Terhanyut di Madura: Cerita Warga Australia Temukan Cinta di Tengah Selawat Santri
Warga Australia cerita soal Madura yang penuh cinta dan selawat. Risetnya berubah jadi pengalaman spiritual yang tak terduga.
Ringkasan Utama
Anjum Kasmani, warga Australia peserta program AIMEP 2025, menceritakan pengalaman menyentuh saat melakukan riset seni musik Islam di sebuah pesantren tua di Madura. Ia mengaku terhanyut dalam suasana penuh cinta dan keyakinan, yang jauh melampaui ekspektasinya sebelum berangkat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Anjum Kasmani, satu dari tujuh warga negara Australia yang mengikuti program Pertukaran Muslim Australia-Indonesia (AIMEP) 2025, membagikan pengalamannya saat melakukan riset kebudayaan Islam di Madura.
Ia mengaku terhanyut dalam suasana spiritual yang mendalam saat mengunjungi sebuah pesantren berusia 315 tahun.
“Ya, saya sedang melakukan riset. Jadi, riset yang saya lakukan di Madura itu terkait praktik hadrah, selawat, dan maulid di Indonesia, khususnya di daerah Madura, khususnya pesantren,” ujar Anjum kepada Tribunnews.com di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (19/9/2025).
Selama dua hari berada di pesantren tersebut, Anjum merasakan atmosfer yang menurutnya penuh dengan cinta dan harapan. Ia menyebut tanah Madura sebagai “tanah keyakinan” yang membuatnya larut dalam lantunan selawat dan doa para santri.
“Dan bumi itu penuh dengan selawat. Ini (Madura) adalah tanah keyakinan, tanah cinta, tanah mereka yang membaca dengan sepenuh hati dan penuh harapan. Sungguh luar biasa. Saya merasa seperti perlahan-lahan terhanyut dalam suasana Madura,” ungkapnya sambil tersenyum.
Pengalaman itu, menurut Anjum, sangat di luar dugaan. Sebelum berangkat, ia sempat mendapat komentar skeptis dari orang-orang yang mempertanyakan keseriusannya meneliti di daerah terpencil.
“(Perasaan penuh cinta) itu tidak saya duga karena itu di dalam Madura, di desa, dan semua orang sebelumnya mengatakan 'Bagaimana kamu bisa sampai di sana?',” katanya.
Baca juga: Kisah 3 Dosen WNI Bertahan di Tengah Kepulan Asap dan Sirine di Nepal, Bak Dijaga Malaikat
Namun, perjalanan itu justru berjalan lancar. Ia bahkan diundang langsung oleh pimpinan pesantren, Nyai Ita Fatuli, untuk berkunjung.
“Subhanallah, Allah membuat perjalanannya begitu mudah, dan juga saat di sana, walaupun hanya dua hari, tetapi saat itu rasanya seperti sudah dua minggu. Madura adalah tempat yang sangat istimewa,” ujarnya.
Anjum menyebut riset di Madura sebagai pembuka dari keseluruhan rencana penelitiannya.
Ia mendapatkan rekomendasi dari teman-temannya di Indonesia untuk memulai dari Pulau Jawa, sebelum akhirnya terbang ke Madura.
“Kami diberitahu bahwa Pulau Jawa adalah tempatnya ketika Anda ingin melihat Islam di Indonesia. Dan saat di Jawa, kami mendapat undangan dari Nyai Ita Fatuli untuk mengunjungi pesantrennya,” pungkasnya.
Program AIMEP 2025 sendiri berlangsung dari 15 hingga 26 September, melibatkan tujuh pemimpin muda Muslim Australia dan 12 delegasi Indonesia. Mereka mengikuti kursus daring selama lima minggu sebelum melakukan kunjungan langsung ke masing-masing negara.
Baca juga: Indonesia–Polandia Teken Perjanjian MLA: Langkah Strategis Berantas Kejahatan Lintas Negara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Anjum-Kasmani-warga-Australia-peserta-AIMEP-2025-saat-ditemui-di-Masjid-Istiqlal.jpg)