Polisi Jepang Tekankan Rudal Korut, Yakuza dan Kejahatan Internet

Kita berusaha mencari tahu kelemahan organisasi ini dan berusaha memperkuatnya bersama.

Polisi Jepang Tekankan Rudal Korut, Yakuza dan Kejahatan Internet
Richard Susilo
Masayoshi Sakaguchi (59) Kepala Kepolisian Nasional Jepang ke-26 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Kepala kepolisian nasional Jepang ke-26, Masayoshi Sakaguchi (59) Senin ini (27/11/2017) dalam pertemuan dengan para pemimpin polisi Jepang sekitar 160 orang di Chiyodaku Tokyo menekankan rudal Korea Utara (Korut), Yakuza dan perang terhadap kejahatan dunia maya (cyber attacks).

" Kita berusaha mencari tahu kelemahan organisasi ini dan berusaha memperkuatnya bersama. Untuk itu tiga hal utama menjadi perhatian saat ini," papar Sakaguchi siang ini (27/11/2017).

Pertama, menurutnya adalah ancaman rudal Korut di mana telah 10 kali meluncurkan rudal ke arah Jepang bahkan dua kali sedikitnya melewati kepulauan atau negara Jepang.

"Ambil langkah-langkah seperlunya dan penting guna meloincungi fasilitas umum, masyarakat saat darurat nantinya dan harus segera dilakukan guna melindungi masyarakat secara cepat."

Selain itu Sakaguchi juga meminta semua jajaran kepolisian untuk mengantisipasi perang antar geng mafia Jepang (yakuza) terutama dariu pecahan Yamagucgigumi menjadi tiga kelompok besar.

Hal ketiga yang jadi sorotan Sakaguchi adalah kejahatan dunia maya menjadikan seorang wanita Jepang yang tak bersalah salah ditahan selama 19 hari di perfektur Tokushima.

Bulan Mei 2019 terjadi laporan adanya penipuan terjadi di internet dan polisi salah menangkap orangh sehingga seorang wanita menjadi korban penangkapan selama 19 hari.

Wanita itu semula disangka melakukan penipuan penjualan tiket di internet. Uang sudah ditransfer tetapi tiket belum dikirimkan.

"Agar tidak terjadi lagi kasus seperti itu barisan dunia maya kepolisian haruslah lebih kuat lagi dalam mencari tahu sampai detil segala sesuatunya, pastikan dengan baik agar tidak terjadi lagi salah tanggap seperti itu," paparnya.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help