Pengungsi Rohingya Temukan Keluarga Baru di Adelaide
Beberapa minggu lalu, Akram Maungkyawmin dan ibu angkatnya, Sarah Ayles, sedang duduk di meja makan di sebuah rumah di Adelaide.
Beberapa minggu lalu, Akram Maungkyawmin dan ibu angkatnya, Sarah Ayles, sedang duduk di meja makan di sebuah rumah di Adelaide.
Telepon Akram berbunyi dengan teks dari saudara laki-lakinya di Myanmar.
"Ia mengirimiku foto tentang desa kami yang terbakar," tutur Akram.
"Warga telah kehilangan semua yang mereka miliki, beberapa telah kehilangan nyawa mereka. Rumah kami telah terbakar habis."
Ada foto lain juga, yakni tentang reruntuhan yang membara dan orang-orang yang melarikan diri melalui hutan.
Bagi Sarah, ini informasi mengejutkan tentang nasib minoritas Rohingya di Myanmar.
"Akram bilang \'lihat ini Sarah, ini rumah saya\'," tutur ibu angkat Akram ini.
"Rumah itu terbakar dan desanya terbakar dan saya hanya duduk diam bersamanya ... apa yang bisa Anda katakan?."
Rohingya adalah minoritas etnis dan agama yang hidup terutama di negara bagian Rakhine di barat Myanmar.
Mereka telah dianiaya oleh pihak berwenang dan mengalami kampanye kekerasan sporadis selama beberapa dekade.
"Pemerintah dan mayoritas umat Buddha, mereka tidak menyukai kami," kata Akram.
"Ini masalah agama dan politik yang bercampur. Mereka tidak ingin orang Rohingya tinggal di Burma.”
"Mereka menyebut kami orang Bengali dan mengatakan bahwa kami bermigrasi dari Bangladesh, tapi itu tidak benar. Kami telah tinggal di Burma selama beberapa generasi."
Dengan pecahnya kekerasan terhadap Rohingya, PBB menuduh pemerintah Myanmar melakukan pembersihan etnis.