Bantuan Bagi Penderita Kusta Indonesia Dari Pengusaha Jepang Tapi Sering Terhambat di Daerah-daerah

Berkenalan dengan Indonesia sejak ayah saya dengan Presiden Soekarno dulu dan setelah meninggal

Bantuan Bagi Penderita Kusta Indonesia Dari Pengusaha Jepang Tapi Sering Terhambat di Daerah-daerah
Richard Susilo
Yohei Sasakawa, Chairman Sasakawa Foundation dan Chairman Nippon Foundation 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, Tokyo - Prestasinya membantu Indonesia luar biasa besar. Setidaknya di bidang pendidikan dan membantu pemerintah Indonesia senilai 17 juta dolar AS telah dikeluarkan sejak tahun 1980. Namun ayahnya berkenalan dengan Indonesia sejak Presiden Soekarno.

"Berkenalan dengan Indonesia sejak ayah saya dengan Presiden Soekarno dulu dan setelah meninggal saya yang melanjutkan membantu Indonesia di berbagai bidang," papar Yohei Sasakawa Chairman Sasakawa Foundation dan Chairman Nippon Foundation, khusus kepada Tribunnews.com hari Rabu ini (13/6/2018).

Kedua yayasan raksasa di Jepang itu rasanya tak ada orang Jepang yang tak pernah mendengar namanya, terutama di bidang pendidikan dan kesejahteraan sosial. Bahkan juga terlibat membantu banyak intelektual Islam, termasuk pernah mengundang Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE dan Gubernur DKI Jakarta H. Anies Rasyid Baswedan, Ph.D ke Tokyo belum lama ini.

"Saya jug amembantu penderita kusta di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak hingga kini," tekannya lagi.

Jumlah penderita kusta di dunia ada 1,2 miliar orang menurut badan kesehatan dunia WHO dan tiga negara terbanyak penderita kustanya adalah Indonesia, India dan Brazil, "Hanya Brazil saja saya belum sentuh," ungkapnya lagi.

Bantuannya kepada India bahkan sempat dilaporkan kepada Dalai Lama dan sempat "diketawain" Dalai Lama karena keinginannya memberantas kusta di India.

"Terlalu banyak penderita kusta di India tak mungkin kamu menanganinya semua. Itu ungkap Dalai Lama kepada saya. Tetapi saya terus berusaha hingga kini untuk memberantas, setidaknya mengurangi jumlah penderita kusta di India dan Dalai Lama akhirnya membukukan upaya tersebut ke dalam buku karangannya," paparnya lagi.

Upayanya di Indonesia sama seriusnya, "Saya ingin membantu Indonesia memberantas penyakit kusta di mana pun berada di pelosok Indonesia. Itu sebabnya sedikitnya 20 kali saya sudah pergi pulang ke Indonesia untuk membantu memberikan pendidikan mengenai kusta serta menyumbangkan banyak obat-obatan bagi penderita kusta di Indonesia."

Meskipun demikian tidak sedikit hambatan bantuannya kepada Indonesia tersebut seperti dicurigainya membawa banyak obat anti kusta itu untuk maksud lain, belum lagi yang minta imbalan sana-sini. Padahal niatnya sangat mulia untuk mensejahterakan rakyat Indonesia, khususnya membantu memberantas kusta di Indonesia.

"Di sebuah tempat di Indonesia kita sudah janjian dengan Gubernurnya untuk bertemu. Lalu menunggu satu jam 20 menit belum juga datang sehingga pertemuan akhirnya dibatalkan. Padahal kita datang khusus dari Jepang perjalanan tujuh jam pesawat terbang plus perjalanan dalam negeri Indonesia beberapa jam, akhirnya gagal bertemu Gubernur meskipun sudah dijanjikan tanggal hari dan jam dan kita tepat datang. Namun setelah beberapa kali akhirnya ya ketemu juga dengan Gubernur tersebut," ceritanya yang menekankan mungkin sang Gubernur sangat sibuk sekali, "Kita tak boleh marah menghadapi perlakuan demikian, ya mungkin Gubernurnya sangat sibuk sekali ya harus mengertilah," tambahnya.

Upayanya terberat membantu para penderita kusta di Indonesia adalah dengan mencari sendiri sasmpai ke pedalaman, desa dan kampung para penderita tersebut.

"Susah mendapatkan mereka karena ada anggapan bagi penderita kusta sendiri bahwa penderitaannya karena kutukan Tuhan. Itu jelas tidak benar dan sangat salah. Akibatnya mereka malu ke luar malu mengidentifikasi dirinya sebagai penderita kusta dan malah tambah buruk dampaknya," paparnya lagi.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help