Praktik Perang Tarif Masih Dilakukan Aplikator Ojol, Pemerintah Harus Campur Tangan

Strategi perang harga yang diterapkan satu perusahaan penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi dinilai mengarah pada praktik predatory pricing

Praktik Perang Tarif Masih Dilakukan Aplikator Ojol, Pemerintah Harus Campur Tangan
Warta Kota/Henry Lopulalan
OJEK DARING 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Strategi perang harga yang diterapkan salah satu perusahaan penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi online dinilai bisa mengarah pada praktik predatory pricing.

Direktur Inkubator Bisnis Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dina Dellyana mengatakan, meskipun saat ini dirasakan menguntungkan konsumen, strategi obral tarif justru malah mengancam konsumen dan mitra pengendara di masa mendatang.

Menurut Dina, jika praktik predatory pricing berhasil memunculkan satu pemain dalam satu bisnis transportasi online, maka pemerintah sekalipun akan kesulitan untuk mengendalikan harga.

Di sisi lain, pemain tunggal dalam sebuah usaha akan dengan mudah memainkan tarif karena memegang penuh kendali atas konsumen.

“Kondisi ini akan berimbas pada konsumen. Publik yang tadinya terus dimanja dengan tarif murah, seketika akan dihadapkan dengan tarif tinggi karena perusahaan penyedia jasa suatu saat juga harus mengembalikan investasi yang ia terima,” kata Dina dalam siaran pers yang diterima, Jumat (15/3/2019).

Lebih lanjut, Dina menjelaskan, predatory pricing menjadi salah satu strategi untuk menekan harga produk serendah mungkin supaya dapat menyingkirkan pesaing dari pasar.

Strategi ini juga biasa dipakai untuk mencegah pesaing baru muncul ke dalam arena usaha yang sama.

Selain itu, perang harga juga merupakan cara berkompetisi dengan memberikan harga serendah mungkin agar salah satu penyedia jasa bisa menjadi pilihan utama konsumen.

“Predatory pricing adalah strategi mengakuisisi konsumen yang paling mudah dan cepat bagi sebuah perusahaan untuk menguasai pasar. Apalagi, dengan tipe konsumen yang ada negara berkembang seperti di Indonesia, cara tersebut dianggap paling efektif untuk menggaet konsumen,” ungkapnya.

Perusahaan yang mengawali bisnis dengan mengobral diskon, lanjut Dina, akan selamanya bergantung pada strategi tersebut.

Halaman
12
Editor: Fajar Anjungroso
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved