Rupiah Melemah, Harga Obat Berpotensi Naik
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mulai memukul industri farmasi yang 90 persen bahan bakunya diimpor dari luar negeri.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar mulai memukul industri farmasi yang 90 persen bahan bakunya diimpor dari luar negeri. Hal itu menyebabkan, sejumlah produsen obat-obatan dipastikan akan menaikkan harga jual produknya pada tahun depan.
Darodjatun Sanusi, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Farmasi, mengatakan ketika rupiah kian melemah, biaya impor pun bertambah. Alhasil, rencana kenaikan harga obat di tahun depan pun terbuka. "Tapi akan dilakukan hati-hati," ungkap dia seperti dilansir Tribunnews dari KONTAN akhir pekan lalu.
Dia menjelaskan, komponen harga obat antara lain bahan baku, biaya pengolahan, biaya kemasan, biaya distribusi, biaya pemasaran serta biaya administrasi. Namun, biaya bahan baku menyumbang 25 persen-30 persen dari total beban keseluruhan. "Industri farmasi memperoleh 90 persen bahan baku dari impor," kata Darodjatun.
Pasokan bahan baku impor dari China sebanyak 75 persen, India 20 persen, dan sisanya Eropa.
Darodjatun belum bisa memproyeksikan berapa besar kenaikan harga obat pada tahun depan karena tergantung strategi bisnis setiap perusahaan. Biasanya, sebelum menaikkan harga jual, perusahaan masih mempunyai pilihan lain, apalagi jika daya beli konsumen rendah.
"Jika harga obat tidak naik, perusahaan lebih memilih efisiensi bahan baku dan SDM sampai mengurangi margin keuntungan," ujarnya.
Vidjongtius, Direktur Keuangan PT Kalbe Farma Tbk, menilai pelemahan rupiah tak serta merta mengerek naik harga obat. Meski 90 persen bahan baku farmasi impor, pelemahan rupiah belum membuat harga bahan baku naik tajam.
Apalagi, impor bahan baku memakai management stock. Tapi Vidjongtius tak menyangkal perusahaan farmasi punya opsi menaikkan harga obat jika rupiah terus melemah lebih dari empat bulan.
Djakfarudin Junus, Direktur Utama PT Indofarma Tbk, menyatakan pelemahan nilai rupiah belum berdampak ke harga jual obat saat ini.
Gabungan Pengusaha Farmasi memprediksi pertumbuhan penjualan farmasi selama 2013 hanya 9 persen, atau lebih rendah dari pertumbuhan di tahun ini yang diproyeksikan mencapai 12 persen.