Shinkansen Jepang Pasang Sensor Khusus Pendeteksi Keretakan Kerangka Besi Tumpuan Roda

Japan Railways memasang alat deteksi sensor khusus guna mengetahui adanya keanehan terutama keretakan besi atau keanehan lain pada bagian kerangka.

Shinkansen Jepang Pasang Sensor Khusus Pendeteksi Keretakan Kerangka Besi Tumpuan Roda
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo/NHK
Alat sensor pada tumpuan roda Shinkansen untuk deteksi adanya keanehan keretakan besi dan sebagainya. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Peristiwa keretakan kerangka besi pada as roda shinkansen Tokaido Desember tahun lalu membuat pihak Japan Railways (JR) semakin hati-hati dalam hal keamanan.

Mulai Jumat (1/6/2018) lalu Japan Railways memasang alat deteksi sensor khusus guna mengetahui adanya keanehan terutama keretakan besi atau keanehan lain pada bagian kerangka roda bawah shinkansen.

"Kita mulai memasang sensor tersebut sejak Jumat lalu baik perangkat keras maupun perangkat ringan (soft) pada shinkansen. Sehingga bisa mendeteksi secara awal apabila adanya keanehan pada saat shinkansen bergerak atau beroperasi nantinya," kata sumber Tribunnews.com, Minggu (3/6/2018).

Baca: Mahasiswa hingga Dekan Universitas Riau Kaget Tiba-tiba Kampusnya Digeledah Densus 88

Kereta api peluru (Shinkansen) Tokaido Desember 2018 sempat mengalami keretakan pada kerangka as roda bawahnya, sehingga dianggap sangat membahayakan perjalanan Shinkansen dan sempat terdeteksi (ketahuan) saat berhenti di Nagoya dari Tokyo.

Setelah itu penumpang berganti kereta Shinkansen karena kereta sebelumnya dianggap membahayakan.

Keretakan besi as bagian roda tersebut tidak diketahui sejak awal.

Hal itu baru diketahui di tengah perjalanan saat seorang penumpang memberikan informasi mendengar sesuatu yang aneh, sehingga langsung dilakukan pemeriksaan dan ditemukan di Nagoya.

Baca: Kalau Ada Dengar Kabar Buruk Jangan Terkejut Berulang Kali Diucapkan Istri Pendeta Henderson

Dengan alat sensor baru ini, dipasang pada tepian rel kereta Shinkansen dan juga pada as kerangka shinkansen.

Data awal keanehan diharapkan dapat segera terdeteksi sehingga antisipasi Shinkansen dapat lebih cepat lagi menangani sesuatu yang ditemukan terdeteksi tidak wajar.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help