Viral! Sampah di Jepang Harus Bayar, Komunitas Bagi-bagi Hadiah Berkumpul

Komunitas yang baru terbentuk ini terbuka bagi siapa pun dengan syarat, tidak boleh posting yang berbau komersial jual beli.

Viral! Sampah di Jepang Harus Bayar, Komunitas Bagi-bagi Hadiah Berkumpul
Richard Susilo
Facebook Bagi-bagi hadiah di Tokyo Jepang diluncurkan akhir November 2017 ini 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sampah yang biasa kita buang begitu saja, gratis, tetapi di Jepang malah harus bayar terutama barang bekas seperti TV, Kulkas, Lemari Es.

Meringankan pemilik yang mau menyerahkan gratis kepada orang lain, satu komunitas akhirnya berdiri di Tokyo mulai Kamis ini (30/11/2017).

"Iya, sayang kan kalau barang bekas masih bisa dipakai seperti TV dibuang begitu saja, lagi pula harus bayar kalau di-sampah-kan," papar Rikako Sugamo, warga Jepang yang sangat mencintai Indonesia membentuk Komunitas Bagi-bagi Tokyo Jepang (BTJ) kepada Tribunnews.com Kamis ini (30/11/2017).

Komunitas yang baru terbentuk ini terbuka bagi siapa pun dengan syarat, tidak boleh posting yang berbau komersial jual beli.

"Kami hanya menerima postingan bagi-bagi barang yang tidak dibutuhkan seseorang, tapi orang lain siapa tahu membutuhkannya. Bukan hanya barang tetapi bisa juga buku kuno yang justru oleh orang lain mungkin membutuhkan karena tidak ada di toko buku dan tak bisa mencari di internet pula," lanjutnya.

Tentu saja barang atau buku dan sebagainya gratis. Namun pengiriman dengan ongkos kirim harus dibayar oleh si penerima dan uang kirim tak perlu dikirimkan.

"Di Jepang ada sistim chakubarai yaitu barang dikirimkan lalu saat penerima mendapatkan barang tersebut, dia membayar ongkos kirim langsung kepada si pengirim barang perusahaan transportasi tersebut. Jadi si pemberi atau si pengirim sama sekali tak menerima uang apa pun, hanya si penerima barang yang membayar ke perusahaan pengiriman barang."

Selain postingan bagi-bagi barang di Jepang yang sudah biasa dilakukanb terutama bagi para pelajar dari negara berkembang, hal ini sangat terbantu sekali.

"Misalnya saja sepeda bekas. Pelajar pulang ke negaranya, sepeda yang masih bisa dipakai dan kalau beli skeitar satu juta rupiah, bisa dipindahtangankan ke temannya gratis, daripada dibuang jadi sampah harus bayar. Tentu saja jangan lupa memberitahukan registrasi asuransi sepeda pakai nama apa atau siapa, karena polisi yang melakukan razia suka menanyakannya."

Halaman
12
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help