Kriminalitas
Tujuh Bocah Disel
Raut penyesalan terlihat jelas di wajah tujuh bocah pelaku pembongkaran rumah, saat ditemui di Markas Polsek Cileunyi,
- Bobol Rumah Mewah untuk Main Game Online
"Berdasarkan pengakuan ketujuh anak, mereka masuk melalui atap rumah yang sudah mereka jebol sebelumnya."
TRIBUNNEWS.COM CILEUNYI, - Raut penyesalan terlihat jelas di wajah tujuh bocah pelaku pembongkaran rumah, saat ditemui di Markas Polsek Cileunyi, Jalan Panyawungan, Desa Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Minggu (20//20131) sore.
Air mata bercucuran membasahi pipi mereka. Satu per satu bocah ini pun menundukkan kepala ketika bertemu orang yang belum mereka kenali. Apalagi mereka harus menginap di bui dalam beberapa hari ini. Mereka pun tak bisa menimba ilmu di sekolah masing-masing.
"Perbuatan ini sudah yang kedua kalinya kami lakukan di tempat yang sama," kata seorang bocah berinisial A (14), warga Cileunyi Wetan, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.
Ketujuh bocah yang masih berusia 12-15 tahun ini tertangkap tangan ketika membobol sebuah rumah mewah di Perumahan Vila Bandung Indah Blok A1 No 9, Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, Kamis (17/1/2013) sekitar pukul 20.00. Rumah mewah itu hanya dihuni seorang penunggu lantaran pemiliknya berada di Jakarta.
Ketujuh bocah itu adalah A (14), R (13), Y (15), F (12), J (13), C (13), dan An (13). Mereka masih tercatat sebagai siswa sekolah menengah pertama (SMP) kelas 1, 2, dan 3 di wilayah Cileunyi.
Satu dari tujuh bocah itu, yakni A, mengatakan, pencurian yang mereka lakukan itu bukan tanpa tujuan. Mereka ingin bermain game online di warung internet (warnet) yang letaknya tak jauh dari rumah yang mereka bobol. Itu sebabnya aksi pencurian dilakukan ketika sang pemilik rumah tak ada di tempat.
"Dari hasil penjualan besi dan kabel telepon, uangnya kami bagi untuk main game online," ujar A, yang mengaku tinggal hanya bersama kakak perempuannya di Kampung Manjahbeureum lantaran seorang yatim piatu.
Ketujuh bocah ini pun mengaku setiap hari mengeluarkan uang sekitar Rp 6 ribu untuk bermain game online. Bahkan beberapa di antaranya kerap bermain game online ketika jam pelajaran sekolah. "Biasanya main point blank," ujar ketujuh bocah ini serentak, yang mengaku saling mengenal di warnet tempat mereka bermain game online.
Meski ketujuh bocah ini tidak menyebutkan otak dalam aksi pencurian tersebut, A mengaku, pencurian yang mereka lakukan memang sudah direncanakan secara matang. Pasalnya, mereka menyasar barang-barang seperti kabel tembaga, besi, dan benda logam lainnya agar bisa dijual langsung ke tempat pembeli barang bekas.
Lagi pula, rumah tersebut sudah menjadi target ketiga rekannya, yakni, Y, C, dan A, pada aksi yang sama Selasa (15/1), meski hasilnya tak maksimal dan memuaskan tujuh bocah tersebut. Pasalnya aksi ketiga temannya itu hanya berhasil menggasak 1 ons kabel telepon.
"Biar cepat dijual," ujar A, yang mengaku kapok dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi jika tidak dikenai sanksi hukum menyusul umurnya masih di bawah umur.
Bocah lainnya, C, membenarkan pernyataan A. Ia mengaku hanya berhasil menggasak sebuah kabel telepon seberat satu ons dalam aksi pertamanya. Namun mereka berhasil mengambil sejumlah barang dalam aksi yang kedua kalinya lantaran sudah mengetahui situasi di lokasi.
"Waktu itu hanya mendapat Rp 4.000. Jadinya tidak kami bagi," ujar C.