BPS: Neraca Dagang Bulan Februari 2019 Surplus Tapi Kinerja Ekspor Turun

Ekspor Indonesia ke AS dan Tiongkok masih mengalami penurunan terbesar dari Januari lalu. Masing-masing turun US$ 238,7 juta dan US$ 191,1 juta.

BPS: Neraca Dagang Bulan Februari 2019 Surplus  Tapi Kinerja Ekspor Turun
TRIBUN MEDAN/Riski Cahyadi
Aktivitas bongkar muar peti kemas dalam ada uji coba pengoperasian perdana Kuala Tanjung Multipurpose Terminal (KTMT) di Batubara, Sumatera Utara, Selasa (27/11/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis kondisi neraca perdagangan Februari 2019. Cukup menggembirakan, setelah empat bulan mengalami defisit, akhirnya neraca dagang kali ini surplus US$ 330 juta.

Kendati surplus, Kepala BPS Suhariyanto menyayangkan surplus terjadi karena impor yang alami penurunan tajam, bukan karena kenaikan ekspor. Impor tercatat sebesar US$ 12,20 miliar, turun 18,61% dari bulan sebelumnya, juga turun 14,02% dari Februari tahun lalu.

Sedangkan ekspor yang tercatat US$ 12,53 miliar juga ikut turun 10,03% dibanding bulan sebelumnya, dan turun 11,32% dari Februari tahun lalu.

"Tapi setidaknya surplus ini berita yang baik," ungkap Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (15/3/2019).

Ke depan perlu terus mendorong upaya untuk genjot ekspor. Salah satunya harus melakukan hilirisasi dengan menambah diversifikasi produk dengan nilai tambah yang dapat dinikmati dalam negeri, serta membuat produk substitusi impor, meskipun hal itu tidak mudah.

Terlebih, di tengah situasi global yang mengalami perlambatan. World Bank (WB) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari 3% menjadi 2,9%, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang ikut dipangkas. Padahal kedua negara tersebut masih menjadi tujuan utama ekspor Indonesia.

BPS menyebutkan, ekspor Indonesia ke AS dan Tiongkok masih mengalami penurunan terbesar dari Januari lalu. Masing-masing turun US$ 238,7 juta dan US$ 191,1 juta.

Sedangkan ekspor ke Tiongkok turun 25,6% secara tahunan. Dari US$ 2,06 miliar di Februari tahun lalu menjadi US$ 1,54 miliar di Februari 2019. Ke AS, ekspor Februari 2018 tercatat US$ 1,3 miliar, lalu pada Februari 2019 tercatat US$ 1,27 miliar, turun 1,13%.

Selain itu, harga komoditas juga mempengaruhi turunnya ekspor. Suhariyanto menjelaskan sepanjang Januari-Februari ini sebenarnya terjadi peningkatan volume ekspor beberapa komoditas, hanya saja penurunan harga membuat nilai ekspor terus alami penurunan.

Baca: Penangkapan Romy oleh Penyidik KPK Kagetkan Publik

Januari-Februari 2018 misalnya, nilai ekspor sawit (CPO) dan turunannya tercatat US$ 2,76 miliar. Kini malah turun menjadi US$ 2,44 miliar.

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved