Pengungsi Rohingya Temukan Keluarga Baru di Adelaide
Beberapa minggu lalu, Akram Maungkyawmin dan ibu angkatnya, Sarah Ayles, sedang duduk di meja makan di sebuah rumah di Adelaide.
Sementara Akram menyebutnya genosida.
Suu Kyi dinilai bertanggung jawab atas konflik
Meskipun ada beberapa argumen mengenai seberapa besar kekuasaan yang dipegang pemimpin negara, yakni pemenang hadiah perdamaian Nobel -Aung Sun Suu Kyi, Akram mengatakan bahwa Suu Kyi bertanggung jawab.
"Dia adalah orang yang paling dihormati di dunia sebelum kejadian ini," sebutnya.
"Ia berjanji pada semua orang bahwa ia akan menciptakan perdamaian di Burma di antara kelompok-kelompok etnis, tapi ketika ia sudah mendapat kekuasaan, ia mengubah pikirannya menjadi sesuatu yang lain ... jadi ya, saya memintanya untuk bertanggung jawab.”
"Ia bahkan tidak menggunakan nama orang Rohingya, ia hanya menggunakan sebutan Muslim atau Islam."
Meski situasi di Myanmar begitu kompleks, hal itu menjadi alasan sederhana mengapa Akram melarikan diri dari negaranya.
"Ayah saya meninggal tahun 2008 akibat penyakit jantung dan kemudian ibu saya meninggal akibat penyakit yang sama di tahun 2012.”
"Ketika pihak berwenang menahan saudara laki-laki saya beberapa bulan kemudian, saudara saya yang lain mengambil sedikit uang yang ditinggalkan ibu saya dan mengirim saya ke Australia.”
"Mereka juga tidak ingin saya ditangkap juga."
Akram berusia 13 tahun saat itu.
Perjalanannya, baik dengan pesawat terbang maupun kapal yang dijalankan oleh para penyelundup manusia, membawanya bertualang setahun, melalui Bangladesh, Malaysia dan kemudian Indonesia.
Kapal penyelundup lain kemudian membawanya ke Pulau Christmas, di mana ia menghabiskan 12 bulan dalam tahanan imigrasi.
Tak pernah bersekolah sebelumnya
Akram yang kini berusia 18 tahun masuk ke daratan Australia dengan visa sementara dan bersekolah kelas 12 di Christian Brothers College (CBC).
"Saya belum pernah bersekolah di negara saya. Pemerintah tidak memberi saya kesempatan untuk bersekolah," akunya.