saya sampai harus mutar-mutar cari gas, tapi semuanya habis. Begitu juga di sejumlah pangkalan. Padahal biasanya tidak seperti ini," ujar warga Batujajar, Mimin (46), saat ditemui di kawasan Jalan Raya Batujajar, Rabu (12/12/2012) sore.
Ia mengaku tidak mengetahui penyebab pasti kelangkaan gas elpiji tersebut. Namun, kata dia, di sejumlah warung pengecer pun kini gas elpiji memang sangat sulit untuk ditemui sejak akhir November lalu. Untuk memperoleh gas guna keperluan memasak sehari-hari, ia mengaku harus membelinya ke desa lain.